Prolog

62.6K 2.8K 70
                                    


"JANCOKLAH" Umpatan itu lolos dari mulut Adrea bersamaan dengan buku tebal yang menghantam lantai, akibat lemparannya. Buku itu dibeli kemarin karena jumlahnya yang terbatas, dan banyak diincar dalam kalangan masyarakat.

Dan sepertinya...

Adrea menyesal telah membelinya.

"Novel sialan! Gimana bisa orang-orang suka novel kayak gini?"

Adrea mendengus." Bikin emosi." Lirihnya.

Melirik novel yang berada disudut pintu, Adrea tidak bisa menahan julidnya.

"Ck, novel sampah!"

Menarik selimut, mencoba untuk tidak peduli, Adrea merebahkan tubuhnya bersiap menyelami alam mimpi. Namun, saat ia menutup mata alur dari novel itu terus memutari otaknya.

Mencoba mencari sisi ternyaman, Adrea mengubah posisi tidur menjadi miring membelakangi jendela.

"ARKHHH... FAK KATA GUE TEH! Kenapa juga gue beli itu novel!"

Menendang kaki didalam selimut, Adrea terus mengeluarkan gerutunya. Adrea tidak bisa menahan emosi karna tak terima dengan alur novel yang ia baca.

"Ashland keparat! Gimana bisa Lo nganggap nyawa manusia sepele? Lo ada otak nggak si? Dasar cogil! Orang gila! Wah,... ASHLAND SEKKIYAA!"

Teriakkan penuh emosi itu terus memenuhi ruang kamarnya, ranjang yang tadinya rapi kembali berantakan karna Adrea yang bergerak seperti cacing gila.

"Niat baik pun jadi salah dimata orang." Tak lama setelah mengatakan itu bibir Adrea terangkat kembali menjulid."Ya.. gue akui memang nggak salah kalau orang itu Ashland. Dia pria berotak kosong, otak udang!"

Adrea menampar pipinya pelan, saat kewarasannya kembali. Untuk apa juga Adrea pusing? Ini hanya sebuah alur yang tentu saja bukan kisah nyata, alur yang tercipta dari hasil imajinasi manusia. Lalu...

...kenapa Adrea jadi gelisah hanya karna sebuah novel?

"Mungkin gue emosi karna salah satu tokoh figurannya punya nama yang sama kayak gue." Adrea mulai terkekeh aneh.

Sepertinya kewarasan Adrea dibabat habis hanya karna novel romance.

Adrea jadi linglung sendiri karna memikirkan nasib tokoh yang memiliki nama persis dengannya. Entahlah, Adrea seakan bisa merasakan perasaan tokoh figuran itu seolah Adrea lah yang berada di posisinya.

Novel yang berjudul Obsessed with you itu menceritakan kegilaan tokoh utama yang terobsesi dengan tokoh protagonis yang bernama Erliza.

Pertemuan pertama Ashland dengan Erliza menimbulkan perasaan tak nyaman baginya. Sejak itu, Ashland mulai mendekati Erliza. Menginginkan gadis itu menjadi miliknya. Erliza gadis pintar dan lugu itu selalu ketakutan setiap berhadapan dengannya, namun berbeda jika dengan Nathan. Melihat keakraban Nathan dan Erliza membuat hari Ashland panas. Ashland tidak bodoh untuk menyadari bahwa keduanya memiliki perasaan lebih.

Dari sana, Ashland bertekad tidak akan melepaskan Erliza. Ia akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan gadis itu, tidak masalah jika Erliza tak mencintainya. Ashland hanya memerlukan kehadiran gadis itu, soal cinta? Ashland yakin itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.

Tapi semua yang direncanakannya selalu gagal ketika seorang gadis ikut campur, Adrea. Gadis yang mengaku sebagai sahabat Erliza. Ashland yang pada dasarnya memiliki temperamen buruk, tidak segan melakukan kekerasan pada Adrea. Ashland tidak menyukai sesuatu yang ia lakukan dicampuri oleh orang lain.

Dan bodoh nya, walau sudah mendapat kekerasan Adrea tidak gencar untuk berhenti. Pada akhirnya, Adrea pun mati ditangan Ashland saat Adrea mencoba menahan Erliza yang akan dibawa pergi.

Konflik inilah yang menjadi titik kelemahan protagonis wanita. Erliza tidak berdaya melihat kematian sahabatnya didepan mata, kesempatan itu diambil oleh Ashland. Ya, Erliza harus menjadi miliknya apapun yang terjadi.

Begitulah inti dari novelnya.

Tapi tetap saja hati kecilnya ini tidak rela dengan akhir tokoh figuran itu.

"Nggak adil. Demi keinginan pribadi harus memakan korban. Cih! Ashland harus mati! Pokoknya mati! Dengan begitu Erliza akan hidup bahagia dengan pilihannya."

Kerutan samar tercetak dikening Adrea. "Ya... Walaupun diakhir Ashland menghilang tapi dia tetap hidup kan?"

Dari ucapannya saja, jelas sekali Adrea tidak menyukai karakter Ashland.

Sakit hati?

Adrea rasa begitu perasaannya saat ini.

Tokoh favoritnya mati konyol. Menjengkelkan!

Mengusap wajah prustasi, Adrea bangun dari kasur. Ia perlu mencuci muka untuk menjernihkan kembali otaknya.

Membuka pintu kamar mandi, adrea melangkah ringan lalu membasuh wajahnya dengan air. Namun saat menyalakan keran, lampu padam.

"Lho? Kok mati?" Heran Adrea, wajahnya masih berbusa. Ia tidak sadar sedang terjadi pemadaman lampu.

"Aishh.. bercanda ya?" Geram adrea. Tangannya meraba sekitar mencari handuk kecil.

"Ah, dapat?" Adrea mencoba menarik handuk yang tergantung. Agak sulit, ia pun melangkah kesamping.

Karna tidak hati-hati dan keadaan yang juga gelap gulita, Adrea menginjak sabun yang tergeletak dilantai.

Kecelakaan pun tak terhindari.
Akibat kehilangan keseimbangan Adrea terjatuh, kepalanya menghantam bathtub, punggungnya berbenturan keras dengan lantai. 

Cairan kental berwarna merah mengalir hingga ke sisi wajahnya. Mata Adrea mulai berkunang-kunag dengan rasa pening yang kian terasa menyiksa.

Apa ia mati hari ini?

Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, bibir Adrea bergerak mengumamkan sesuatu.

"Gue stress,"

Dan kegelapan pun menyelimutinya.

29 Desember 2022


Karya kedua bertema tramigrasi.

Bukan penulis profesional jadi harap maklumi kalau ada kesalahan.

Vote, komen, dan share keteman-teman kalian buat ramein cerita ini.

See you
Raraayyy16

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang