🍂Part 24

7.4K 1.1K 2K
                                    

°Selamat membaca 📖°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°Selamat membaca 📖°

"Adrea, makalahnya udah lo print belum?"

Adrea yang mulanya tengah bermalas-malasan, menegakkan kepalanya cepat. Ia melihat Ressa yang sudah berada disamping mejanya.

"Lah? Bukannya itu besok ya?"

Ressa menggeleng. "Barusan gue dapat info, katanya Buk Rini minta kumpulin buat di acc. Udah lo print belum?"

Adrea mengigit bibirnya. "Aduh gimana ya, Res. Yang kemarin itu belum sempat gue download, hehe sorry kelupaan." Ujar Adrea hati-hati seraya mengulas senyum tak enak.

Ressa memijit pangkal hidungnya mendengar pengakuan Adrea. "Astaga, Re! Yaudah buruan download cepet Buk Rini soalnya nungguin. Kalau udah sekalian aja tolong lo print, soalnya gue ada rapat OSIS habis ini." Jelas Ressa dibalas anggukan oleh Adrea. Setelah mengatakan itu Ressa segera pergi.

Adrea menghela nafas. Dikeluarkannya benda pipih disaku roknya, membuka dan segera mendownload filenya. Selama menunggu itu hingga selesai, Adrea menyerocos mengeluarkan unek-uneknya.

"Ini gara-gara si brengsek itu! Kalau aja gue nggak ketemu dia malam itu pasti gue nggak bakal lupa." Adrea berdesis dengan tangan mengacak-acak rambutnya, mulai gila, maybe.

"Aishh...gue harap setelah ini Ashland nggak ganggu gue lagi!" Adrea mendengus. Matanya melirik Erliza yang duduk dibagian depan pojok kanan, gadis itu tengah asik mendengarkan musik lewat earphone yang tersemat ditelinganya.

"Semoga obsesi itu tetap sama lo,...Erliza." Gumam Adrea.

Adrea segera bangkit setelah hasil downloadnya selesai. Ia berjalan keluar kelas, saat melewati Erliza, Adrea tersenyum simpul begitu gadis itu menengok padanya. Kemudian Adrea benar-benar pergi. Tujuannya saat ini ke koperasi sekolah.

Di jam istirahat begini, biasanya koperasi sekolah selalu ramai. Entah itu karna siswa yang membeli alat tulis, print, fotocopy, dll. Antrian panjang serta berdesak-desakkan membuat bahu Adrea melemas begitu ia sampai disana. Ia menatap nanar pada sekumpulan para siswi yang terlihat mendesak satu sama lain.

"Trobos aja lah!" Pungkas Adrea lalu segera bergabung diantara mereka yang mengantri. Tubuhnya terdorong-dorong akibat bersenggolan, Adrea menipiskan bibirnya menahan diri untuk lebih bersabar dan tidak mengeluarkan sumpah serapahnya.

Sabar, Re. Demi tugas!

Adrea berjinjit dengan dagu yang ia angkat tinggi-tinggi, posisinya yang berada dibelakang ditambah dirinya yang pendek membuat Adrea kesulitan.

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang