15

12.6K 1.5K 119
                                    

"Kehilangan, seberat itu. Tapi, aku salut dengan ketabahan Bilal."


Marsya tidak menanggapi, ia fokus ke jalan. Namun, rungunya menyimak dengan baik ucapan suaminya.


"Aku memberikan semangat untuknya hari itu, di pemakaman istrinya. Sedangkan aku, tidak tahu apa jadinya jika kejadian itu menimpaku."


Hanya sedetik keduanya beradu pandang, setelahnya Dewa kembali fokus mengemudi.


"Menurut Mas, kehilangan seperti apa yang akan membuang logika?"


"Kamu."


Marsya tertawa pelan.


"Kenapa ketawa? Kamu bertanya menurutku. Dan, kamu-lah jawabannya."


Marsya tersenyum, ia percaya. Dan, tidak bertanya lagi. Maksud pertanyaan tadi bersifat umum, tapi karena Dewa menjawab seperti itu, tidak jadi masalah baginya.


"Kamu sendiri?"


"Aku?" ulang Marsya.


"Hm." 


"Sama aja dengan jawaban Mas!"


Dewa menggeleng, "Jawab saja."


Marsya berdeham pelan, matanya sudah teralih dari suaminya. "Kehilangan itu, seseorang yang kita anggap penting, memilih berhenti berjuang bersama."


Kernyitan kening Dewa tidak mengganggu Marsya. Wanita itu malah tersenyum penuh arti, ketika kembali memperhatikan suaminya.


"Aku, seberapa penting untukmu?"


Senyum Marsya membuat Dewa ingin tahu lebih, jawaban wanita itu. Ia mengerti arah jawaban Marsya, tapi ingin makna yang sebenarnya 


Elaan nafas Marsya terdengar samar di rungu pria itu.


Bukan lelah, apalagi lega.


"Bagiku, sebuah akad itu kuat. Sekuat gunung, yang menancap di bumi."


Rasa hangat menerpa relung hati ayah Marwa. Marsya tidak menyebut namanya, tapi kekuatan kalimatnya menunjukkan sosok dirinya dalam jawaban wanita itu.


Tatapan Marsya yang dingin, tidak membuat Dewa risih. "Senyummu, mencurigakan."

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang