11

19.9K 2K 111
                                    

.


Bulan telah berganti, dan purnama kembali menyapa di penghujung tabir senja. Menemani wanita yang tengah menikmati suasana malam, dengan cahaya rembulan dan taburan bintang.

Perubahan pada tubuhnya semakin terlihat. Terutama bagian perutnya yang semakin membesar karena usia kehamilan yang sudah masuk delapan bulan.

"Kenapa di luar?"

Marsya menoleh, melihat siapa yang datang.

"Cari angin."

"Sudah larut, masuklah!"

Marsya menurut, perlahan ia bangun. Beban perutnya semakin terasa. Apalagi, berat bedan yang juga ikut naik.

Dewa mengulurkan tangannya, ketika pintu kaca selesai dibukakan.

"Awas kaki."

Marsya melihat ke bawah, batas engsel setumit itu sering mengenai kakinya.

"Nggak mandi?" tanya Marsya ketika melihat Dewa ikut bergelung dalam selimut.

"Sudah larut."

Bukannya tidur, Dewa memijat pelan bahu dan lengan istrinya. Marsya tidak pernah meminta apapun, seperti wanita hamil pada umumnya. Segala sesuatu sanggup dilkukanya sendiri. Dan, hanya ini yang bisa dilakukan Dewa selain membuat susu untuk istrinya dipagi buta.

Sentuhan itu membuat Marsya nyaman dan memejamkan matanya. Anggota tubuhnya terasa rileks, tidak tegang lagi setelah aktivitasnya seharian ini.

Dewa mengamati wajah istrinya. Meski chubby, masih terlihat cantik dengan aura berwibawa.

Kecantikan seorang Marsya tidak meninggalkan kesan lembut yang tersembunyi dalam diri wanita itu.

Sedikit banyak, Dewa mulai tahu sifat asli istrinya. Kedewasaan yang dimiliki Marsya mampu menormalkan keadaan. Kelembutan wanita itu sanggup membuat orang-orang dihargai. Dan, kecantikan wanita itu, terbalut sempurna bersama hal istimewa, yang membuat Dewa menjatuhkan hati padanya.

Perlahan, Dewa mengecup Kelopak mata yang sudah terpejam indah. Ia membingkai wajah istrinya dalam memory-nya. Mengunci dalam haribaan sanubarinya.

"Jadi jemput ibu?" 

"Jadi."

Marsya mengisi piring Dewa, ketika pria itu sudah duduk. Sarapan pagi seperti biasa, setelah lima bulan mereka pindah ke rumah yang dibeli Dewa.

Rumah yang cukup besar, mengingat posisi keduanya di Merc Company. Akan ada manusia yang berkunjung ke rumah mereka, baik kunjungan karyawan ataupun relasi bisnis.

Keduanya mempersiapkan segalanya. Terlalu sempurna, seperti hati Dewa untuk Marsya. Sedangkan Marsya, menghiasi ruang hati itu dengan kenyamanan dan ketenangan lahir batin.

"Jangan masak apapun. Ibu bawa lontong."

Marsya tersenyum. Ia hanya bercanda di telepon waktu itu, tapi ibu mertuanya menganggap serius.

"Aku pergi."

"Hm."

Kecupan di kening, sudah biasa diterima Marsya. Tapi, pagi ini ada yang berbeda.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang