Chapter 3

20.4K 2.4K 38
                                    

"Ayah aku mohon berilah aku hukuman atas segala perbuatan tidak baikku dimasa lalu!" Ayah menatap diriku yang sedang membungkuk 90 derajat di hadapannya dengan bingung.

Apa anaknya salah makan?

"Aku tidak tahu kau bisa merenungi kesalahanmu secepat itu, biasanya kau selalu mengelak dan marah."

Dasar Diana di My Beloved Lady. Dia benar-benar membuat aku malu karena harus menanggung banyak kesalahan yang telah dia perbuat!

"Baiklah jika kamu menginginkan hukuman." Ayah membuka beberapa gulungan dan melihat sesekali ke beberapa lembar kertas.

Aku menunggunya. Ayah bekerja dengan keras sebagai seorang Duke, bagaimana bisa Diana di "My Beloved Lady" tidak menghargai kerja keras ayahnya dan berakhir menjadi bentuk hinaan bagi keluarganya?

"Baiklah ini dia." Aku mendekati meja kerja ayah dan melihat isi dari beberapa kertas yang ayah tunjukkan.

"Wilayah kita cukup jauh dengan pusat kerajaan, jadi pertolongan yang selalu kita minta untuk kebutuhan wilayah kita selalu datang terlambat. Jadi aku ingin kamu mengurusi salah satunya." Ayah menyerahkan sebuah kertas dokumen.

"Daerah ini tak jauh dari kediaman kita, dengan menaiki kereta kau akan sampai selama 10 menit. Di sana adalah lahan yang tandus yang tidak dapat diairi, penduduk di sana kesusahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jadi aku ingin kau bertanggung jawab atas kasus ini," Jelas ayah.

Aku mengangguk paham. Kemudian pamit dan berjalan menuju perpustakaan. Sebelum aku pergi ke lapangan setidaknya aku harus mempelajari keadaan geometris daerah yang akan aku tangani.

Reyland membantuku memilih beberapa buku yang cukup penting dan memberikan juga beberapa informasi dari buku-buku yang sudah dia baca. Apple menyajikan teh dan juga cemilan manis untuk menemani kami bekerja.

"Nona Diana, tanah di sana tidak bisa menyerap air dengan baik. Tetapi, penyebabnya belum ditemukan." Reyland memperlihatkan buku yang sedang ia baca.

Aku ikut membacanya. Berarti aku harus pergi ke lapangan untuk melihat kondisinya secara jelas.

"Reyland, dari mana asalmu?" Tanyaku. Tiba-tiba aku memiliki ide.

"Saya dari sebuah desa yang cukup makmur di barat daya Seina."

"Seperti apa desamu itu?"

"Desa kami memiliki ciri khas dengan hutan pohon pinus dan karena desa kami merupakan perlintasan perbatasan banyak juga penginapan yang didirikan." Aku mengangguk mendengar penjelasan Reyland.

"Aku yakin, wilayah kita pun memiliki ciri khasnya sendiri. Aku pikir kita dapat memanfaatkannya untuk membantu warga di sana menghidupi kehidupannya."

***


Kereta kuda melaju dengan kecepatan sedang. Hari ini aku akan melihat langsung keadaan daerah yang akan aku tangani. Untung saja aku ini berotak cerdas, jadi tidak sulit untukku memahami keadaan di sana.

Apple duduk di seberangku dengan beberapa buku di sampingnya. Siapa tahu aku akan menemukan solusi saat berada di sana.

Huh? Aku merasa heran karena selalu melihat bunga-bunga yang berwarna putih dengan bagian benang sarinya yang berwarna merah di sepanjang jalan.

"Apple, aku tidak pernah melihat bunga itu sebelumnya."

Apple kemudian melirik keluar jendela, "Anda benar nona. Tetapi, jumlahnya cukup banyak."

Kereta pun berhenti di sebuah taman yang memiliki panggung. Banyak penduduk yang masih beraktifitas di siang yang terik ini. Ku membuka payungku kemudian berjalan menuju sebuah restoran.

Why Do I've To Be The Villainess In This Novel?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang