Marwa

4.2K 593 27
                                    

Laki-laki itu membawanya ke kamar dengan tujuan yang Marwa tidak tahu. Bicara? Mereka bukan dua orang yang sedang dekat ataupun sedang dalam masalah. Apa yang perlu dibicarakan?

Berdiri berhadapan, saling menatap dengan raut datar keduanya. Marwa menunggu, karena Garra yang menariknya ke sini, jadi ia akan mendengarkan apa yang akan dikatakan lelaki itu.

Sepuluh menit, rasanya waktu itu terbuang sia-sia. Garra belum mengatakan sepatah katapun dan Marwa tidak ingin bicara. Ia datang karena undangan ulang tahun anak Amel, bukan bertemu dengan laki-laki yang tak lain adalah mantan kliennya

"Saya akan keluar."

Barulah Garra bersuara. "Kamu tidak akan mundur?"

"Apa yang anda bicarakan?" dingin tanya itu dilontarkan Marwa.

"Berarti kamu menunggu dia datang?"

Marwa tidak pernah menganggap sebuah pertemuan. Jadi, baginya Garra hanya mantan klien yang tidak akan bisa mempengaruhinya.

"Kalian pernah berteman, kira-kira bagaimana reaksinya mengetahui suami dan sahabatnya terlibat skandal?"

"Kenapa anda terobsesi pada saya?" 

"Obsesi katamu? Mengutarakan perasaan sebenarnya disebut obsesi?" Garra bertanya balik.

"Apa yang kulakukan, dengan siapa aku berhubungan kenapa menjadi urusan anda?" 

Garra tidak akan mengelak. "Bagaimana cara Arya Daniswara mengungkapkan kata cinta?"

Satu poin ditemukan Marwa. "Anda jatuh cinta pada orang yang salah."

"Karena kamu Marwa Linggar atau karena kamu simpanan seorang hakim?"

Garra mencari informasi tentangnya?

"Mungkin tak hanya di Indonesia, namamu akan mengguncang di luar negeri bukan karena prestasi, melainkan sensasi memalukan."

Marwa tidak peduli pada anggapan lelaki itu berikut ramalan konyol. "Saya tidak bertanggung jawab pada perasaan anda." 

Apa? Garra tidak percaya kalimat angkuh itu keluar dari bibir seorang wanita. "Kamu angkuh!"

Marwa tidak marah. Ketenangannya malah terlihat angkuh di mata Garra.

"Baiklah jika ini yang kamu mau!" Garra menghubungi sebuah nomor di hadapan Marwa, mengeraskan volume sehingga wanita itu bisa mendengarkan suara dari seberang.

Jangankan terkejut, berkedip pun tidak saat Garra bicara dengan wanita yang dikenali oleh Marwa. 

"Kamu akan mengakhirinya nanti?"

Marwa tidak menjawab. Wanita itu hanya ingin keluar dari sana.

"Kamu akan tahu alasan saya melakukan ini," kata Garra menatap tepat di manik Marwa. Garra tidak bisa menebak raut wanita itu, hanya dingin seolah tak tersentuh bahkan saat ia meraih wanita itu dalam dekapan masih merasakan dinginnya bibir merah Marwa. Garra tidak bisa menahan diri, marah dan gejolak rasa itu datang bersamaan.

"Benarkan kamu wanita?" tanya Garra setelah melepaskan bibir Marwa.

"Anda melukai diri anda sendiri." Marwa mengerjap sekali. "Laki-laki seperti anda, banyak saya temukan di jalanan."

Sekali tikam, Marwa bisa memastikan jika harga diri Garra terinjak. 

Tidak peduli dari mana Garra mengenal istri Arya, Marwa hanya perlu mengatakan, "Bahkan untuk hadirnya putra mahkota, Arya punya cara sehingga tidak perlu menyentuh istrinya."

"Kamu bangga untuk hal itu?"

Siapa yang bisa menebak, siapa pula yang berani menghakimi Marwa Linggar? Sebelum hari ini siapapun tidak mau berurusan dengan wanita itu namun hari ini seseorang sedang memaksa masuk tanpa memperhitungkan resiko besar yang belum tentu siap dihadapinya.

"Setidaknya dia memiliki prinsip."

"Dia suami orang."

Marwa tahu, tidak akan bisa melepaskan diri menggunakan tenaganya untuk lepas dari Garra. Karena Garra sudah berani terlibat maka mau tidak mau laki-laki itu harus siap pada apapun yang akan dilakukan Marwa.

"Akan saya kirimkan video dengan durasi sembilan menit."

Garra memicingkan mata menatap sinis wanita yang tubuhnya masih dalam dekapan. Garra tidak menggertak karena menghadapi Marwa butuh konsentrasi dan emosi yang utuh. Cukup ia gagal mengendalikan diri, tak akan dibiarkan wanita itu melakukan apapun semaunya.

"Video apa? Kemesraanmu dengan laki-laki itu?"

Raut itu sangatlah datar, sungguh Garra ingin menaklukan putri sulung Marsya Gallio Diraja. 

"Kapal pesiar pilihan bagus. Saya menghargai waktu luang anda." Marwa melanjutkan, "Pastikan room service terbaik."

Artinya, Marwa juga menerima undangan Garra untuk bertemu dengan Arya juga istrinya dan itu tidak disukai Garra. Kalimat Marwa membuatnya marah, Garra melepaskan wanita itu. Pengacara terkenal dan disegani banyak orang namun tidak memiliki harga diri. Benarkan dugaannya pada pertemuan pertama dengan Marwa?

Saat membuka pintu kamar, Marwa tidak terkejut melihat semua keluarga Amel. Mereka terlihat salah tingkah, hanya Amel yang terlihat biasa saja.

"Apa yang kalian lakukan di sana?"

Bukan Marwa, tapi Garra yang bertanya. Kerumunan yang kompak, sepertinya mereka menguping. Hanya ibu Amel yang tidak ada di sana.

Garra masih marah, ditambah kelakuan keluarganya, sempurnalah kemurkaannya. Mengambil kunci mobil, laki-laki itu keluar dari kamar. 

"Kalau memang suka, datangin orang tuanya."

Apalagi ini? Kenapa ibunya harus bicara di depan Marwa? Garra tidak habis pikir tentang dirinya sendiri. Dia yang sangat memuja mantan istrinya kenapa bisa jatuh dalam pesona Marwa? Bahkan di saat batinnya menentang wanita yang menyalahgunakan kekuasaan.

******

"Aku tidak punya lipstik mahal." Amel menyerahkan pewarna bibir pada sahabatnya. "Dahsyat ya?" tanya Amel menggoda Marwa.

"Enggak tahu tuh kakakmu," jawab Marwa asal.

Amel tersenyum. "Kalau ketemu memang harus panas terus?"

"Mungkin," jawab Marwa. Selesai, tidak terlalu cerah, tapi cocok dengan riasannya. "Kalian nguping tadi?"

Amel mengangguk. "Aku duluan, tapi mba-ku yang lain ikut penasaran jadilah rame." Amel belum dapat kabar pasti, jadi tanpa sungkan dia bertanya. "Mas Garra bilang cinta?"

"Enggak."

"Terus ciuman itu?"

Marwa menatap sahabatnya, namun yang ditatap biasa saja. Saat ini Amel penasaran, jadi tidak ada perasaan sungkan untuk bertanya.

"Kamu membalasnya?"

"Enggak," jawab Marwa jujur.

"Ish. Tega sekali kamu," kata Amel dengan nada dibuat kesal. "Jatuhlah harga dirinya."

"Kamu sedang bicara denganku, Mel."

"Tahu. Mas Garra juga Mas-ku. Kasihan saja melihatnya."

Marwa tidak ambil pusing. "Aku langsung pulang," kata Marwa dan mengucapkan terimakasih karena Amel telah meminjamkan lipstik.

"Mas Garra sudah resmi cerai kan?"

"Kenapa? Kamu ingin memintaku jadi istrinya?"

"Aku akan sangat senang jika kamu mau melakukannya," jawab Amel dengan senyum memamerkan lesung pipinya.

"Dia masih muda, sehat dan kuat jangan mengasihaninya."

"Aku tidak bermaksud seperti itu," kata Amel. Kemudian dia memanggil sahabatnya. "Wa,"

"Apa?"

"Salah ya kalau kamu menikah dengan duda?"

To the point pertanyaan dari Amel, Marwa bisa memberikan jawaban asal, tapi untuk sahabatnya, ia menjawab dengan bijak. "Kamu tidak lupa kan jika aku tidak pernah memilih, kalau  memang klik aku akan melanjutkan." 

Amel tidak mendengar harapan dari jawaban Marwa. Wanita itu juga tidak memaksa, hanya menghubungkan kemungkinan apa yang telah dilihatnya dari sahabat juga kakaknya.







 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang