1

92K 4.1K 120
                                    

Siapa yang tidak mengenal Direktur, sekaligus putri sulung Ganda Gallio Diraja?

Semua makhluk di Merc Company akan menundukkan kepalanya, bila perlu menembus lapisan bumi jika bersitatap dengan atasan mereka dalam keadaan bermasalah.

Marsya Gallio Diraja, perempuan dewasa dengan skill dan mental di atas rata-rata.

Di bawah kepemimpinannya, ia memegang isi lambung ribuan spesies adam dan hawa beserta anak cucunya.

Pintar, tangkas, bijaksana tapi menikam dan tentunya cantik.

Ia tipe wanita akhir zaman, yang mementingkan karier di atas segala-galanya.

Usianya yang sudah matang, tidak sekalipun ia habiskan untuk hal yang tidak berguna.

Pacar?

Ia tak punya.

Mantan? Apalagi!!

Jenis kaum hawa saja, sudah membuatnya pusing.

"Mas Dewa udah makan?"

Seperti sekarang, contohnya.

Setiap hari, yang dilakukan adiknya, yang sama jenis kelamin dengannya itu menghubungi sang pacar, jikalau ia sedang tidak ada kegiatan.

Bukan tidak ada.

Tapi, malas.

Itu salah satu contoh orang yang tidak akan berhasil.

Larut dalam romansa picisan.

Marsya bukan tipe seperti itu.

"Ayu lagi di rumah, mas mau main ke sini?"

Marsya menatap sinis adiknya.

Ia ragu, apakah mereka lahir dari rahim yang sama?

Kenapa sifat Ayu---adik satu-satunya---berbeda dengannya.

"Boleh juga, Ayu tunggu di depan ya?"

Ayu mematikan telponnya, lantas melihat sang kakak.

"Mas Dewa bawain batagor, Mba mau?"

Marsya menatap jijik sang adik.

Apa katanya tadi, batagor?

Pacaran nggak modal banget. Padahal, ia tahu berapa gaji laki-laki yang tak lain karyawan di perusahaannya.

"Mau nggak?"

"Kamu aja. Mba kenyang!"

Fokus Marsya kembali pada majalah bisnis di tangannya.

Sementara Ayu, sudah berlari keluar menunggu pujaannya datang.

Marsya menggeleng, pantesan saja skripsi Ayu tidak selesai dalam waktu satu tahun.

Kerjaan anak itu, cuma pacaran.

"Masuk Mas!"

Marsya mengerutkan keningnya, ketika mendengar adiknya menyuruh seseorang masuk.

Bukannya tadi dia bilang tunggu di depan?

Marsya melihat dengan ekor mata pada laki-laki yang sudah membuat cita-cita adiknya terhambat.

Mungkin, ini saat yang tepat untuk menegur pria itu.

Dewangga Linggar, kekasih sang adik mengangguk sopan dengan wajah datarnya.

"Ayu, kamu nggak mau bikin minum buat pacarmu?" sinis Marsya pada adiknya, agar segera hengkang untuk sementara waktu.

"Hah?"

"Nggak usah repot-repot. Saya cuma sebentar."

Marsya menatap adiknya tajam, hingga Ayu bergegas ke dapur.

"Kamu tahu, Ayu sedang menyelesaikan pendidikannya?"

Dewa mengangguk dengan mata melihat kakak kekasihnya, sekaligus atasannya.

"Dan, kamu tahu satu tahun ini dia ngapain saja, sampai skripsinya tidak kunjung selesai?"

Dewa menengguk ludahnya.

Ranah yang di bicarakan atasannya ini sedikit menganggunya.

"Kamu yakin tidak terlibat?" tanya Marsya melihat raut tak nyaman dari wajah Dewa.

"Orang tua kami terlalu sibuk, jadi keputusan akhir Ayu, tetap di tanganku. Kamu paham?"

Oh.

Dewa ingin sekali mengirim wanita di hadapannya ke negara yang penuh konflik.

Agar tahu, bagaimana menjaga ucapannya kalau tidak mau diculik dan berakhir dengan penemuan mayat.

Marsya tidak butuh jawaban pria itu. Maka, ketika melihat adiknya dengan senyum malu-malu meongnya, ia meninggalkan ruang tamu.

"Mbak Marsya, ada ngomong apa?"

Dewa tersenyum, rasa panas yang dirasakannya tadi berganti kesejukan.

Lihatlah, betapa santun dan lemah lembutnya sang kekasih.

Berbeda dengan kakaknya.

Nama Ayu memang cocok untuk wanita ini.

Cantik dan lemah lembut.

"Kok malah senyum-senyum sih?" Ayu jadi salah tingkah.

"Kamu cantik Dek," jujur Dewa. "Ibu suka yang begini," kata Dewa lagi, membuat wajah cantik Ayu merona.

Dewa sudah lama menyukai Ayu, dan kesempatan dekat dengan adik atasannya itu tidak disia-siakan. Hingga, Ayu mengatakan nyaman dekat dengannya.

Ia juga nyaman.

Cinta juga.

Ibu Dewa, juga lemah lembut. Setiap tutur katanya menjadi penyejuk bagi yang mendengarnya.

Dan, sekarang ia temukan pada Ayu Gallio Diraja, yang tak lain anak dan adik pemimpin perusahaan yang sudah membesarkan namanya.

"Kapan ya, Ayu bisa ketemu ibu, Mas?"

Dewa mengusap sayang kepala kekasihnya. "Setelah lulus, Mas janji."

Rona cantik di wajah Ayu, membuat Dewa gemas. Jantungnya bertalu-talu, di dalam sana.

Wanita didepannya, memang jauh lebih muda darinya. Tapi dua tahun ini, Ayu sudah membuktikan, kalau dirinya bisa mengimbangi pria yang 13 tahun lebih tua darinya.

Dan, Dewa bangga memiliki Ayu sebagai kekasihnya.

"Papa kapan pulang?"

"Mba Marsya bilang, dua bulan lagi," sahut Ayu tidak bosan menatap wajah tampan kekasihnya.

Hati seorang Dewangga, akan merekah ketika matanya melihat wajah kekasih. Cintanya, tak sanggup melukiskan bagaimana ia sangat mencintai gadis di depannya.

Satu minggu tidak bertemu, cukup membuat laki-laki itu rindu pada gadis pujaannya.

Dan...

"Ekm!!!"

Pasangan yang sedang dimabuk cinta itu terlonjak kaget.

Bagaimana tidak, baru saja Dewa menempelkan bibirnya pada bibir Ayu, tapi malah kepergok calon kakak ipar.

Dewa sempat melirik atasannya, yang bersedekap berdiri di tangga.

"Mau pulang, Dewa?"

Dewa mengerang dalam hati.

Baru saja, dia diusir kan?

"Iya Bu. Saya permisi!"

Saking malu dan marah, Dewa lupa berpamitan pada kekasihnya.

Sumpah.

Dewa mengutuk kakak kekasihnya itu. Dengan segala kutukan maha dahsyat.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang