Marwa

8.2K 469 30
                                    

Di rumah Garra menghabiskan waktu seharian. Karena di kamar tidak ada televisi, jadi dia menonton di ruang keluarga orang tuanya. Bisa saja streaming tapi lebih enak menonton langsung. Salah satu televisi swasta sedang menyiarkan secara langsung sidang kasus terduga pembunuhan aktivis HAM. 

"Karena Marwa pangacaranya, makanya Mas nonton?"

Garra tidak menjawab. 

"Kelihatan banget sih sukanya." Amel berkomentar lagi. "Setelan Mas tinggi banget. Harus pakai dukun tuh."

"Anakmu mana Mel?"

"Kenapa? Mau momong?"

Garra menggeleng. "Biasanya kamu sibuk sama anakmu, sekarang kenapa ngurusin Mas?"

Amel tertawa. "Mas nonton dari jam sembilan loh cuma buat lihat Marwa. Susah ketemunya?"

"Terakhir ketemu minggu kemarin. Dari malam sampai pagi, belum seminggu kan?"

"Apa?" Amel terkejut. Dengan cepat ia duduk di samping kakaknya. "Mas bermalam dengan Marwa?"

Garra mengangguk dan melihat aneh pada adiknya. 

"Mas pasti ngehalu."

Garra mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto mereka saat di kapal pesiar. Foto yang diambil oleh Marwa menggunakan ponselnya.

Amel tersenyum bahagia. "Wah. Perkembangan yang bagus." Amel menggeser lagi dan melihat banyak foto Marwa yang diambil diam-diam oleh Garra. Tidak lupa mengirim foto pertama tadi ke whatsapp-nya.

Sebentar. "Marwa dalam keadaan sadar Mas?"

"Aku juga kurang yakin," jawab Garra. Karena baginya Marwa seperti ilusi. Ciuman wanita itu masih membekas, untuk apa Marwa menciumnya malam itu? "Yakin kamu berteman dengannya?"

"Tentu." Amel ingin tertawa. "Dia salah satu teman terbaik yang paling peka. Jarang loh ada anak orang kaya yang mau berteman tanpa pilih-pilih."

Garra tidak tahu jika Amel sedang membaca chat-nya dengan Marwa. Dari chat dan foto tersebut Amel percaya jika Garra tidak berbohong mereka memang menginap di kamar yang sama.

"Tapi berbeda seperti orang kaya lainnya Mas, Marwa tidak pernah pacaran, tapi memiliki banyak teman. Dia pandai menjaga diri."

"Sok tahu!"

"Lah Mas, sekalipun Marwa pernah tinggal di luar negeri dia tidak liar. Di sana dia belajar dan bekerja."

"Dia memiliki kekasih." mata Garra fokus ke layar televisi di mana wanita yang membuatnya penasaran sedang berargumen. "Suami sahabatnya di Jerman."

Apa? "Mas salah paham mungkin." Amel tidak percaya. "Kalau ada apa-apa Marwa akan bercerita. Setiap orang yang mengambil alih hatinya, dia akan bertanya padaku."

"Tidak semua." sidang telah selesai. Garra akan mengirimkan pesan pada wanita itu. 

"Sini." Garra mengulurkan tangan meminta ponselnya. Dengan gugup Amel keluar dari aplikasi whatsapp dan mengembalikan ponsel kakaknya.

"Jangan terlalu protek. Marwa wanita mandiri, bukan gadis kampung."

Apa?

"Aku kenal sahabatku. Dekati dia dengan kedewasaan Mas."

Garra tidak percaya, apakah Amel baru saja menasehatinya?

"Kalau ibu pulang, bilang aku tidur."

Amel mengangguk. Kembali pada isi chat kakak dan sahabatnya, apa benar Marwa sepanas itu? Tidak ada tanda apa-apa di foto tapi isi chat mereka? Sepertinya membuat sambel sambil berpikir arah hubungan Garra dan Marwa lebih mantap.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang