🍂Part 16

13.9K 1K 50
                                    

°Selamat membaca 📖°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°Selamat membaca 📖°

BERHARI-HARI dikurung disebuah ruangan gelap berbau amis seorang diri berhasil mengguncang mental gadis yang tengah meringkuk disudut ruangan dekat lemari. Sorot matanya penuh kekosongan memandang lantai berlumur cairan pekat yang tampak mengering. Nafsu dan semangat untuk hidup berangsur-angsur memudar.

Siksaan yang setiap hari ia terima meninggalkan berbagai luka. Luka lama yang hampir sembuh kembali memunculkan luka baru. Perlakuan kejam dan tak pantas sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.

Tubuh yang dulu sedikit berisi tampak mengurus, tulang pipinya bahkan terlihat jelas, tubuh gadis itu seperti mayat hidup. Diberi makan sekali 2 hari itu pun kalau orang yang mengurungnya ingat. Makanan yang diberikan juga tak layak untuk dikonsumsi, namun ia harus bagaimana? Menolak? Itu sama saja meminta kematian dipercepat.

Harga diri tak ada artinya lagi. Pria itu tak pandang bulu dalam menyiksa sanderanya. Kejam, tak mengenal ampun, dan berdarah dingin. Begitulah ia menyimpulkannya.

Tubuhnya lengket, bau keringat dan darah mengering bercampur dipenciuman. Pakaian kumuh yang tidak pernah diganti semakin menjelaskan betapa menderitanya ia selama ini.

Tak ada seorang pun yang tau keberadaannya yang mendekap diruangan sempit ini. Apa ia boleh berharap bisa keluar dalam keadaan hidup-hidup?

Suara derit pintu menyadarkan gadis itu. Seseorang datang, ia tau sosok yang mendatanginya. Namun, ia tak bergeming sama sekali dan memilih menenggelamkan wajahnya dilipatan kaki.

Rasa takut bergemuruh dihatinya tanpa bisa dicegah. Bahunya mulai bergetar kala suara sepatu dan lantai itu bergesekan,menciptakan suara menakutkan yang membuat sang gadis merasa seolah suara tersebut tengah menghitung apa yang akan terjadi padanya.

Penyiksaan.

Suara itu berhenti. Sang gadis menatap sepasang sepatu dihadapannya dengan tatapan nanar.

Kapan mimpi buruk ini akan berakhir? Sungguh, ia sangat lelah menghadapi semuanya.

Bolehkah ia meminta kematian? Itu akan terasa lebih baik daripada disiksa perlahan yang membuat kesehatan mentalnya terguncang.

Tak lama, suara kekehan terdengar, ia tau siapa pemilik suara itu namun ia tidak berani melihat.

Pria dewasa tersebut menendang tulang kering sang gadis cukup kuat hingga terpekik.

"Oh..Masih hidup? Ku kira sudah..." Pria itu merendahkan tubuhnya, berjongkok lalu menatap gadis didepannya dengan tatapan rendah. "Mati...HAHAHA!" Tawa keras itu memenuhi ruangan. Sang gadis tertunduk dalam, ia takut tapi sebisa mungkin mengontrol diri agar tidak terlihat lemah. Namun percuma, tubuhnya tak bisa berbohong.

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang