🍂Part 22

15.5K 1.3K 1.2K
                                    

°Selamat membaca 📖°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°Selamat membaca 📖°


BERHASIL kabur dari manusia gila seperti Ashland membuat Adrea akhirnya mendesah penuh kelegaan setelah berlari cukup jauh sekitar 5 menit lamanya. Nafasnya terengah-engah, keringat bercucuran melewati kening hingga kesisi wajah. Tenggorakannya kering, tubuhnya melemas dan kini berjalan gontai.

Tepat didepan sana terdapat halte, Adrea perlu beristirahat sejenak sebelum kembali memikirkan bagaimana nasibnya selanjutnya. Ia berharap seseorang yang ia kenali lewat jalan ini dan membantunya. Tapi sepertinya harapan itu tidak ada melihat kondisi jalan yang begitu sepi, hanya beberapa kendaraan yang melintas bahkan bisa dihitung dengan jari.

Mendudukkan diri dibangku halte, Adrea mendongakkan kepala sembari memejamkan mata sejenak merasakan tubuhnya yang begitu penat. Darah dari luka yang didapatkannya tadi bahkan sudah mengering sekarang, masih perih tapi Adrea tidak terlalu peduli.

Berada disini saja rasanya masih mimpi. Sekarang Adrea merindukan dunianya, bukan disini.

Ini bukan tempatnya. Ini hanyalah novel hasil karangan seseorang, bagaimana bisa ia masuk kedalam dunia yang dulu sering ia baca dan dijabarkan melalui kata-kata?

Rasanya takdir suka sekali mempermainkan hidupnya. Hidup disini ujungnya untuk mati lagi buat apa?

Tunggu....

Kalau Ashland, jika pria itu tidak bertemu Erliza malam ini. Mungkinkah obsesinya itu akan beralih pada Adrea?

Sungguh! Adrea memang berniat mengubah alurnya dengan tidak ikut campur dalam konflik para tokoh.

Tapi....bukan menggantikan nasib Erliza juga! Ini bahkan jauh lebih buruk. Sangat sangat sangatlah tidak baik.

Tidak! Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. Ashland harus bertemu Erliza juga malam ini. Benar, agar novel ini berjalan sesuai alur!

Adrea mengigit kuku ibu jarinya sembari mengernyit dalam. Ia tengah berfikir, bagaimana caranya mempertemukan tokoh utama itu dengan sang antagonis. Terus berfikir akhirnya Adrea menemukan solusi. Matanya mengedar melihat sekitar, bibir ranum itu merekah kala menemukan apa yang ia cari.

Telpon umum.

Karna ponselnya yang lowbet hanya ini lah cara agar ia bisa menghubungi seseorang.

Adrea beranjak dan segera mendekati tempat telpon umum itu. Memasukkan koin dan nomor yang ingin dituju, panggilan pertama tidak diangkat Adrea kembali mencoba menghubungi sampai percobaan yang ketiga akhirnya panggilan itu terhubung.

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang