Marwa

9.6K 968 56
                                    

Rumah tangga yang diidamkan Marwa tak jauh dari impian para wanita pada umumnya. Laki-laki yang mencintainya dan mau berjuang bersama mengarungi bahtera. Marwa berharap Wafiq juga akan bahagia bersama pilihannya. Marwa seorang pengacara, tidak buta pada perkara perceraian. Berbagai macam kasus yang menyandung mahligai sering didapati dalam ranah hukum.

"Masih betah sendiri setelah lihat Wafiq?" Amel tidak menyangka jika adik laki-laki satunya Marwa akan segera mengakhiri masa lajangnya.

"Menurutmu?"

Amel tertawa. Hari ini ia meminta Amel datang untuk berdiskusi. Syukurnya Marwa sahabat yang baik.

"Sekarang iya. Enggak tahu besoknya," jawab Amel.

Marwa tidak menampik. Urusan jatuh cinta memang tidak mudah, sekalinya jatuh malah ke suami orang.

"Enggak milih juga sih. Asal kena, hayuk."

Amel tahu itu hanya sekedar jawaban. Buktinya, belum ada yang berkenan di hati putri sulung Dewangga Linggar tersebut sedang dirinya sudah berkeluarga.

"Yang penting mama enggak jodohin." karena Marwa sudah mewanti-wanti hal tersebut. Ia juga ingin memilih, seperti Marsya.

"Yakin mau cari sendiri?"

Marwa mengangguk. "Kadang tidak semua yang dipilih itu menjadi yang terbaik. Aku sudah kenyang dengan sidang perceraian."

Mendengar kalimat Marwa, Amel mengetuk meja dan kepalanya sehingga membuat sahabatnya tertawa.

"Kamu belum tahu rasanya punya suami, tapi udah tahu gimana rasa cerai."

"Gimana enggak tahu, orang istrinya kadang nangis di persidangan. Belum lagi selingkuhan suami datang dan menyaksikan ketukan palu dari hakim."

Mendengar hal itu, bulu kuduk Amel merinding. "Amit-amit ya Alloh."

"Sakit, sudah tentu." Marwa bisa membayangkan.

"Karena itu kamu ingin mencari yang terbaik?"

Marwa tidak membenarkan kalimat Amel. "Tidak memilih, aku percaya jodoh cerminan diri kita."

Soal itu Amel juga percaya.

 "Semoga, sebesar apapun masalah yang menimpa rumah tangga kita nanti, kita bisa  menyikapi secara dewasa."

Dalam hati, Amel mengaminkan.

"Kamu lagi?"

Amel menoleh saat mendengar suara Garra. Senyumnya merekah. "Dia salah satunya."

Marwa melihat pada sosok yang baru datang. "Really?"

Amel mengangguk.

"Mas tidak menyapa klien?"

"Aku pulang, bukan menemui klien."

Sombong sekali. Marwa tidak berharap disapa oleh Garra. Urusan mereka di kantor sudah lama selesai.

"Kelihatannya, anda tidak menyukai saya." karena terbiasa berbicara terus terang jadinya wanita itu mengatakan hal sebenarnya. 

Garra harus menghentikan langkahnya, saat mendengar ucapan Marwa.

"Apakah setengah penduduk di muka bumi ini harus menyukaimu?"

"Apa maksudmu?" Marwa tidak punya musuh selain lawan kliennya. Dan selama di Indonesia wanita itu belum sekalipun menangani kasus.

Garra pernah memiliki seseorang, sama hebatnya mungkin dengan Marwa. Garra ragu, jangan-jangan sikap seseorang itu juga sama seperti Marwa. Dari pada berdebat dengan mantan kliennya, Garra memilih pergi dari hadapan sahabat adiknya.

"Istrinya ngebet cerai, dia enggak mau. Kasihan anak-anak."

"Alasan gugatan?"

"Pil."

Marwa mengangguk. Bukan tidak ada kasus perceraian di luar negeri, tapi di Indonesia kasus perceraian persis ibarat sinetron. Banyak jalan mudah, namun sering dipersulit oleh salah satu pihak.

"Harga dirinya tinggi banget," celutuk Marwa tentu dengan alasan kuat.

"Entah. Anak-anak, mas Garra lebih mempertimbangkan mereka."

"Secara sadar, dia tahu ada masalah baru yang akan tercipta."

Amel juga menakutkan itu. "Setiap mba Nella sudah berada di tengah jalan, ada saja cara mas Garra menahannya."

"Akhirnya menimbulkan kobflik baru. Selesai, tapi masing-masing menyimpan dendam." 

"Menurut mas Garra masih ada jalan. Ia hanya ingin mba Nella menunggu."

Marwa tidak berkomentar lagi. Saat Amel pamit masuk ke kamar, Garra menghampiri Marwa. 

"Untuk ukuran seorang tamu, kamu terlalu berani menilai keadaan orang."

"Anda menguping pak Garra?"

"Menurutmu pantas?"

Karena Garra bertanya, Marwa tidak sungkan menjawab. "Posisi saya ditanyakan, apakah tidak berhak memberikan jawaban?"

"Hati-hati saat bermain lidah. Saat terang, kamu hanya akan menjadi seonggok mayat."

Jika dilihat dari sudut pandang Marwa dua obrolan antara Amel dan Garra saling berhubungan. 

"Anda salah paham pak Garra."

"Saya bisa menjamin, akan sulit untuk membangun hubunganmu dengan siapa saja nanti, melihat dari caramu bersikap."

Wow. "Anda baru saja mengutuk saya pak Garra?" Marwa tidak marah. 

Wajah dingin Garra beradu dengan tatapan Marwa yang sulit diartikan Gara.

"Tidak perlu menilaimu lebih jauh," kata Garra sebelum pergi. 

Lagi, kalimat Marwa menghentikan langkahnya. "Ini pertama kalinya saya melihat laki-laki bucin."

"Apa katamu?"

"Biasanya harga diri lelaki diukur dari ketegasan, sepertinya tidak berlaku untuk anda."

Marwa bangun. Sekilas ia melihat ke arah pintu kamar Amel.

"Apa katamu?" Garra geram melihat keberanian Marwa. Wanita itu tidak berhak menilai rendah dirinya.

"Saya penasaran seperti apa wujud anda saat disanjung." Marwa harus berpamitan pada Amel sebelum pulang.

Kaki Marwa dipaksa mundur hingga punggungnya membentur daun pintu.

"Kamu penasaran sama saya?" 

Marwa tidak takut. Ia juga tidak berusaha lepas dengan cara mendorong lelaki itu. Tenang sikap Marwa memancing emosi Garra.

"Iya. Tapi tidak begitu kuat." dengan mata, Marwa mematahkan lawan. "Sebagian besar, saya sudah mengetahuinya."

Marwa tidak terpengaruh dengan tatapan yang mengintimidasi.

"Bibirmu menjelaskan semua."

"Anda sedang memuji saya pak Garra." senyum sinis Marwa mengeratkan rahang Garra. "Menuju duda, apakah memang selapar ini?"

"Kamu terlalu percaya diri."

Marwa tidak menampik. "Karena itu anda hilang kewarasan?"

Garra ingin mencekik wanita itu saat merasakan ada sentuhan kecil di dada kirinya. 

"Awas. Anda akan jatuh cinta."

Tepat. Garra membebaskan Marwa dari himpitannya.

"Anggap saja kamu sedang berada di bioskop."

Dan Garra melihat arah pandang Marwa. Sejak kapan Amel berada di sana?

"Saya menunggu telepon anda." jika Marwa tidak bisa membantu, ia akan melimpahkan pada kenalannya. "Pelayanan terbaik sesuai bayaran."

Kalimat terakhir membuat Garra dan Amel salah paham.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang