Marwa

5.6K 641 44
                                    

🌺🌺🌺🌺

Seperti permintaan Marwa, Garra menyiapkan kapal pesiar mewah. Laki-laki itu memenuhi karena Marwa menerima tantangannya dan berniat mundur, itu yang dilihat oleh Garra. Pasangan Dinaya Lincoln dan Arya Daniswara sudah berada di sebuah kamar yang akan menjadi tempat makan malam mereka. 

"Saya terlambat?" Marwa mendapat tatapan dingin dari Garra. Keduanya masuk di mana sepasang suami istri sudah menunggu kedatangan Marwa.

Dinaya yang pertama kali terkejut melihat Marwa. "Marwa?" sedang Arya, raut lelaki itu datar.

Marwa menerima pelukan Naya. "Miss you, Marwa."

"Aku juga," balas Marwa dan bersamaan menuju ke meja yang telah tersaji hidangan yang akan memanjakan lidah. 

Bertemu lagi dengan Arya dikarenakan oleh seorang lelaki keras kepala yang membenarkan isi kepalanya. Selain menghargai usaha Garra, Marwa mau datang karena memang ingin refreshing. Tak perlu repot menyiapkan, cukup menikmati.

Garra memperhatikan interaksi Marwa dan Arya. Satu hal yang diketahuinya jika Naya tidak terlalu menggubris bagaimana cara kedua orang itu berinteraksi. Menurut Garra adalah Naya memberikan kepercayaan kepada mereka.

"Kita nikmati hidangan ini dulu. Sumpah aku ingin sekali menikmati makanan ini."

Garra melihat dengan seksama raut Marwa ketika Arya membantu Naya menggunting capitan Kepiting.

Pilihan Marwa jatuh pada sepiring Gurita. Dengan telaten, wanita itu memotong dan menyicipnya. Alih-alih mencari tahu kesalahan Marwa, laki-laki itu malah melihat wajah khawatir Arya. Marwa hanya memotong bagian tubuh gurita yang sudah dibakar, bukan memotong jembatan gantung.

"Aku harus tahu lebih banyak," kata Naya setelah menelan daging Kepiting. "Kalian membuatku terkejut."

Jika Naya penasaran benarkan Garra dan Marwa berhubungan maka Marwa tidak sedikitpun ingin tahu dari mana Naya mengenal Garra. Ia datang sebagai undangan untuk menikmati rencana Garra, jika mencari tahu sama saja bekerja.

"Aku malah senang kamu datang. Ini kunjungan pertama setelah dua puluh tahun."

Naya tertawa. "Kamu pernah mengajakku, tapi aku tidak bisa. Kamu tahu Arya tidak bisa jauh dariku."

Marwa tersenyum mengerti. Ia tahu bagaimana rumah tangga keuda orang di depannya. Marwa tidak berniat menertawakan kalimat Naya, karena semua wanita berhak bahagia pada pandangan dalam rumah tangga. Segesti diri adalah cara termudah meyakinkan diri.

Arya akan bersabar hingga mereka selesai menikmati makan malam. Terhitung setengah jam kapal berlayar, membawa mereka bersama pikiran masing-masing.

Naya, seorang dokter di salah satu rumah sakit Amsterdam, Arya yakin sedikitnya wanita itu tahu sepak terjang sang suami. 

Sama-sama cantik dan elegan, mungkin sebutan brengsek cocok untuk Arya. Satu hal yang jadi pertanyaan dari Garra kenapa Marwa mau melabuhkan hati pada pria model Arya? 

"Kamu tidak penasaran aku mengenal Garra?" tanya Naya dengan wajah bahagia.

"Ceritakanlah," titah Marwa membalas senyum

 Naya.

"Saat kunjungan kerja bersama Menteri, Garra ada di sana. Dia yang membantuku saat terjebak dalam lift."

"Harusnya saat itu romantis," timpal Garra. Namun tak menemukan raut aneh di wajah Arya. Mungkin bagi Arya, Marwa adalah kutub magnetnya.

Marwa ingat. Arya pernah memberitahunya tapi saat itu Arya tidak menyebutkan nama Garra, bisa jadi saat itu Arya tidak mengetahuinya.

"Mulai saat itu kami sering kontak."

"Sebulan sekali, bisakah dibilang sering?" tanya Garra dan membuat Naya tertawa.

"Nostalgia yang sayang untuk dibuang," kata Marwa.

Naya setuju. "Mulai saat itu aku belajar lagi bahasa negeri ini, berharap suatu hari bisa ke sini lagi. Amazing, aku ada di sini sekarang."

Sesuatu yang aneh namun tidak ingin ditanyakan oleh Garra. Mengingat Arya asli warga negara ini tidak pernahkah laki-laki itu mengajak istrinya pulang sesekali?

"Back to topik, tentang kalian. Apa ini?" dengan senyum manisnya Naya menatap Garra dan Marwa bergantian. "Kalian kekasih?"

"Menurutmu kami cocok?" tanya Garra, kini ia tidak melihat suami Naya.

"Sedikit." Naya tersenyum pada Garra. "Aku sangat mengenal temanku."  

"Kenapa dengannya?"

Naya tertawa lagi. "Aku harap kamu tidak tersinggung." 

Marwa sadar, Arya menatap tajam padanya. Jauh sebelum hari ini segala sesuatu tentang mereka telah diselesaikan. Marwa tidak memulai apalagi menyambut, jadi hari ini ia benar-benar datang atas undangan Garra bukan karena kehadiran Arya Daniswara.

"Katakan saja. Aku memang harus menaklukkannya." respons optimis Garra membuat mood seseorang kian memburuk karena sejak melihat kedatangan Marwa, hatinya sudah tidak tenang lagi.

"Marwa tidak akan menyakitkanmu." Naya menjelaskan apa yang diketahuinya tentang Marwa. "Kamu bukan tipenya."

"Apa?" respons itu bukan karena kaget. Lantas seperti apa tipe wanita itu, seperti laki-laki yang duduk di samping Naya? "Mungkin aku harus bekerja keras lagi."

Sebagai teman ngobrol Naya adalah pilihan tepat. Tapi ketika berhadapan dengan suaminya, di saat hanya ada mereka berdua, tidak ada satu patah katapun kecuali memang sangat penting.

"Lingkup kami, suamiku adalah laki-laki menawan dengan kerja kerasnya, semua gadis jatuh cinta padanya. Tapi hanya satu orang yang tidak tertarik padanya, dia adalah Marwa, temanku."

Ini fakta baru. "Sangat tidak logis," pikir Garra dan ia mengatakannya.

"Tentu. Di saat aku dan semua wanita mengejar, hanya Marwa yang santai bahkan berani mengatakan di depan Arya saat itu bukan seperti Arya tipenya."

Ingatan Naya sangat bagus. Padahal kejadian itu sebelum mereka menikah di mana hubungan Naya dan Matwa masih sangat dekat karena Universitas. Mulai renggang ketika mereka lulus dan Marwa mendengar Naya yang tak lain putri dari orang penting di nagara itu telah bertunangan dengan Arya. Mereka mulai sibuk dengan karir masing-masing. Kedekatan Marwa dan Arya dimulai saat mereka bernaung di intitusi yang sama.

"Kalian begitu dekat saat itu tapi tidak menyukai laki-laki yang sama."

Arya ingin membungkam mulut Garra. Sepertinya ada yang ingin diketahui laki-laki itu tentang dirinya dan Marwa. Arya mencium rencana di balik undangan tersebut.

"Dekat bukan berarti harus sama." dengan tatapannya Naya bertanya pada Marwa apakah ia setuju dengan pernyataannya?

Marwa tertawa.

"Seandainya mereka membuat skandal, maka itu bukan dari Marwa. Dan, jika mungkin ada, maka Marwa akan meninggalkan sebagai santapan lalat." 

Semakin terlihat keangkuhan seorang Marwa di mata Garra. Santapan lalat? Apakah saat menghabiskan malam bersama suami orang wanita itu hilang kesadarannya?

Marwa tidak ingin menilai raut ramah Naya, cukup menyadari jika Naya memang mengetahui latar belakang sebuah skandal. 

"Tapi aku mempercayai suami juga sahabatku," sambung Naya. "Dan kamu, kerja keras saja tidak cukup. Dekati saja orang tuanya. Marwa anak sulung." ada canda di akhir kalimat Naya.

Satu hal yang didapatkan oleh Garra malam ini. Arya akan menyesal jika sampai kehilangan wanita berhati luas seperti Dinaya.

******

Marwa tidak tahu, seseorang menunggunya pintu masuk toilet. Masih berdiri di depan cermin meyakinkan jika ia masih percaya diri bagaimanapun cara Garra melihat rendah padanya.

Sentuhan di bibir, menghapus pewarna yang baru saja di tambahkan di bibir tipisnya.

"Untuk siapa kamu merias diri?" tanya Garra setelah menghapus lipstik Marwa dengan ibu jarinya.

"Bukankah akan ada malam puncak?" santai, tidak marah setelah Garra menghapus lipstiknya.

"Aku sedang marah, Marwa Linggar!"

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang