Marwa

4.6K 525 16
                                    

Karena ingin menghargai kesendiriannya, Marwa tidak mengangkat ataupun membalas pesan yang masuk rata-rata dari teman advokat. Selebihnya dari Garra yang tak lain adalah kakak sahabatnya.

Menjelang malam masih di apartemen, Marwa menikmati siaran televisi. Film aksi biasanya bisa mengembalikan moodnya. Menonton sendiri lebih baik, Marwa bisa lebih fokus. 

Cukup dengan Amel kebersamaannya tadi siang. Marwa sudah bersyukur Amel mau datang dan mengobrol dengannya.

Lantas, bagaimana jika intercom menampilkan wajah Garra di balik pintu apartemennya?

"Ada perlu apa?"

Garra memperhatikan wajah di depannya. Sudah berapa lama? "Saya hanya mau masuk." menjawab tanpa melepaskan tatapannya pada wanita itu.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."

Tidak menyanggah lagi, Garra memindahkan tangan Marwa dan masuk ke dalam. Matanya melihat banyak cemilan di meja. 

Ini pertama kali melihat pemandangan seperti ini. Jika dulu ia sering mampir, apartemen ini seperti tidak ada penghuninya. Tidak dengan malam ini.

"Satu bulan ini, kamu menghilang."

Marwa masih berdiri, melihat punggung Garra dengan tatapan datarnya. 

"Telepon juga chat, kamu abaikan." Garra tidak peduli Marwa tidak mempersilahkannya duduk. 

"Apakah saya meninggalkan hutang?" tanya Marwa.

"Lebih dari pada hutang." Garra menjawab dengan nada rendah. Sesuatu berusaha ditahan olehnya.

Tidak berantakan, hanya saja keadaan ini membuat tanda tanya besar di benak Garra. Lancang? Tidak apa, dari pada menerka lebih baik tahu tanpa ada yang memberitahunya. Begitu Marwa meninggalkannya ke dapur, Garra membuka ponsel Marwa.

"Apa ini?"

Marwa tidak marah melihat ke layar ponselnya yang terbuka. Karena Garra hanya membuka bukan mengutak-atik benda miliknya.

"Kenapa?" 

Pose yang membuat mata Garra panas.

"Arya Daniswara? Sehebat apa laki-laki itu?"

Marwa terkejut, tapi Garra tidak tahu. "Yang pasti hanya saya yang tahu."

Tidak ada yang bisa memastikan keselamatan ponsel Marwa dalam genggaman Garra. "Kamu menikmati?"

"Anda datang untuk memastikan hal pribadi saya bapak Garra?" tanya Garra menyinggung, namun Marwa bisa mengendalikan diri.

"Apakah kamu tidak seperti yang saya pikirkan?"

Marwa tidak perlu menjawab. Sosoknya dikenal oleh banyak orang, jadi soal nilai menilai adalah hak orang-orang itu. Selama mereka tidak mengusik kehidupannya maka aman-aman saja.

Melihat keangkuhan wanita itu, sesuatu mengusik Garra. "Saya rasa, di belahan dunia manapun tidak membenarkan sikapmu sebagai perempuan."

Pose yang terlalu vulgar. Wajah Arya terbenam di bahu terbuka milik Marwa. Garra tidak sa sanggup melihat kedua kalinya meski memiliki kesempatan untuk itu.

"Dia yang membuat hatimu sekeras ini? Dia yang membuat mata hatimu buta?"

"Saya rasa anda masuk terlalu jauh." Marwa mempersilahkan Garra keluar dari apartemennya. Ia berdiam di apartemen karena ingin istirahat bukan adu emosi seperti yang diinginkan Garra.

"Sampai kapan akan melihat gambar ini? Bagaimana jika istrinya tahu? Atau coba posisikan dirimu di sana."

"Pergilah. Anda salah menceramahi orang." Marwa mematikan televisinya.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang