🍂Part 12

20.5K 1.4K 69
                                    

°Selamat membaca 📖°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°Selamat membaca 📖°

   TERLEPAS apa yang terjadi hari ini, para siswa yang terluka sudah dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik.

Entah bagaimana keadaan diluar sana, mungkinkah semua sudah berakhir? Adrea tidak tau sama sekali.

Yang tersisa diruangan itu hanya Adrea.

Ya, tadinya Adrea sendiri tapi...

"Huaaa... Hiks hiks!"

...Seseorang datang menghancurkan ketenangan yang sempat tercipta.

Adrea menatap Erliza tak minat—sang tokoh utama dalam novel.

Susah-susah menghindari gadis itu, ia malah memunculkan diri kemari. Padahal Adrea sudah terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya jika berdekatan dengan gadis itu.

Adrea hanya ingin waspada, sebab kedekatannya dengan Erliza bisa saja menjadi mimpi buruk baginya.

Akan lebih bagus ia menjaga jarak, mendorong Erliza untuk tidak lagi menempeli dirinya seperti gadis itu lakukan dengan Adrea asli.

Dan sekarang apa yang dia lakukan? Menangis? Adrea rasa ia tidak dalam keadaan sekarat hingga ditangisi seperti itu? Bukankah Erliza ini berlebihan?

Ya Tuhan, kapan penderitaan ini akan berakhir.

Tangannya terulur, memipit pelan pelipisnya, merasa pening dengan suara tangisan yang berasal dari gadis disampingnya. Hanya suara Erliza yang memenuhi ruangan, dan itu sangat menyakitkan ditelinga.

"Ah, sial! Lo terlalu berisik."

Umpat Adrea, ia tidak merasa bersalah sekalipun saat wajah Erliza mulai berubah masam karena ucapannya. Bodo amat! Toh, dia memang berisik.

Tangisan itu mulai mereda, tak butuh waktu lama hingga tangisan Erliza berhenti sepenuhnya. Dengan sesenggukan kecil Erliza membuka suara.

"Aku khawatir... Rea." Cicitnya pelan, namun bisa didengar Adrea.

Huh?

Apa katanya? Khawatir? Oh, ayolah! Adrea bahkan tidak mengalami kecelakaan atau segala macam. Ia baik-baik saja, lalu apa yang perlu dikhawatirkan?

Ya, kecuali....

....Saat melihat sosok pencabut nyawa berdiri dekat dengannya, itu cukup menyentil mentalnya.

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang