Marwa

5.9K 491 35
                                    

Sudah dikatakan sejak awal, selain datang memenuhi undangan wanita itu ingin refreshing. Lusa Marwa akan kembali disibukkan dengan kasus yang seharusnya mudah diselesaikan hanya saja banyak orang menginginkan drama pada masalah yang tak dibuat oleh mereka sendiri.

Malam ini anggaplah wanita
itu sedikit eksis mengapresiasikan diri menikmati waktu luang kendati ada dua pria yang memperhatikannya. 

Marwa tidak menggoda, bahkan ia sudah menegaskan pada Arya jika hubungan mereka memang sudah selesai lewat sebuah ciuman panas yang dimulai oleh Marwa.

Untuk apa? Garra tidak tahu.
Saat mereka keluar dari toilet, Marwa menarik lengan dan menciumnya. Padahal di sana tidak ada siapa-siapa. Sedang Marwa bisa mencium bau parfum seseorang tanpa harus melihat orang.

Ada wajah yang tegang,  itu adalah milik Garra dan raut marah milik suami Dinaya. Marwa tidak perlu tahu untuk apa Arya marah karena tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.

Kepada Garra, Marwa bertanya. Melihat laki-laki itu menatap tajam ke arahnya adalah hal aneh mengingat di antara mereka masih ad tamu. 

"Ada apa? Kamu terlihat tidak nyaman."
"Menurutmu." harusnya pertanyaan bukan pernyataan, karena dua orang di depannya membuat laki-laki itu kesal tidak bisa meluahkan isi hatinya. Garra ingin marah pada sikap sepihak Marwa. Alih-alih mendapatkan fakta tentang Arya dan Marwa justru dirinya yang dibuat panas dingin oleh wanita itu.

"Saya pikir ingin bertemu orang tua saya."
Naya tertawa. "Jangan
meledeknya, Marwa. Kualat loh."

Marwa hanya tersenyum simpul. Senyumnya karena ada Dinaya dan ini adalah pertemuan setelah sekian lama. Sedang dengan suami wanita itu, hanya beberapa hari ini Marwa tidak berkomunikasi tepatnya Arya yang memberikan informasi sedang Marwa tidak.
"Ada berapa kamar?" ini pertanyaan pertama Arya dalam pertemuan itu.

"Dua." Garra yang menjawab. Marwa bertanya. "Anda melakukannya?" mudah sekali Marwa masuk, bukan Garra tidak paham.

"Kamu tidak keberatan." Garra menatapnya sinis.

"Oh no. Marwa masih perawan. Marwa kita bisa sekamar."

Marwa mengendikkan bahunya. "Aku rasa harus sedikit bersenang-senang."

"Gadis?" ingin sekali Garra mengumpat dan mengatakan bagaimana seksinya pose Marwa di depan cermin dengan gulungan rambut.
Apakah Dinaya akan murka bila tahu hal yang sebenarnya?

"Kamu tidak percaya karena Marwa pernah tinggal di luar negeri? Hey, percayalah temanku itu tidak punya
pacar."

Tidak punya pacar, tapi simpanan dan itu suamimu.

"Hanya melihatnya saja aku tahu." Dinaya melanjutkan. "Kalau memang ingin membuktikan, seperti kata Marwa datangi orang tuanya."

"Kami akan mencobanya. Kupastikan jadi yang
terindah."

"Kamu tidak ingin Istirahat?"

Dinaya melihat suaminya.
"Sepertinya kami harus tidur. Maaf tidak bisa menemani kalian sampai pagi." 

Garra bangun. "Pastikan malammu indah."

Marwa membalas ucapan Garra untuk Dinaya. "Kita juga akan melewati hal yang sama."

Dan tawa Dinaya pada kalimat Matwa mengundang murka suaminya. "Good luck." wanita itu memberi semangat untuk keduanya kemudian pergi menggandeng lengan suaminya menuju ke kamar.

Sebuah kamar yang telah dirias demi menyambut mereka. Dinaya menatap dingin kamar itu. "Dia tidak tahu kita melewati malam dingin sepanjang waktu."

Arya menutup pintu kamar.

"Bagaimana menurutmu?
Garra akan berhasil?"

"Aku tidak mengenalnya."

Dinaya mengangguk. Dia akan mengganti subjek dalam pertanyaannya. "Marwa, bisakah luluh dengan Garra?"

"Aku tidak tahu." Arya menatap dingin istrinya.

"Aky melihat mereka samasama bergejolak. Tapi aku ragu."

"Berhenti membicarakan orang lain!"

Dengan tenang Dinaya membuka botol mineral dan menyiram wajah suaminya. "Bangun. Ini bukan mimpi."

Arya sedang marah, bukan pada Dinaya melainkan Marwa. Menarik tengkuk wanita itu Arya menciumnya. "Dinaya Lincoln. Bukan
Marwa Linggar."

Berkat ucapannya, untuk pertama kali setelah lima tahun ia merasakan kenikmatan dalam luka di mana nama Marwa yang disebut oleh suaminya hingga klimaks berkali-kali.

Arya brengsek. "Marwa masih mempertahankannya?" Dinaya mengenakan kembali pakaiannya. "Aku lebih mengenalnya. Dia terlalu mahal, kamu tidak akan
mampu."

Sementara suami istri itu bersitegang, Marwa memilih tempat aman. Kamar, ia mengajak serta Garra. Lumayan, kamar mereka sama indahnya dengan kamar yang disiapkan Garra untuk tamunya. Hanya saja tidak ada taburan mawar merah. "Tanyakan. Saya akan menjawab." Marwa tahu, Garra penasaran hubungannya dengan Arya. "Atau katakan, maka saya akan mendengarnya."

"Kamu pikir istrinya tidak tahu?"

"Saya tidak mengatakan seperti itu." Marwa menuangkan air mineral ke dalam dua gelas. Cukup menghargai karena Garra tidak menyediakan Wine.

"Caramu menghadapi mereka
sedikit pengecut."

Marwa tidak menjawabnya. 

"Kamu hanya menjaga tatapanmu?"

Marwa menjawab. "Karena saya tidak ingin melihatnya. Tepatnya bosan." 

Apa? "Kamu pemain." Garra tidak percaya. "Jika kamu lakilaki maka pantas disebut brengsek."

"Tidak ada yang memintanya jatuh cinta. Dan saya sudah menolak sejak pertama kali."

"Menolak? Penjelasan apa yang bisa kamu berikan tentang kebersamaan di hotel?"

"Kenapa anda ingin tahu?"

"Kamu akan menjawabnya," tegas Garra.

"Anggap saja perpisahan?"

Garra tidak percaya begitu saja. "Perpisahan dalam nikmat?"

Marwa menatap laki-laki itu.
"Saya tidak akan membela diri." dan Marwa tidak mengatakan alasannya.

Jawaban yang diberikan oleh Marwa membuat Garra ingin marah. "Kamu juga akan melakukan hal yang sama?"

"Kenapa berpikir seperti itu?
Saya mengajakmu bercinta?"

Shit!

"Dia saya anggap sebagai senior, tapi anda." Marwa menghentikan kalimatnya, melihat respons Garra sebelum mengatakan dengan jelas. "Bukan siapa-siapa. Kita hanya saling mengenal nama."

Garra merasa tertampar. Wanita itu berbicara dengan tenang, namun bisa menikam. Bahkan Garra yang lihai dalam bersikap kalah oleh kelihaian wanita itu membalikkan keadaan. Garra dipermalukan oleh sahabat adiknya, pengacara handal yang telah mencuri hatinya.



 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang