Anta menatap keheranan pada Kala, karena dari tadi dia terus melihat Niko yang berada di seberang dengan tatapan tak suka. Sesekali Anta memperhatikan mereka, melihat ke arah Niko kemudian melihat ke arah Kala lagi. Dia pun menepuk pelan pundak Kala. "Hei jangan menatapnya seperti itu dong!"
Kala menolehnya. "Hmm natap siapa?"
"Niko lah! Kau dari tadi lihat Niko dengan tatapan nggak suka gitu!"
Dia menggaruk tengkuknya. "Tadi itu — hmm lupakan aja," sahutnya dan membuat Anta sedikit jengkel dengannya.
"Serah kau aja lah!"
Saat ini, mereka sedang duduk di samping aula dan beristirahat setelah selesai mengajar tadi tentang berdialog berbahasa Inggris. Anak-anak panti begitu antusias apalagi saat mereka tahu kalau Kala ikut mengajari mereka. Anta bersyukur mengajaknya ke sini, sehingga dia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengajar — karena saat ini dirinya sangat lelah. Hampir setengah hari dirinya disibukkan dengan bersekolah, pembinaan olimpiade dan mengajar anak-anak panti. Jadwal yang begitu padat dan dia harus melalui itu hampir setiap harinya.
Kala melihat wajah letihnya itu, langsung memegang pipinya. "Kau baik-baik saja?," tanyanya khawatir.
Anta sedikit terkejut dan perlahan mundur, kemudian memalingkan wajahnya. "Aku baik-baik aja kok ...."
"Kau bohong kan?"
Anta menoleh ke arahnya. "Aku serius — aku hanya perlu tidur aja nanti di rumah"
"Hmm baiklah ...," tentu saja Kala tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Anta. Dia sangat khawatir padanya.
Saat mereka hendak pulang, Kala menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke rumahnya dan Anta menolak tawaran itu. "Aku kan naik sepeda ke sini, Kala. Mana mungkin aku meninggalkan sepedaku di sini!," serunya menatap datar pada Kala.
"I-iya sih tapi kan — "
"Aku baik-baik saja kok. Kau nggak perlu khawatir ...."
Kala tidak bisa membohongi rasa kekhawatirannya pada Anta. "Ka-kalau begitu, bagaimana kalau aku mengikutimu dari belakang saja? Boleh kan?," pintanya.
Anta menggaruk kepalanya. "Kau terlalu — hahh baiklah!," jawab Anta mendesah kesal sedangkan Kala langsung tersenyum senang. Mereka pun berjalan menuju ke tempat parkir di mana mobil dan sepedanya di parkirkan.
Sesampai di sana, Anta langsung menaiki sepedanya dan Kala juga masuk ke dalam mobilnya. Anta segera mengayuhkan sepedanya dan Kala melajukan pelan mobilnya — mengikuti Anta dari belakang. Anta sempat kepikiran selama dia sedang mengayuh sepedanya, 'apa ini tidak apa-apa? ' Dia takutnya akan ada orang yang mengira Kala adalah seorang penguntit atau penculik jika mengikutinya dari belakang seperti itu. Sesekali juga dia melirik ke belakang kemudian kembali menatap lurus ke arah jalan. Tidak terasa sudah 15 menitan perjalanan dari panti dan akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Di seberang jalan, terlihat Kala yang melambaikan tangannya dengan keadaan kaca mobil yang sudah terbuka. Anta pun tersenyum dan melambaikan tangannya juga. "Thanks ya!"
Kala merespon dengan anggukan pelan kemudian dia melajukan mobilnya — meninggalkan Anta yang masih berada di depan rumahnya itu. Anta melihat mobil merah itu dari kejauhan dan dia pun segera masuk ke dalam rumahnya.
***
[ Jadi, sekarang kau mulai tinggal di rumahmu? ]
"Ya begitulah, untuk menemani ibuku"
[ Oohh ... hmm Kala? ]
"Ya?"
[ Nggak jadi deh ]
YOU ARE READING
𝑼𝒏𝒇𝒐𝒓𝒆𝒔𝒆𝒆𝒏 𝑻𝒊𝒆𝒔 [COMPLETED]
Teen Fiction[𝗕𝗟 𝗦𝘁𝗼𝗿𝘆!!] Menceritakan tentang dua anak remaja laki-laki yang memiliki masalah pribadi dan mereka tidak sengaja bertemu di kejadian yang tidak terduga. Pertemuan itulah yang menjadi awal dari kedekatan mereka, di mana kedekatan mereka lebi...
![𝑼𝒏𝒇𝒐𝒓𝒆𝒔𝒆𝒆𝒏 𝑻𝒊𝒆𝒔 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/295238341-64-k12012.jpg)