🍂Part 8

24.7K 1.6K 109
                                    

°Selamat membaca📖°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°Selamat membaca📖°

   KERUTAN samar dikening Dery muncul ketika netranya menyorot pada gadis yang berdiri mematung disana. Ekspresi adiknya erwh.. Entahlah Dery juga tidak mengerti. Dan apa-apaan dengan keadaan adiknya ini? Dery seakan melihat pengemis yang diminta untuk dikasihani.

Sementara Adrea, bola matanya membulat memusatkan seluruh perhatian pada pria bertubuh tegap dengan tinggi badan sekitar 180 lebih. Jika terus melihat hal-hal seperti ini akankah masa depannya cerah? boleh teriak gak sih?

Terlalu sibuk dengan segala pikiran diotak mungilnya, Adrea bahkan tidak sadar bagaimana ekspresi wajahnya saat ini, air liurnya bahkan sebentar lagi akan menetes kalau saja seseorang tidak menegurnya.

"N-non? Non sakit?" Suara Bi Nima kembali menarik kesadaran Adrea ke realita. Tersadar, Adrea segera menyeka sudut bibirnya yang sedikit berair lalu kembali menguasai diri agar tidak menimbulkan keanehan. Udah terlanjur, Adrea merutuki kebodohannya barusan dengan memukul pelan keningnya. Sudah Adrea bilang, ia lemah. Paling lemah dengan pria tampan yang sayangnya hanya ciptaan tangan seseorang, begitu sempurna. Adrea tidak bisa menjabarkan perasaannya, sial tapi menguntungkan.

Adrea menggeleng pelan menjawab pertanyaan Bi Nima tadi. Matanya justru terfokus kepada Dery yang kini mulai mendekat. Bi Nima mengelengkan kepala memaklumi tingkah anak majikannya, wanita paruh baya itu kemudian pergi melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

'Tenang Adrea, Lo udah punya SIM. Maju Lo bang! Gue udah Vaksin Ke-tiga!' Jerit Adrea dalam hati.

Adrea gugup saat Dery sudah berdiri berhadapan dengannya. Ia mendongak, menatap rupa pria itu sekilas lalu membuang muka kesamping. Takut sekaligus jaga-jaga kalau sampai mimisan.

"Lo balik bareng Veno?" Tanya Dery kembali.

Adrea menoleh, berfikir sejenak. Apa yang dimaksud Dery pria yang mengantarnya pulang tadi? Adrea rasa begitu, ia juga belum mengetahui namanya.

Memilih menganggukan kepala sebanyak tiga kali sebagai respon dari pertanyaan Dery.

Dery mengulurkan tangan meraih rambut Adrea membuat sang empu terkejut. Ia mengangkat rambut adiknya lalu mengusapnya dengan jari telunjuk dan ibu jari. Jika kalian berfikir akan ada adegan romance, maka kalian salah besar karna setelah Adrea kembali mendongak yang ia dapati ekspresi jijik dari pria itu. Zonk woi!

Padahal Adrea sempat tersipu karna berfikir Dery mencium rambutnya rupanya pria itu malah menampilkan ekspresi jijik saat menyentuh bagian tubuhnya itu. Lihatlah! Bagaimana cara dia memegang rambutnya, Dery seperti menyentuh kotoran. Itu sangat menyebalkan dimata adrea.

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang