Anta begitu terkejut mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Sandra. "Bisa nggak untuk nggak meninggikan suaramu itu? Yang lain ngelihat kita loh!," seru Sandra berbisik. Benar saja, mereka yang berada di dalam perpustakaan melihatnya. Anta pun tersenyum canggung dan meminta maaf karena sudah mengganggu kenyamanan mereka.
"Kala — saudara tirinya Mala kah?," tanya Laura pada Sandra.
Sandra mengangguk pelan. "Iya"
"Berarti kau nggak tulus berteman dengan Mala?"
"Kau mau jawaban jujur atau nggak?," tanya Sandra balik pada Laura. Laura menatapnya tidak percaya dan menatap sendu padanya.
"Nggak usah dijawab Sandra, aku udah tahu jawabannya...," sahut Laura dengan nada pelan.
"Laura, kau baik-baik saja?," tanya Anta khawatir. Laura mengangguk pelan.
"Apa alasanmu jadi mata-mata-nya?"
Sandra melirik ke kanan kemudian beralih ke kiri. "Lebih baik kita bicara di tempat lain aja," ujarnya dan Anta menyetujuinya. Saat mereka bertiga berjalan keluar dari perpustakaan, Tania melihat mereka dari kejauhan dan membuatnya penasaran. Ya, dia masih berada di antara rak-rak buku geografi itu. 'Ikutin mereka atau nggak ya? Tapi aku belum selesai memilih buku yang pas nih!, ' gumamnya. Dia pun bergerak secepat kilat — memilih buku yang bagus menurutnya untuk menjadi bahan referensi tugas makalahnya.
***
"Jadi begitu ceritanya..."
"Ya begitulah," ujar Sandra dengan santainya setelah menceritakan semuanya — alasan kenapa dia mau menjadi mata-mata-nya Kala. Dia menyeruput minuman ice coffee-nya sedangkan Anta dan Laura — mereka tidak membeli apapun. Saat ini, mereka sedang berada di kantin sekolah karena jam istirahat akan berakhir beberapa menit lagi. Mereka pun memutuskan untuk berdiam dahulu sebentar di sana. "I'm so sorry, Laura — tapi itu lah kenyataannya. Aku nggak ada niatan berteman dengan Mala dari awal apalagi kasusnya dulu itu. Tapi, aku salut denganmu yang masih mau berteman dengannya"
"Sebenarnya aku juga diminta untuk tetap berteman dengan Mala sama Anta..."
"Ha?! Seriusan?!," seru Sandra terkejut bukan main. "Jangan bilang Randy juga — "
Laura mengangguk pelan. Sandra pun mengerjapkan matanya kemudian beralih pandangannya tertuju ke arah Anta. "Kau benar-benar..."
"Biarpun kami diminta tolong sama Anta, tapi aku memang mau tetap berteman sama Mala dan Randy pun juga berpikir begitu"
Sandra memundurkan badannya dan bersender ke kursi, tempat duduknya. "Oke, aku mengerti sekarang. Hanya saja, tadi sepertinya dia ada masalah sama Kala makanya dia bad mood"
"Dia juga bilang kalau 'aku tahu semuanya' itu maksudnya apa ya?"
"Entahlah Anta — tapi lebih baik kalau kau nanya langsung saja ke Kala, saudara tirinya"
"Hmm oke...aku akan coba tanya dia"
Bel masuk kelas pun berbunyi dan Anta berpamitan pada mereka berdua untuk balik ke kelas terlebih dahulu. Sandra dan Laura saling bertatap cemas, yang satu mengkhawatirkan keadaan Mala sedangkan yang satunya lagi — memikirkan reward-nya yang akan hangus karena sudah ketahuan menjadi mata-mata Kala oleh Mala. 'Ya...aku hanya bisa pasrah saja,' gumam Sandra menangis dalam hati.
Selama pelajaran berlangsung, Anta tidak bisa berkonsentrasi dan sesekali memandangi ponselnya di bawah kolong mejanya. Ya, dia tadi sudah mengirim pesan pada Kala — menanyakan perihal itu, namun belum ada balasan dari Kala. Hal itu terus mengganggunya. Saat dia hendak pulang sekolah pun, dia masih menunggu balasan dari Kala sampai membuat dirinya kesal. "Kenapa nggak direspon sih?!!," serunya keras di lorong sekolah dan membuat semua yang berada di sana langsung menoleh ke arahnya.
YOU ARE READING
𝑼𝒏𝒇𝒐𝒓𝒆𝒔𝒆𝒆𝒏 𝑻𝒊𝒆𝒔 [COMPLETED]
Teen Fiction[𝗕𝗟 𝗦𝘁𝗼𝗿𝘆!!] Menceritakan tentang dua anak remaja laki-laki yang memiliki masalah pribadi dan mereka tidak sengaja bertemu di kejadian yang tidak terduga. Pertemuan itulah yang menjadi awal dari kedekatan mereka, di mana kedekatan mereka lebi...
![𝑼𝒏𝒇𝒐𝒓𝒆𝒔𝒆𝒆𝒏 𝑻𝒊𝒆𝒔 [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/295238341-64-k12012.jpg)