🍂Part 2

34.4K 2.4K 61
                                    

   ADREA membawa kakinya berjalan-jalan mengelilingi sekolah setelah berhasil mengelabui Erliza yang sedari tadi mengekorinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

   ADREA membawa kakinya berjalan-jalan mengelilingi sekolah setelah berhasil mengelabui Erliza yang sedari tadi mengekorinya.

Tentu saja ia kesal, dia tidak lupa dengan kebaikan Adrea asli yang rela mati demi menolong gadis itu dari cengkraman pria iblis. Mengetahui itu ia jadi semakin kesal, bisa-bisanya Adrea asli merelakan hidupnya hanya karna ingin membantu Erliza terlepas dari obsesi seorang Ashland.

Oh, ayolah~

Kalau Adrea jadi tokoh figuran itu dia tidak akan mau mengorbankan nyawanya. Sepertinya Adrea lupa bukankah dia sudah menjadi tokoh itu?

Jika Adrea si tokoh figuran rela mati demi menolong Erliza, maka Adrea akan bersikap sebaliknya. Dia tidak akan mau menyia-yiakan hidupnya hanya karna masalah orang lain. Biarkan saja Erliza menyelesaikan masalahnya sendiri, toh dia bukan anak kecil lagi.

Terkesan jahat memang, tapi siapa coba yang mau menyerahkan nyawanya kepada pria iblis itu? Dibunuh dengan tragis, disiksa, bahkan meminta ampunan pun tidak akan bisa meluluhkan hati dingin pria itu yang sudah membeku.

Pria iblis itu hanya akan mencair jika bersama dengan sosok yang dicintainya. Namun karna keinginannya itu mengubah yang awalnya hanya sekedar cinta menjadi obsesi yang merugikan orang lain begitu juga dengan dirinya.

Adrea tidak salahkan? Ashland si pria biadap itu bahkan tidak ragu menghilangkan nyawa orang-orang terdekatnya yang berusaha menghentikan aksi gilanya.

Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Adrea merinding, apalagi menyaksikannya langsung. Tentu saja dia tidak berani.

Adrea menatap pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Matanya berbinar tergiur dengan mangga-mangga yang bergelantung indah diatas sana.

Tanpa menunggu lama, ia segera memanjat pohon itu lalu duduk didahannya yang lumayan besar. Bersandar disana sambil memetik salah satu buah mangga yang dirasa sudah masang.

"Kayaknya enak nih," Ucapnya tanpa menunggu lama ia segera mengupas buah mangga itu dengan giginya.

Rasa manis asam itu terasa di lidah Adrea. Ia menyandarkan tubuh dibatang pohon itu sambil menikmati buah mangganya.

Daripada memusingkan bagaimana alur novel ini lebih baik Adrea melepas pikiran dengan mangga-mangga ini.

Ketika asik-asiknya menikmati buah mangga segar ditangannya, mata Adrea menangkap punggung seorang siswa dibalik dinding.

"Gue tebak pasti tuh bocah lagi ngerokok," Adrea menajamkan penglihatannya dan benar saja dibawa kaki siswa itu sudah ada beberapa puntung rokok disana.

Adrea berdecak sembari menggelengkan kepala.

"Ckckck ternyata didunia tipu-tipu ini juga ada siswa bandel kayak dia,"

Adrea menarik nafasnya dalam-dalam lalu--

"WOI BOCAH BEKANTAN! NGEROKOK LO YA? GUE ADUIN GURU BARU TAU RASA LO!" Pekik Adrea.

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang