12

28K 2.3K 152
                                    

"Buat siapa?"

"Ayu."

"Dia bisa turun sendiri!"

Dewa tidak suka dengan kepedulian Masrya. Bukan tanpa sebab, ia harus melihat istrinya naik turun ke lantai dua untuk mengantar makan siang Ayu, dengan perut sebesar itu.

"Minta tolong bi Irna saja."

Marsya menggeleng. "Lihat 'kan tadi? Lontong aja harus dibawa turun lagi."

"Perut kamu sudah besar. Kamu nggak capek?"

"Atau Mas aja, mau?"

Dengan cepat Dewa menggeleng. "Aku anterin."

Marsya tidak menolak, dutuntun Dewa ia menaiki tangga menuju ke kamar Ayu.

"Tunggu di sini. Aku mau bicara dengannya."

Ketika Marsya meraih gagang pintu, Dewa menginterupsi. "Jangan pakai emosi, ingat dedek."

Marsya mengangguk dan meninggalkan Dewa di luar.

Pemandangan yang pertama ia lihat, adalah kamar bak kapal pecah.

"Mba baru tahu, seorang model yang tengah naik daun, cantik dengan prestasi yang luar biasa, bisa tidur dengan keadaan kamar seperti ini."

"Aku nggak tidur!"

Marsya meletakkan piring di atas nakas, dan perlahan melangkahkan kaki menghampiri Ayu.

"Menangis? Untuk apa?" tanya Marsya ketika sudah duduk.

Suara isakan Ayu membuatnya tersenyum penuh arti. Apa yang bisa ia letakkan di pundak gadis itu, jika adiknya masih bersikap seperti ini.

"Katakan pada Mba, ada apa? Kenapa menangis seperti ini, sampai tidak mau ketemu manager-mu?"

Posisi Ayu masih telungkup, ketika Marsya bersandar di punggung ranjang.

"Anak Papa hanya ada kita. Sampai kapan sikapmu seperti ini? Ada masalah bicarakan!"

"Untuk apa? Mba punya solusi? Dan bisa memberikan solusi itu untukku?"

Balasan Ayu yang cepat, serta tubuhnya yang sudah berbalik menghadap sang kakak.

"Apapun akan Mba berikan, selain kehidupan Mba. Garis kehidupan manusia itu berbeda, meskipun kita sedarah!"

Mendengar permintaan Ayu, Marsya tahu. Permasalahan adiknya tidak jauh dari laki-laki yang akan menjadi ayah anak-anaknya.

"Kamu tahu, kenapa dari dulu Mba tidak pernah pacaran?"

Ayu bergeming. Jawaban Marsya sudah didengarnya. Jadi sekarang ia tidak ingin mendengar apapun lagi. Tapi, ia juga tidak berhak mengusir Marsya.

"Bukan takut seperti kamu saat ini. Yang masih mengharapkan laki-laki yang jelas-jelas sudah menjadi suami orang. Dan orang itu Mba-mu sendiri. Sedangkan laki-laki itu sudah melupakanmu, dan mulai bangkit dan menerima takdir kehidupannya."

"Jodoh tidak ada yang tahu!"

Marsya mengerutkan keningnya. Jawaban sang adik, sedikitnya mengusik perasaan nyamannya.

"Kamu mau bikin sinetron?"

Ayu mengendikkan bahunya. Sebelah tangannya mengusap mata yang masih berjejak air mata.

"Jadilah berlian dalam lumpur pasir. Maruahmu tidak diukur dari sebesar apa perasaanmu, tapi...setinggi apa harga dirimu yang coba kamu pertahankan."

Marsya bangun. Ia membelakangi Ayu. Sebelum langkahnya menapak, ia melanjutkan kalimatnya. "Kelak, kalau mata ini tertutup dan jasad ini terkubur. Kamu akan berjuang sendiri jika masih mengharapkannya. Dia...sudah menemukan kekasih sejatinya!"

Setelah mengatakan itu, Marsya keluar. Meninggalkan Ayu yang kembali terisak.

Ayu mengerti ucapan Marsya.

Hati Dewa...

Lelaki pujaannya...sudah terpaut pada hati Marsya.

Dewa-nya...

...tak akan pernah bisa diraih lagi.

Ayu memukul dadanya.

Kesakitan yang ia rasakan, sepertinya akan berbekas lama. Ia tidak mau melepaskan rasanya, rasa itu membelenggu dengan kuat.

Ia tidak akan bisa...

"Kenapa?"

"Perutku..."

Dengan cepat, Dewa menggendong Marsya dan membawa turun. Kepanikannya, sangat terkendali.

"Marsya kenapa, Dewa!?"

"Mungkin sudah waktunya, Bu!" Dewa membawa Marsya ke kamar.

"Perkiraannya bulan depan!"

Marsya menggigit bibirnya.

Ini sakit.

Pinggangnya, perutnya dan hatinya...

Ketika ia memejamkan matanya, tangisan memilukan Ayu terus membayangi.

Ucapan Ayu membuat hatinya sakit, bukan karena dirinya merasa terancam. Melainkan, bagaimana Ayu menghambakan dirinya pada cinta.

Kepanikan ibu mertuanya dan bi Irna tidak mengusik pikiran Marsya di tengah kesakitan yang sedang dirasakannya.

"Marsya, buka matamu!"

"Sayang, kita ke rumah sakit ya?"

Apa sekarang saatnya?

"Mas..."

Marsya berusaha tersenyum di tengah kesakitannya, lelakinya...suaminya...ayah anaknya...menangis.

"Aku...aku...tidak apa-apa." suara itu sangat lemah. Tidak kekuatan dalam nada kalimatnya.

Ini...bukan Marsya.

Dewa memeluk tubuh istrinya. Mengucapkan kalimat penenang, surat yang bisa meringankan beban istrinya.

Marsya merasakan tubuhnya melayang, dan suara orang-orang tadi berkurang bersamaan deru mobil.

"Sayang, apanya yang sakit? Katakan!"

"Mas..."

"Iya." Dewa mencium kening Marsya.

"Apa...ditinggalkan itu...sakit?"

Dewa mematung, matanya tidak bergerak sedikitpun dari manik wanita di pangkuannya.

"Ayu...dia kesakitan."

Suara Marsya...teramat lemah di antara elaan nafas yang tertelan.

"Ayu..."

"Aku cinta sama kamu. Bertahanlah untukku, dan anak kita. Berjuanglah!"

Mata wanita itu kian meredup, namun kesadarannya masih utuh. Dan, dia bisa merasakan telapak tangan Dewa mengusap dadanya. "Aku tidak akan bergerak se-inci-pun dari sini."

Dewa mengecup mata istrinya yang mengeluarkan bulir kristal.

Marsya ingin meminta satu hal... 'Bahagiakan dia, seperti Mas membahagiakanku...'

Tapi...

...ucapan itu bertahan di kerongkongannya.

Padahal ia bersusah payah mengeluarkan kata-kata itu.

Sesuatu seperti menahannya...

Dan hal terakhir kali yang ia ingat adalah...

...kecupan singkat di sudut bibirnya, juga tetesan hangat di pipinya

-

Cerita lengkap bisa baca di karyakarsa

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang