Marwa

8.6K 928 31
                                    

Pertemuan Marwa dan Garra tak pernah disengaja. Setelah seminggu yang lalu wanita itu membuat Garra bingung sekaligus kesal, sore hari ini Garra kembali melihat Marwa di sebuah caffe. Kali ini Marwa tidak sendirian. Ia ditemani oleh seorang lelaki paruh baya, namun masih jelas wajah tampannya. 

Garra tidak ingin menghampirinya, akan diperhatikan dari kejauhan gelagat wanita yang pernah sesuka hati menilai dirinya. Setelah Marwa mengalamatkan nilai untuknya, hari ini giliran Garra untuk menilai Marwa. Senyum dan gelagat Marwa terhadap laki-laki di sana masih terlihat biasa saja. Belum ada tanda-tanda dedek emesh om-om.

"Kamu memperhatikan wanita itu?"

Garra tidak menjawab. "Aku seperti mengenalnya." Garra menjawab asal saat Fary bertanya.

"Perhatiin terus, mana tahu bisa kamu gebet."

"Aku sudah punya istri." Garra tidak suka ucapan Fery.

"Kamu masih tidak mau buka mata." Fery menyudahi. Percuma berdebat hal yang sama, jika Garra sendiri tidak peduli.

Garra tidak menjawab lagi. Tangannya mengaduk pelan secangkir kopi yang masih hangat. Saat menyeruput cairan tersebut, tatapannya kembali mengarah pada Marwa. Ketika sedang asyik menatap wanita itu, Garra mendapat balasan dari Marwa. Garra tidak merasa terciduk Marwa melihat ke arahnya. Marwa tidak tersenyum, hanya menatap tidak begitu lama.

Sekembalinya fokus Marwa pada laki-laki di hadapannya, Garra bertanya pada Fery. "Menurutmu, apa yang dilakukan wanita muda dan laki-laki tua jika bertemu?"

"Dari sudut mana kamu mau aku melihatnya?"

"Jawab saja. Kita sudah dewasa."

Fery melihat wanita yang sejak dari tadi menjadi fokus sahabatnya. "Jika tentang dia, aku ragu memberi pendapat."

"Kenapa?"

"Dia terlihat wanita baik-baik. Berkelas juga."  Fery memperhatikan dengan baik.

"Apakah untuk terlihat murah harus telanjang dulu?"

Fery menggeleng. "Bukan seperti itu." rasa ingin tahu Fery memang beralasan. "Siapa dia?" Fery menelisik sahabatnya.

"Sahabat Amel." sekalipun Garra tahu jika Marwa adalah CEO sekaligus seorang pengacara, namun laki-laki itu tidak memberitahukan sahabatnya. Sejak kejadian 

hari itu, Amel sering bertanya apakah Garra memiliki hubungan dengan Marwa tanpa sepengetahuannya?

Feri tertawa. "Cantik. Kalau aku duda mungkin aku akan mendekatinya." 

Garra tidak tertarik pada ucapan Fery. "Cantik memang identik dengan wanita. Aku tidak melihat dari segi itu." karena Garra punya cara sendiri menilai wanita. Lagi pula ia bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta terlebih setelah melihat kelakuan ibu anak-anaknya.

"Aku setuju. Tidak semua wanita cantik memiliki hati yang baik." 

Garra terkejut melihat Marwa menarik kursi dan duduk di sampingnya, tepatnya di antara Garra dan Fery. 

"Kenalkan saya Marwa." mengulurkan tangannya pada Fery, Marwa memperkenalkan diri.

"Fery." 

Selanjutnya, Marwa menatap penuh pada Garra. "Adanya saya di sini, karena merasa terpanggil." Marwa tidak berbasa-basi. "Mungkin ada yang ingin anda tanyakan pak Gara?"

Jika benar, Marwa adalah sahabat Amel, se-baku ini kah sapaan mereka? Sepertinya menarik untuk disaksikan.

"Kamu terlalu percaya diri." 

"Itulah ciri khas seorang pengacara." Marwa mengatakan dengan suara rendah. "Melihat cara anda melihat saya tadi, masuk kategori kecurigaan."

Senyum Fery terbit. Benar seperti dugaannya, wanita itu bukan wanita biasa. Dari penampilan dan cara berbicara sudah menjelaskan profesinya.

"Sepertinya anda salah memilih orang untuk menjadi teman bicara."

"Anggap saja begitu." karena Marwa hanya mampir di meja Garra, selagi menunggu seseorang. "Jangan sungkan jika ada yang harus ditanyakan. Amel sudah meminta bantuan pada saya."

Mendengar kalimat Marwa, Fery ikut senang. Semoga saja mata sahabatnya terbuka agar tahu jika ibu anak-anaknya tidak lagi memiliki rasa untuknya. Wanita yang masih dipertahankan oleh Garra telah memilih lelaki lain.

"Amel tidak tahu apa-apa."

Marwa tidak menanggapi. Amel memang tidak tahu apa-apa detailnya, tapi secara garis besar seorang adik pasti akan tahu. Mata Marwa menangkap sosok seorang wanita yang telah membuat janji dengannya di cafe yang sama. Melayangkan tangan, agar wanita itu melihat ke arahnya.

"Bu Marwa?" wanita itu melihat lagi foto Marwa yang ada di layar ponselnya. Marwa memperhatikan gelagat Garra dan Fery. Tidak lama, wanita yang dikenali Marwa bernama Ibu Cah Ayuni tersebut juga terkejut melihat kedua laki-laki tersebut.

"Permisi. Tamu yang saya tunggu sudah datang. Mari Bu." Marwa profesional, bukan pura-pura tidak tahu keadaan canggung tersebut, terlebih emosi yang tiba-tiba saja dilihat dari wajah Garra.

Sepertinya, Marwa menemukan kasus menarik. Ia mengenal Garra yang tak lain adalah kakak sahabatnya sekaligus hari ini Marwa berkenalan dengan istri Garra yang menghubunginya karena ingin mengurus perceraian.

Masih di satu tempat yang sama, namun berbeda lantai. Marwa sedang mendengar keinginan Cah Ayuni agar proses perceraian kali ini bisa segera selesai. Ayuni mengakui jika rumah tangga mereka sudah lama tidak sehat lagi, setiap Ayuni menggugat Garra selalu akan merecoki. Yang sering dilakukan Garra adalah mengancam laki-laki pilihannya.

Satu tanya dilontarkan Marwa. "Apakah karena tidak cinta lagi makanya anda memilih jalan ini?"

Ayuni mengangguk. "Saya melihat banyak kekurangan darinya, dan saya tahu tidak akan bisa mengharhainya lagi sebagai suami."

Hanya sampai di sini, Marwa sudah tahu apa yang membuat Ayuni menggugat cerai Garra. Setelah menyelesaikan urusannya, Marwa mempersilahkan Ayuni pergi dan meminta menunggu telepon darinya.

"Kamu membantunya?"

Marwa mendongak kala mendengar suara Garra. "Dia seorang klien. Dan pak Garra tahu profesi saya." 

"Jangan ikut campur." Garra memperingati. "Kamu tidak tahu bagaimana arti sebuah hubungan. Kamu juga belum tahu bagaimana sakitnya seorang anak yang harus melihat perpisahan kedua orang tuanya."

"Kenapa tidak realistis saja?"

"Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami!"

"Sudah berapa tahun kalian hidup terpisah? Apakah sudah ada jalan keluar? Apakah kalian berdamai? Yang terpenting apakah kalian tahu anak-anak sering bertanya dalam diam?"

Garra sudah memperingati, terserah jika Marwa tidak mau mendengar. "Jangan libatkan dirimu jika mau baik-baik saja!" tatapan Garra tajam tapi Marwa tidak gentar. 

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang