2

51.4K 3.2K 63
                                    

"Tidak ada cara lain, Marsya!"

"Ayolah Pa, kita pikirkan jalan keluarnya."

Marsya, mengetuk ujung penanya di meja. Memikirkan berbagai cara setelah Papanya memberikan kabar buruk tentang kelangsungan perusahaannya.

Gallio Diraja, hanya mempunyai dua anak. Dan keduanya perempuan. Ia tidak memiliki pewaris, dan adik ayahnya akan mewarisi seluruh saham termasuk aset perusahaan akan jatuh ke tangan Mehram Diraja.

"Temukan laki-laki, dan menikahlah!"

Marsya, akan memikirkan jalan keluar itu terakhir kali. Ketika ia tidak mempunyai cara lain.

Menikah.

Dia seperti alergi dengan istilah itu.

"Pakai---"

"Lakukan itu, atau serahkan semuanya pada Om-mu!!"

Gallio keluar, ia menyerahkan keputusan di tangan putri sulungnya yang sudah bergerilya di Merc Company selama enam tahun, hingga mencapai posisi Direktur.

Marsya mengerang. Bertahun-tahun, ia habiskan waktu dan kemampuannya di perusahaan kakeknya.

Papa dan dirinyalah yang membuat perusahaan Merc Company berdiri gagah hingga terkenal keluar negeri.

Melalui tangan besinya, investor asing mempercayakan saham pada perusahaannya.

Dan, sekarang lulusan Oxford itu harus menyerah?

Baiklah.

Menikah!

Tapi dengan siapa?

Siapa pria yang bisa dipercayakan Marsya?

Ini bukan novel, atau cerita picisan yang sering dibaca oleh adiknya.

Ini menyangkut kehidupan dan kesejahteraan ribuan karyawan yang menggantungkan nasib di perusahaannya.

Bayangannya sudah terpikirkan sejak awal, kalau perusahaanya jatuh ke tangan Mehran Diraja, akan berakhir seperti apa.

Satu minggu, benar-benar menyita waktu dan energi. Selain perusahan yang tengah disibukkan dengan berbagai peluncuran brand baru dan perjalanan bisnis, Marsya juga tertekan dengan masalah individual dalam keluarga besarnya.

Tapi, tidak ada seorang pun yang tahu masalah yang sedang dihadapi wanita itu. Kecuali, Melinda, anak sang sekretaris yang turun menurun dari masa Ayahnya menjabat Direktur yang kini menjadin sekretarisnya.

Selesai meeting, ia melihat beberapa karyawan masih berada di ruang meeting.

Matanya menangkap sosok Dewangga, yang tak lain kekasih adiknya, di antara para karyawan yang masih berada di ruang meeting.

Pria itu tengah serius menjawab pertanyaan dan menjelaskan sesuatu dari balik laptop, pada karyawan dibawah tanggung jawabnya.

Dewangga, yang sudah menjabat kepala Direksi selama enam tahun. Marsya sepertinya perlu mengetahui lebih dalam lagi mengenai Dewannga Linggar.

Marsya berdiri, siap meninggalkan ruang rapat dan kembali ke ruangannya.

"Bawakan aku arsip Dewangga Linggar!"

Melinda yang baru saja masuk ke dalam lift khusus direktur, melongo.

"Maksud Ibu, Dewa-nya Ayu?"

Tatapan sinis Marsya membungkam mulut Melinda.

"Segera, Bu."

Lift berdenting, dan terbuka di lantai dua puluh. Karena Melinda, akan mengambil keperluan yang baru saja diperintah Marsya.

Tidak ada lagi yang dipikirkan Marsya.

Termasuk Ayu, adiknya.

Kehilangan Dewa, ia tidak akan busung lapar.

Tidak lama, Melinda muncul di depannya.

Marsya membuka map biru, berikut beberapa daftar yang sudah dipersiapkan sekretarisnya.

Dewangga Linggar.
Tempat tanggal lahir: Kota Bumi, Lampung, 25 Agustus 1986

Jabatan : Kepala Direksi sejak tahun 2013.

Cukup, hanya itu yang perlu diketahui Marsya.

Penunjang lainnya adalah, prestasi Dewa selama menjabat kepala Direksi.

Sangat memuaskan.

Dan satu keputusan, sudah tercetus dalam kepalanya ketika melihat Dewa di ruang meeting tadi.

Dan, melalui sambungan telepon ia sudah memberitahu papanya.

****

Gallio memijat kepalanya.

Permintaan Marsya, sangat membingungkan.

Ia tahu, hubungan Dewa dan putri bungsunya. Dan sekarang, permintaan Marsya menikah dengan Dewa.

Ayah mana yang sanggup, membuat keputusan sebesar itu?

"Kembalikan saja ke Mehran."

"Tidak. Air mata dan darah sudah kukorbankan untuk perusahaan itu!!"

Ratu---ibu Marsya dan Ayu--- menepuk lembut lengan suaminya.

"Kamu nggak kasihan Ayu, Marsya?"

Marsya menatap datar mamanya. "Kalau patut dipertanyakan adalah, nasib ribuan orang yang sudah membantu perusahaan hingga bisa bertahan sampai saat ini."

Ratu dan Gallio saling tatap.

"Ayu, tidak akan mati tanpa laki-laki itu!"

Ratu meringis. Ucapan anak sulungnya selalu tajam.

"Kamu, nggak ada calon lain, Marsya?"

Gallio berdeham, ia ingin sekali menarik istrinya ke kamar. Karena sudah membangunkan singa di tangan malam buta begini.

Benar saja, tatapan elang Marsya menghunus mamanya.

"Kalau kamu pernah pacaran, kamu pasti tahu bagaimana rasanya patah hati!"

"Mama mengutukku?"

Ratu menggeleng, sikap keras kepala hampir semuanya diwariskan pada si sulung.

Tapi, kenapa segi percintaan tidak sedikitpun tertular?

"Kamu yakin dengan Dewa?" kini Gallio yang memantapkan keputusan terakhir sebelum semuanya terlambat.

"Papa, You know me!"

Dan, setelah pembicaraan penting tengah malam di ruang kerja Gallio, Marsya keluar.

Ia akan bertindak besok.

Setelah mendengar instruksi papanya.

Dewangga Linggar.

Aku memilihmu.

Tidak ada karena atau sebab.

Kau layak memimpin Merc. Company.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang