Marwa

9.9K 1K 41
                                    

Di atas pudium, seorang wanita yang tak lain adalah Marwa Dewangga Linggar sedang berbicara menyampaikan orasinya yang berhubungan dengan visi dan misi perusahaan di bawah kepemimpinannya.

Puluhan pasang mata fokus mendengar dengan otak mulai bekerja keras menggarisbawahi point penting yang keseluruhannya hasil pemikiran sulungnya Marsya Gallio Diraja.

Batasan waktu untuk target perusahaan semakin tipis guna meningkatkan kinerja yang semakin efisien tanpa banyak skala waktu yang terbuang percuma. Karyawan terampil tidak merasa  tertekan karena dari sistem baru ini Marwa akan melihat karyawan yang mau bertahan bersama Merc Company.

"Kamu sudah serius di awal." Dewa menyapa putrinya yang baru saja pulang dari kantor.

"Ayah menontonku?"

Dewa mengangguk. "Merc Company di bawah kuasamu."

"Kita sudah berbicara hitam di atas putih."

Dewa tertawa mendengar nada sadis dalam kalimat putri sulungnya.

"Ibu tidak menyapaku?"

"Samperin di kamar."

"Nanti saja," kata Marwa dengan senyumnya. "Kita ketemu jam makan malam.

"Siap ibu CEO."

Oh. Marwa tidak menyukai sebutan itu.

"Aku tidak suka Yah."

"I love you," balas Dewa tak kalah semangat.

Marwa tidak mau berdebat. Ia tahu, ayah sedang mengusilinya. Bisa dilihat wajah bahagia Dewa. Hari ini Marwa sudah mencetak medali kebanggan pertama sebagai anak sulung.

Masih langkah awal, Marwa tidak harus terburu-buru. Dari pandangannya, wanita itu tahu tidak sulit menjalan Merc Company.

Berbeda standar, tapi membutuhkan keuletan yang sama. Marwa keras dan terkenal dengan tangan dinginnya. Syukurnya sisi itu tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.

"Sogok?"

"Anggap saja begitu," jawab Marsya.

Hidangan makan malam sesuai selera Marwa. Penuh, Marwa tidak akan kenyang jika hanya melihat isi meja itu.

"Mereka ngaji?"

"Siapa mereka?"

"Adik-adik." Marwa tahu jika ibunya tidak suka saat dirinya mengasingkan adik-adik.

"Eum."

"Ibu tidak mengucapkan selamat?"

"Ini sudah komplit paket selamat. Tidak terima komplain."

Dewa tersenyum melihat raut putri sulungnya. Siapa yang bisa membantah Marsya selain Marwa?

"Kurang. Es teh manis kenapa diganti wine palsu?" alias kopi cair.

Marsya tidak menjawab. Tapi Dewa yang merespons keluhan Marwa. "Wine adalah bentuk kemenangan. Anggap saja kita sedang berpesta mewah."

Marwa memijat pelipisnya. Mereka bukan keluarga kaya abal-abal kan?

"Anggap saja kita keluarga kerajaan."

Marwa tahu ayahnya masih usil. Ia tidak akan terpengaruh.

"Ayah tidak datang di hari pertamaku bekerja."

"Percayalah, Ayah akan hadir saat akadmu nanti."

"Aku tidak suka itu Ayah."

"Bisa kita mulai makan malam?" Marsya menatap bergantian wajah ayah dan anak itu.

"Dengan senang hati."

Bismillah, awal untuk malam sambutan Marwa Dewangga Linggar sebagai CEO Merc Company.

Ada harapan baru yang diinginkan Dewa dan Marsya untuk Merc Company. Tentunya, dibawah kepemimpinan putri sulungnya.

Hari yang dilewati Marwa akan berat namun tetap akan dijalaninya. Perjuangan Marsya dijadikan Marwa sebagai pengalaman berharga. Cukup melihat album kejayaan Marsya Gallio Diraja, Marwa sudah mengetahui bagaimana eksistensi ibunya di dunia bisnis. Belum lagi debut sang ayah.

Pernah Marwa bertanya, "Perlukah suatu hari aku membawa calon suami agar bisa menjalani hari yang biasa aku tekuni?"

Saat itu Dewa yang menjawab, "Lebih cepat lebih baik." karena laki-laki itu bisa menyaksikan dua orang anaknya menikah dalam waktu dekat. Adalah hal yang sangat menggembirakan seandainya harapan itu terwujud.

Baik Dewa dan Marsya tidak ragu meletakkan tanggung jawab besar di pundak putri sulungnya. Kepasitas seorang Marwa cukup menjanjikan untuk menjamin kelangsungan Merc Company. Mereka tidak memaksa hanya meminta dan Marwa mau melakukannya sesuai perjanjian.

Yang disukai Dewa dari putri sulungnya adalah, Marwa memiliki integritas tinggi yang belum terlihat pada putrinya yang lain. Sedang Marsya memiliki sisi lain yang disukai dari Marwa yaitu sikap dan keputusan yang selalu tepat ketika Marwa bekerja. Paket komplit antara dirinya dan sang suami dimiliki oleh putri sulungnya.

******

"Kenapa tidak ambil perjalanan bisnis?"

"Sedang tidak ingin jalan-jalan."

Pagi yang indah, sering dilewatkan Marsya bersama Marwa dalam waktu satu bulan selama Marwa bekerja. 

"Besok temani Wafiq ke butik. Ibu ada kunjungan calon mertuanya."

"Jadi akad bulan depan?"

Marsya mengangguk. "Akan banyak kesibukan, jaga kesehatan."

"Terutama Ibu," balas Marwa. Wanita itu melihat raut ibunya. Sangat cantik, hingga ia sendiri tidak jenuh melihatnya, apalagi sang ayah.

"Cantiknya kita sama ya Bu," celetuk Marwa.

"Ibu sedang bicara serius."

"Sama. Aku juga." karena kenyataan memang seperti itu. Lihatlah wajah keduanya, bukankah sangat mirip? Dibandingkan adik-adiknya yang lain, Marwa lebih mendominasi kecantikan dan ketampanan orang tuanya. 

"Ayah cinta banget sama Ibu, buktinya aku mirip banget sama Ibu."

Tidak ada yang aneh, tapi Marsya heran dengan tingkah Marwa malam ini. "Kamu kesambet apa gimana?"

Menggeleng, Marwa menambahkan hingga membuat Marsya kesal. "Kisah Ibu dan ayah bagusnya di novelkan."

Marsya tertegun. "Kamu sudah membacanya?"

"Romansa yang penuh intrik. Ujungnya manis. Aku suka."

Marsya menyembunyikan raut malu di depan putri sulungnya.

"Salut. Tokoh utamanya mengaku salah, tapi tak bisa melepaskan lagi."

"Sudah selesai?" tanya Marsya. Ia tidak tahu, kapan Marwa membaca catatan kecilnya.

"Belum," jawab Marwa. Mengingat halaman keberapa ia membaca sebuah kalimat. "Aku jatuh cinta. Lebih parahnya aku jatuh cinta pada suamiku. Oh Tuhan, aku jatuh cinta pada ayah Marwa." Marwa tidak tertawa saat mengutip kalimat yang dibacanya di sebuah buku saat ia pulang ke tanah air beberapa tahun yang lalu.


 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang