Masjid An-Nur

12.9K 824 15
                                    

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, masyaallah tabarakallah.
Allahumma Shalli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aali sayyidina muhammad

Alhamdulillah, kalian telah bersholawat kepada nabi Muhammad maka Allah SWT akan mengangkat hamba-Nya yang bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa bersholawat satu kali saja, Allah akan memberi sepuluh rahmat sama dengan sepuluh derajat baginya."

Maaf jika ada kurang dan salah nya, karena kesempurnaan hanya milik Allah subhanahu wa ta'ala, dan kesalahan dari diri saya sendiri.

♡➳♡🌊 .·:*¨𝑯ศ𝓹𝙥վ ᴿ𝚎ꪖ𝕕ịꪦ𝓰¨*:·. 🌊♡➳♡

***

Sejak hari itu, hari dimana Gus Yusuf pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu di kota seribu menara, kini sudah memasuki tahun ke 3. Humai gadis kecil, bermata coklat, berambut panjang, berbadan ramping, dan tidak lupa jika keluar rumah dia selalu memakai hijab menutup dada, sedang menyendiri di dalam kamar miliknya. Waktu diminggu pagi ini hanya dihabiskan untuk membaca buku novel miliknya. Mulai perlahan Humai lupa dengan seseorang yang ia temui 3 tahun lalu dan ia menyimpan perasaannya jauh di dalam lubuk hatinya. Kini Humai sudah tidak sering merengek untuk bertemu Gus Yusuf, berbeda dengan pertama kali ditinggal, ia terus saja merengek dan menangis agar bisa bertemu Gus Yusuf. Bukannya Humai melupakan gus Yusuf tapi lebih tepat lupa karena waktu, perihal waktu Humai harus menunggu 3 tahun lagi.

Hari ini Aiman pulang dari pesantren setelah 2 tahun mengajar disana. Sekarang Aiman sudah menjadi seorang guru serta memegang salah satu perusahaan sang ayah, yaitu ayah Haidar.

Tok! Tok! Tok!

"Assalamualaikum Humairah, abang Abil pulang," ucap Aiman di depan pintu kamar Humai.

'abang Abil?' tanya Humai kepada diri sendiri.

"Waalaikumsalam abang." Teriak Humai.

Ceklek!

"Abang." Teriak Humai lagi, lagi dan lagi.

"Humai, suaranya sayang, aurat jangan teriak-teriak lagi," ucap Aiman.

"Eh iya Abang, afwan Abang, Humai lupa," jawab Humai sembari memeluk Aiman.

"Iya, iya tidak apa-apa kalau Humai lupa, tapi harus ingat ya," ucap Aiman.

"Ay, ay kapten," jawab Humai.

"Lucunya adek Abang," ucap Aiman dibalas senyuman oleh Humai.

"Ayo, Abang ajak adek jalan-jalan, mau ga?" Tanya Aiman.

"Mau, mauu," jawab Humai.

"Ya sudah, sana siap-siap. Jangan lupa kerudungnya yg panjang, jangan kaya orang sakaratul maut." Tegas Aiman.

"Siap Abang," jawab Humai.

Setelah mengatakan itu Aiman pergi dari kamar Humai menuju ruang keluarga. Saat sampai di ruang keluarga ternyata ayah Haidar dan bunda Husna sedang menonton tv. Dengan keisengan yang diatas rata-rata, Aiman duduk ditengah-tengah antara ayah Haidar dan bunda Husna.

"Abilll, kamu baru pulang udah bikin bunda kesal saja," ucap bunda Husna.

"Hehehe, Afwan bunda," jawab Aiman dengan senyuman indahnya.

"Sudah bunda, Abil," ucap ayah Haidar melerai keduanya.

"Ayah, bunda Abil izin bawa Humai pergi ya," ucap Aiman meminta izin.

MasyaAllah, Gus PangeranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang