KITA INI TEMAN

10.5K 678 29
                                    

Assalamu'alaikum

Jangan lupa follow ig author:@wp.gulajawa
Gus Agam : agamganteng_12


Sebelum membaca awali dengan
Bismillahirrahmanirrahim

***HAPPY READING***


Seraya menunggu Gus Agam, mas Iqbal dan teman lainnya menunggu didalam kamar Gus Agam.

Saat mereka membuka pintu kamar tersebut, kamar begitu rapih. Tidak ada debu sama sekali, boneka beruang terpajang di dinding, disusun dengan begitu rapihnya.

Namun, hawanya sedikit berbeda. Seakan-akan kamar itu tidak pernah dihuni oleh siapa pun.

Zain melangkah mendekati ranjang, dengan perlahan duduk ditepi ranjang tersebut.

"Wah, kamar Fikar wangi juga ya. Tapi wanginya bukan kek wangi tubuh dia," ucap Zain.

"Iya betul," sahut yang lain.

"Ini bukan parfum Gus Agam," sahut mas Iqbal.

Semua orang menoleh kearah mas Iqbal. Seakan bertanya tentang wangi tersebut.

"Ini parfum Ziva," jelas mas Iqbal membalas tatapan teman-temannya.

"Astaghfirullah, seterpuruk itukah dia?" tanya Alman.

"Bukan itu aja, lihat," Kenzo menarik gorden balkon. Semua menatap kearah yang Kenzo tunjuk. Disana banyak sekali puntung rokok.

Mereka terkejut dengan berapa jumblahnya, karena jumblahnya tak dapat mereka hitung.

"Ommo!!! Fikar ngudud?" seakan tak percaya, Zain lekas mendekat kearah puntung rokok yang sudah dihisap itu.

"Wah, gawat!! Pabrik rokok bisa-bisa tutup karena kehabisan stok, yang dihabisin Fikar," celoteh Zain.

"Tapi menurut gue, memang si Fikar bener-bener obsesi banget sama istrinya. Dilihat dari segala gerak geriknya. Dari yang ngerokok melebihi kadar maksimal, sampai tidur dikuburan. Gila sih," ucap Bizar.

"Iya cuy, pas Iqbal cerita dia suka pulang glepotan. Gue pikir Fikar itu ngepet di selokan makanya kotor," celetuk Zain yang mendapat pukulan keras di bahunya.

Plaak.

"Ahhhgtt!!" teriak Zain.

"Ngomong tu difilter!!" sentak Kenzo yang memukul pinggul Zain.

"Sip bos," Zain lekas mencari ponselnya, memotret bibirnya, lalu memberikan beberapa filter pemutih. "Nih, udah gue filter," sambung Zain.

"ZAIN CASEMIRO!!" geram Kenzo.

"Sudah-sudah. Seharusnya kita harus bersyukur. Beruntung Fikar langsung sadar. Ternyata gak sia-sia Iqbal teriak dikuburan," balas Alman seraya merangkul mas Iqbal.

"Bukan karena saya. Tapi karena Allah yang menggerakkan hati Gus Agam," balas mas Iqbal.

Taklama terdengar suara bayi menangis, mereka terdiam mendengar tangisan itu.
Saat Kenzo berlarian kearah pintu dan hendak membukanya, langkahnya terhenti oleh suara mas Iqbal.

"Jangan!! Biarkan Gus Agam bertindak, Azam adalah anak nya."

Semua menoleh kearah mas Iqbal. Tak lama mereka akhirnya faham dan mengangguk. Mereka memilih untuk menunggu saja.

***

Beberapa menit berlalu, tak lama terdengar langkah kaki mendekat kearah pintu. Pintu perlahan terbuka, disertai salam dari Gus Agam.

istri mungil nya Gus Agam (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang