Marwa 2

14.5K 1K 25
                                    

Kabut langit Amsterdam sore itu berkabut. Sejumput ufuk merah bersembunyi dibalik pekatnya kelabu sang kabut mengelabui tatap mata insan yang berburu senja.

Seorang gadis duduk di sebuah sudut gerai yang sering dikunjungi khalayak saat sore seperti ini.

Menanti surat resmi sebagai warga Indonesia untuk kepulangannya esok hari ke tanah air, Marwa Dewangga Linggar mengisi waktunya dengan hal berguna.

Baru beberapa menit yang lalu ia menghubungi Marsya Gallio Diraja yang tak lain adalah ibunya yang berada di Jakarta. Perbedaan waktu membuat Marwa harus mematikan sambungan telepon. Ketika dirinya syahdu menikmati senja, sang ibu di sana sedang lelap dalam mimpi.

Seseorang menghampiri Marwa, menyapanya dalam bahasa inggris dengan dialek Indonesia yang kental.

Marwa sedang menikmati kesendiriannya. Wanita itu sedang tidak mau diganggu. Sengaja pergi sendiri tanpa mengajak dua orang sahabatnya.

Busana yang dikenakan Marwa masih dalam batas formal. Celana panjang dengan kemeja lengkap dengan jaket berbulu tebal. Syal hanya sebagai pemanis yang diikat pada clutch. Yang berbeda adalah warna rambutnya. Karena ingin pulang ke Indonesia, ia merubah sedikit warna rambutnya dari hitam legam menjadi sedirit pirang.

Menjelang malam suasana semakin ramai. Marwa menuntaskan masa senggangnya tepat ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Di mana?

Marwa akan membalas nanti. Ia harus pulang dulu ke apartemnennya.

Aku kangen.

Tidak benar, tapi Marwa menikmatinya. Hubungan seperti apa? Cukup sebagai informasi awal jika Marwa masih perawan dan tidak pernah menyentuh lelaki manapun.

Nyaman? Mungkin. Bagaimana dengan cinta? Setelah membuat jarak mungkin akan terjawab.

Karena Marwa tidak pernah mengeja kata itu dalam hatinya.

Arya Daniswara, seorang jaksa ternama memiliki karir cemerlang sama seperti dirinya.

Berawal dari mana kisah keduanya? Hubungan yang tak sampai atau dengan kata lain, Arya harus menikahi Dinaya karena perjodohan yang diinginkan orang tuanya.

Marwa mencintainya? Tidak. Sahabat, mungkin itu kata yang tepat. Letak salahnya adalah ketika mereka lupa kedekatan dua manusia dewasa tidak luput dari kata emosi.

Khilaf? Tidak. Maka dari itu Marwa akan mengakhirinya tanpa menerima tuntutan apapun.

"Jadi berangkat besok?"

Apakah lelaki itu ingin menghabiskan malam ini untuk yang terakhir kalinya?

Keinginan menghempaskan diri di kasur urung dilakukan ketika melihat Arya sudah berdiri di depan pintu apartemennya.

"Aku tidak punya bahan malam ini." bukan mengelak, Marwa berkata jujur.

Kening lelaki berusia 32 tahun itu mengkerut. Tidak aneh, tapi ia merasa Marwa sedang tidak ingin diganggu. Bisa dimaklumi jika wanita itu masih berada di sini esok hari. Kenyataanya, ini malam terakhir lelaki itu melihatnya.

Marwa yakin, malam ini terakhir kali ia membawa masuk lelaki itu ke apartemennya.

"Naya ke mana?"

"Shift malam."

Sesama wanita karir, Marwa memahami kesibukan Dinaya, istri Arya.

"Aku mau bicara." sebelum melihatmu terbang. Dalam hati, Arya tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. "Santai seperti saat dulu kita bercengkrama."

Saat itu, belum ada Dinaya. Wajar jika mereka bercanda ria melupakan batas diri. Karena belum ada hati yang perlu dijaga.

"Aku akan mendengar." Marwa menyandarkan kepalanya di sofa. Matanya terpejam. Ia tidak menyadari pergerakan Arya.

Setiap bertemu dengan Arya, ia selalu merasa bersalah. Tapi tak bisa menolak ketika Arya datang mendekat.

"Ke mana?" tanya Marwa ketika mendengar suara pintu terbuka.

"Tidurlah." datar wajah Arya tidak enak untuk dipandang. Ini salah satu kelemahan Marwa. Hampir sepuluh tahun bersama, keduanya sudah mengenali satu sama lain.

Mendekat ke arah pintu, Marwa menarik kemeja dongker yang dikenakan Arya. "Masuk."

"Keberadaanku sangat mengganggu." berat, tapi Arya harus mengerti inginnya wanita yang dicinta dalam diam.

Marwa tahu jika Arya tersinggung. Ingin membiarkan, rasanya tak tega. Berlari kencang, Marwa mengejar langkah Arya.

"Apa aku harus terlihat gila di depanmu?"

Arya tidak menjawab. Kakinya terus melangkah menjauh seperti yang diinginkan Marwa dan Marwa berhasil menarik lengan lelaki itu. Nafasnya terengah menuruni tangga. Salah satu alternatif ketika Arya sedang merasa tidak baik, maka akan dilampiaskan pada energinya.

"Mau-mu apa?" tanya Marwa menatap wajah Arya. Berdiri di depan laki-laki itu, bukan hal yang bagus. Marwa tahu resikonya. Karena berulang kali Arya memperingatkan agar Marwa tidak menantangnya.

"Kembali ke kamarmu."

Marwa menggeleng. "Kita sama-sama bernaung dibawah kelembagaan peradilan, apakah pantas menyandang jabatan terhormat itu?"

"Salah kan? Aku meyuruhmu masuk."

"Apakah moral kita sudah diracuni?" Marwa sedikit mendongak untuk mengetahui arti tatapan Arya.

Tentang Arya, keluarga dan rumah tangga laki-laki itu Marwa mengetahui semuanya. Tidak ada yang terlewatkan.

"Kamu tidak meminta apa-apa, tidak ada yang membuatmu ternoda."

Ada sesak dalam kata-kata Arya.

"Katakan mau-mu sekarang." Marwa tidak memaksa, tapi ia ingin mendengar sebelum melepaskan tali yang terlanjur terikat dan enggan terputus.

Dua pasang mata itu beradu memaknai jalan pikir yang sudah menemui muaranya. Muara yang telah dibatasi dengan sebuah akad.

Perlahan, Arya meraih rahang putri sulung Dewangga Linggar dan menciumnya dengan lembut. Arya menyalurkan sebongkah rindu yang mungkin akan disesalinya nanti.

"Lakukan apapun yang menjadi keinginanmu." serak suara Arya. Marwa menyaksikan air di sudut mata lelaki itu. "Bahagilah di sana."

Lelaki itu diinginkan oleh banyak wanita namun karena orang tua ia memilih satu orang wanita. Lelaki itu memiliki cinta, tapi karena orang tua ia melepaskan cintanya. Dan Marwa menjadi saksi untuk sejarah hidup lelaki itu.

Menikah tapi tak pernah bersentuhan. Tujuan akad sudah jelas dari awal. Asal muasal yang sangat tidak bagus.

Kini, Marwa benar-benar terhempas. Berkali-kali mengeja kata maaf dalam hatinya. Caranya membuat Arya kehilangan kepercayaan diri.

Sudahkah selesai antara mereka?

Sudah berakhirkah kesalahan setelah ciuman pertama yang diberikan Arya?

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang