Marwa

10.3K 790 34
                                    

Merc Company, perusahaan terbesar dan penuh sejarah yang saat ini masih berdiri kokoh. Ada perjuangan sang kakek juga ibu Marwa di sana.

Dituntut untuk menjadi seorang pemimpin, Marwa siap. Ia hanya tidak menyukai bidang sama yang digelut oleh kedua orang tuanya. 

Sudah digadang-gadangkan, bahwa dirinyalah yang akan menduduki kursi orang nomor satu di Merc Company. Semua keputusan ada ditangan Marwa. 

Seperti tawaran pada pertimbangannya pada Marsya, jika ia akan menjabat hingga salah satu adiknya layak menduduki posisi itu. Tentu hal tersebut merupakan kabar menggembirakan bagi Marsya juga Dewa. 

Sebelum mendatangi perusahaan, terlebih dahulu Marsya mengenalkan sekretaris kepada putrinya. Wanita yang juga  merupakan salah satu karyawan kompeten di Merc Company bernama Rasita Gunawan. 

Wanita berusia 35 tahun sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak. Rasita Gunawan sudah bekerja sembilan tahun di Merc Company.

Usai pertemuan itu, Marwa memberikan profilnya kepada Rasita. Lusa adalah acara pelantikan dan Rasita sudah memegang data lengkap atasannya.

"Lama-lama kamu  enggak akan suka profesi lamamu."

"Putri Ayah punya prinsip." Marwa membela diri.

Dewa terkekeh. "Karena permintaan Ibumu kau kesampingkan prinsip itu."

Mendengar ucapan suaminya, Marsya tersenyum.

"Ini perjanjian hitam di atas putih." saat mengatakannya, mata Marwa menatap sang ibu. Jelas, senyum ibu empat anak itu semakin lebar.

Tidak sulit untuk menekuni bidang bisnis. Apalagi wanita se-jenius Marwa. Jika dibandingkan lebih berat menjadi pengacara. Selain waktu istirahat yang tidak menentu ancaman tak kalah mengintai nyawa di setiap menit.

Marwa akan rindu masa-masa itu. "Aku akan mencari lelaki seperti Ayah dalam waktu dekat. Setelah itu akan kuberikan pada dia jabatan itu."

"Tak akan seindah kisah Ibu dan Ayah sayang," sela Dewa. Suka melihat optimisme Marwa tapi Dewa tidak ingin Marwa menyama ratakan keadaan. Harapnya tentu yang baik, namun akan ada pengorbanan untuk bahagia.

"Ayah pikir, akan ber-menantukan orang Amsterdam."

Marwa tidak terlalu mengambil hati ucapan ayahnya. Karena memang tidak ada. Jauh kuliah dan kerja di sana, ia terpikat pada lelaki Indonesia, naasnya suami orang pula.

Ia memiliki kesamaan dengan ibunya, mungkin. Tidak tertarik menjalin romansa. Dengan Arya, awalnya hanya berteman. Arya yang memulai dan memaksa sehingga keadaan mereka berubah, namun tetap nihil pada akhirnya karena orang tua Arya telah menjodohkan lelaki itu. Sekarang, Marwa sudah melepaskan diri. Tak mungkin bergelayut di bahu yang salah. Karena punggung itu telah memiliki sandarannya.

"Aku cinta orang Indonesia." 

Tawa ayahnya cukup bahagia. "Barang lokal lebih menjanjikan."

Marwa percaya. Lihat saja cinta ibu dan ayahnya. Semoga ia juga memiliki akhir kisah yang sama seperti orang tuanya.

Bahagia yang ia inginkan sederhana. Saling cinta dan menghargai. Jika dua hal itu sudah terlibat, tidak sulit menapak bersama.

Semoga yang baik disegerakan.

Saat acara pelantikan, semua yang hadir menatap takjub pada sulungnya Dewangga Linggar. Wajah baru yang akan segera masuk dalam lingkup mereka.

Bisa dilihat, jika Marwa memiliki aura kuat dalam kepemimpinan. Wajah datar menegaskan kesan akurat di tambah gerakan mulut dan tangan saat berbicara terkesan jika wibawa seorang Marwa Dewangga Linggar cukup sempurna.

Usai pelantikan yang memakan waktu tiga jam di salah satu hotel ternama, Marwa berkunjung ke Merc Company, melanjutkan jabatan baru yang telah diresmikan. Ditemani oleh kedua orang tua dan sekretarisnya, Marwa menapak untuk pertama kali.

Cukup Antusias sambutan dari semua karyawan. 

Ruang kerja Marwa adalah bangunan baru yang dibangun beberapa bulan lalu. Merc Company butuh kerja kerasnya, terbukti pada persiapan yang dilakukan oleh Dewa.

Hari pertama kerja sudah bisa dilihat kesibukan oleh Marwa. Tidak heran jika energi di Merc Company seakan tidak ada matinya.

"Saya akan memanggilmu jika berkepentingan." 

Rasita mengangguk dan kembali ke ruangannya. 

Kedua orang tuanya telah pulang. Pelantikan di hari senin adalah keinginan Marwa. Ia tak ingin membuang waktu merayakan dengan pesta malam.

Bekerja, waktunya merasa lebih dihargai.

Rasita kembali mengetuk pintu ruangan Marwa.

"Maaf Bu. Pak Garra datang untuk menyelesaikan profil 3D."

Secara keseluruhan, Marwa tidak menemukan kekurangan pada ruangannya. 

"Bisa saya lihat acuannya?"

Sebuah map diterima oleh Marwa. "Dari ayah saya langsung?"

"Benar Bu," jawab Rasita.

Setelah menelisik dengan teliti, Marwa menyuruh Rasita untuk mempersilahkan masuk yang bersangkutan.

"Selamat siang," sapa itu memaksa tatapan Marwa.

"Siang," jawab Marwa. 

"Saya akan langsung bekerja."

Ingatan Marwa cukup bagus. Wanita itu masih ingat ketika ibunya menasehati tante Ayu agar memperlakukan dirinya sama seperti adiknya yang lain. Marwa juga ingat ketika Ayu mengatakan jika tantenya itu tidak akan bisa melupakan ayahnya. Saat ini, ia juga tidak lupa pada lelaki yang bertugas menyempurnakan keindahan ruangannya.

"Anda tidak mengenal saya?"

Laki-laki yang mengenakan topi dan kacamata lensa bening itu berhenti sejenak mengeluarkan perkakas kecil dari ranselnya.

Posisinya sedang berjongkok dengan sebelah lutut menyentuh lantai. Harus mendongak jika ingin melihat wanita yang berdiri tepat di depannya.

"Pernah memberikan jatah minuman saya untuk anda."

Kini tatapan lelaki itu semakin menelisik. 

"Mungkin, saat itu parfum saya mengecohkan anda."

Sahabat Amel. Insting lelaki yang memiliki nama lengkap Garra Syalendra itu cepat memberi kode.

Yang sedang dikerjakan adalah salah satu ruangan orang penting Merc Company. Apakah wanita itu orang nomor satu digedung besar ini?

"Hampir terlupakan," kata Marwa sebelum berbalik dan kembali ke mejanya. 

Garra memperhatikan, tak lama ia berdeham. Anggapannya masih sama pada pemilik parfum berkelas itu.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang