Marwa

8.4K 843 26
                                    

Marwa geram, Cah Ayuni tidak menghadiri sidang pertamanya. Padahal semalam, Marwa sudah mewanti untuk sidang hari ini. Lantas kenapa hari ini nomor telepon wanita yang ingin menceraikan Garra tidak bisa dihubungi? Kemana Cah Ayuni, saat kediaman wanita itu juga seperti tidak berpenghuni?

Di sebuah mobil, yang terparkir tidak jauh dari mobil Marwa seorang lelaki menatap tajam ke arah mobil Marwa yang berada di depannya. Sehebat apa sepak terjang wanita itu, lelaki dalam mobil tersebut ingin tahu.

Marwa masih menunggu, karena ia butuh klarifikasi ketidakhadiran Cah Ayuni. Masih memaklumi karena ini sidang pertama, tapi tidak ada toleran jika dua kali dua puluh empat jam wanita tersebut tidak bisa dihubungi.

Adalah Garra, yang melihat dari spion Marwa jika wanita itu seperti sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Tidak lama, mobil Marwa keluar dari jalan utama masuk kediaman istri Garra. Garra mengikuti dengan mata awas pada mobil Marwa. Saking fokusnya, laki-laki itu hanya melirik sekilas saat ponselnya bergetar. Terus melaju mengikuti mobil Marwa yang masih berada di jalan komplek. Garra menjaga jarak dengan baik, agar Marwa tidak curiga. Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan sebuah gedung. Dengan teliti, Garra memperhatikan apa yang akan dilakukan Marwa di tempat itu. Belum ada tanda-tanda jika Marwa akan turun dari mobil dan Garra masih menunggu dengan sabar.

Ketika mobil itu kembali melaju, Garra mengikuti lagi sambil memperhatikan gedung tadi. Kemudian matanya kembali fokus pada mobil Marwa. Mata Garra menangkap seperti ada sosok lain dalam mobil Marwa. Bisa dilihat Garra karena kaca mobil Marwa tidak begitu gelap. Pertanyaan, kapan seseorang yang diyakini Garra adalah perempuan masuk ke mobil Marwa? Karena Garra yakin tidak melihat siapapun masuk ke mobil Marwa. Garra bisa memastikannya.

Masih mengikuti Marwa, sebuah mobil menyalip hingga Garra mengupat kasar karena harus berhenti mendadak.

Sebelum turun, Garra memperhatikan seseorang turun dari mobil yang menyalipnya. Ada yang aneh. Yang dilihat Garra, Marwa berada di mobil yang diikutinya, lantas siapa wanita yang keluar dari mobil yang baru saja hampir membuatnya kecelakaan?

Ekspresi Garra terlanjur biasa saja hingga membuat Marwa ingin menampar lelaki itu.

"Cara anda menyetir menggangu saya, pak Garra." 

"Kamu sudah bosan hidup?" Garra mencerca Marwa dengan raut dingin.

"Apa yang anda lakukan di sini?"

"Apakah ini jalan Merc Company?" Garra merasa tertantang bertemu dengan Marwa. Ia akan menyelidik siapa sebenarnya wanita itu? Kapan ia mengganti mobil? Karena Garra tidak melihat jika Marwa sama sekali tidak turun dari mobil yang diikutinya tadi.

"Mungkin saya harus berpikir untuk membelinya, agar sulit untuk anda dapatkan surat izin."

Garra mendengar nada sindiran dari kalimat Marwa.

"Menyetirlah dengan baik. Urusan anda bukan dengan saya." Marwa memperingati Garra sebelum pergi. Tentu saja Garra geram menahan marah.

Siapa Marwa bisa berbicara seperti itu padanya.  Salah jika Marwa akan menyerah. Bisa dipastikan Garra, jika Ayuni tidak akan menghadiri sidang pertama juga sidang selanjutnya.

Karena sudah berhasil membatalkan sidang, Garra kembali ke rumah. Mungkin melalui Amel, Garra bisa tahu seluk beluk Marwa Dewangga Linggar. CEO sekaligus pengacara, dua jabatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata bisa dikuasai Marwa, bukankah sebuah keistimewaan? 

Jika Garra mengetahui keistimewaan seorang Marwa maka pasti ada kelonggaran untuk sebuah hal yang istimewa. 

Tiba di rumah, Garra harus menunggu Amel. Wanita itu masih berada di kamar. Seandainya tidak ada suaminya, Garra berani memanggil Amel. 

"Aku mau bicara."

Amel yang baru keluar dari kamar, melihat ke arah kakaknya yang berdiri di ruang tamu.

"Kamu mengenal Marwa kan?"

Amel mengangguk. "Bukankah Mas juga mengenalnya?"

Bukan itu. "Sejauh apa kamu mengenal wanita itu?"

"Mas menyukainya?"

Basa-basi apa itu? "Jawab saja."

"Mas mau mendekatinya?"

"Amel!"

Amel menggerutu. "Ngobrolnya nanti saja. Aku mau buatin teh suamiku."

Baiklah. Garra akan menunggu lagi. Ia tahu adiknya sangat penurut pada suami. Berbeda dengan Ayuni. Garra ingat, hanya satu tahun Ayuni melakukan tugasnya sebagai istri, tahun berikutnya yang dilakukan wanita itu tak lagi dari hati. Semua dalam keadaan terpaksa.

Ketika Amel kembali ke kamarnya, Garra hanya disuguhi tatapan aneh oleh adiknya.

Amel tidak berlama di kamar. Kasihan Garra menunggunya.

"Sebelumnya, aku mau tanya." bagaimanapun Marwa sahabatnya. "Ada kepentingan apa sampai Mas mau nanya-nanya tentang Marwa?"

"Dia pengacara."

"Aku tahu," timpal Amel. "Lengkapnya pengacara handal di Jerman." Marwa pernah bercerita padanya. "Aku punya beberapa majalah tentangnya."

Garra tidak peduli sekalipun wanita itu wara-wiri di stasiun televisi. "Apakah dia psikopat?"

Amel tertawa membayangkan wajah cantik Marwa dituduh sebagai psikopat. 

"Aku serius Mel!"

"Marwa wanita baik-baik Mas." mungkin ada benernya jika membuka profil Marwa pada kakaknya. Mata tahu, jodoh gitu. "Mas pasti pernah dengar Ganda Gallio Diraja dan Dewangga Linggar."

Garra hanya mengenal Dewangga Linggar. Ganda Gallio Diraja hanya dikenal namanya.

"Bisa dikatakan, tidak ada yang bisa mengganggu keluarga mereka. Kemanapun cucunya pergi, pasti ada pengawal."

"Aku melihat dia selalu sendiri."

"Itu yang terlihat."

Garra tidak percaya. "Jangan halu."

"Percaya atau tidak, saat Mas sudah dekat dengan Marwa nanti juga akan kerasa."

Garrra menatap tajam adiknya. "Apa maksudmu?"

"Yah kalau nanti Mas berurusan dengannya, bakal tahu jika Mas bukan saja berurusan dengannya, tapi juga dengan keluarganya. Apalagi kalau Mas berani membuat masalah dengannya."

Garra memijat keningnya. Ia telah salah bertanya tentang Marwa pada adiknya. "Jangan sering nonton sinetron."

"Lah Mas enggak percaya?"

Sebelum Garra menjawab, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

627542xxxxxx

🪓

Apa itu? 

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang