🏠 ° Jae's home

1.4K 244 182
                                        

Brian mengantar Jae sampai depan pagar rumahnya, dia ingin mengembalikan sesuatu milik Jae tapi pemuda manis itu keburu menyeretnya masuk ke dalam rumah

"duduk disini sebentar jangan kemana-mana, aku segera kembali." titah Jae lalu memasuki kamarnya di lantai atas.

sembari menunggu Jae yang masih belum keluar dari kamarnya, Brian mengedarkan pandangannya melihat sekeliling rumah milik kakak kelas favoritnya

rumah yang sederhana namun kehangatan di dalamnya sangat terasa, berbeda dengan rumahnya yang hanya diisi dengan kekosongan  jauh dari kata nyaman. banyak foto-foto mulai dari Jae kecil sampai dewasa dipanjang di dekat tangga dan beberapa sisi rumah, ada juga foto ibu dan ayahnya. keluarga yang bahagia, Brian jadi iri.

"kau suka apa? susu? cokelat panas atau dingin? teh? jus? atau air putih?" tanya Jae yang baru keluar dari kamarnya sudah berganti baju dan hanya mengenakan celana pendek menampakan kaki jejang mulusnya  membuat Brian tak berkedip.

"aish, hei! mau minum apa?" tanya Jae sekali lagi.

"apa saja hyung" jawab Brian cepat.

Jae berjalan ke arah dapur lalu menghidupkan kompor menaruh panci berisi air di atasnya, setelah itu berkutat dengan mug juga teh instan yang diseduhnya

beberapa saat kemudia Jae kembali meletakan mug berisi teh itu di meja, "minum dulu," lalu kembali lagi ke dapur.

Jae menaruh air yang baru saja direbusnya ke dalam baskom dan membawa handuk kecil beserta baskom tersebut ke ruang tamu. Jae mencelupkan handuk kecil itu ke dalam baskom berisi air hangat dan memerasnya lalu memberikannya pada Brian

"kompres dulu luka lebam di wajahmu, nanti akan ku obati"

Jae hendak berdiri lagi untuk mengambilkan kotak p3k di dapur namun pertanyaan dari Brian menahannya sesaat

"kenapa kau baik padaku, hyung? padahal kita belum kenal lama."

"terus kau mau aku bagaimana? mau ku pukul pakai gitar ku?"

"hehe, jangan..galak sekali, padahal aku cuma tanya"

"kau banyak tanya."

Jae kembali dari dapur meletakan kotak p3k di atas meja lalu mendudukan dirinya berhadapan dengan Brian

"aku heran, kenapa setiap bertemu kau harus luka-luka seperti ini?" tanya Jae dibalas gedikan bahu oleh Brian.

"berarti kau memang ditakdirkan untukku, hyung. aku yang terluka dan kau yang mengobatinya"

Jae menutup kedua telinganya membuat Brian tertawa kecil. "aduh kupingku tuli, kau bicara apa tadi aku tidak dengar?"

"tidak dengar atau tidak dengar? sudahlah hyung akui saja."

dari pada mendengarkan omongan tidak jelas adik kelasnya itu Jae memilih menghidupkan televisi dan mencari acara kesukaannya, sementara Brian masih mengompres luka lebam di tulang pipi dan sudut bibirnya

"sshhh" desis Brian entah keberapa kalinya tatkala lebamnya yang sengaja ia tekan.

"enak tidak?" tanya Jae.

"hah? apanya yang enak hyung?"

"ya lukanya, siapa suruh baku hantam. lagi pula kan diselesaikan dengan cara baik-baik bisa, tidak perlu sedikit-sedikit pakai otot" Jae duduk di karpet bulu di depan televisi membawa kotak p3knya. "sini," sambil menepuk space kosong disampingnya.

Brian menyusul Jae duduk di karpet bulu, memperhatikan pemuda manis itu yang sibuk dengan kotak p3knya

entahlah, tapi Brian rasanya seperti habis menang lotre dengan hadiah uang nominal besar ketika Jae memperhatikannya seperti ini. Brian senang ketika Jae mengikutinya, Brian juga senang Jae mengkhawatirkannya seperti ini. Jujur saja bahkan ibunya pun tidak pernah memperhatikannya seperti ini, jika melihat Brian pulang dengan keadaan bau asap rokok dan penuh luka lebam ibunya hanya akan memarahinya dan menceramahinya banyak hal yang tentu saja masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

[✓] 𝗮𝗻𝗻𝗼𝘆𝗶𝗻𝗴 𝗯𝗿𝗶, 「 JAEHYUNGPARKIAN 」Where stories live. Discover now