Chapter 5

17.2K 2.2K 34
                                    

"Reyland, Apple, Kelvin, Sagita, Amber, dan Zecky. Aku meminta kalian untuk membantuku dalam penelitian bunga putih ini."

Semua yang aku sebutkan serempak membungkuk. "Perintah dari Anda adalah tugas untuk kami, Nona Lamonica."

Aku tersenyum, "Terima kasih."

Penelitian tentang bunga putih ini berlanjut dari pukul 10 siang. Sebelumnya aku sudah menemui ayah untuk memberikan laporan.

"Kau melakukannya dengan baik. Aku harap penelitianmu berjalan dengan lancar," Ucap ayah saat aku menemuinya pagi ini.

Kemudian aku memberikan masing-masing kepada mereka tugasnya. Sabita dan Amber adalah seorang pelayan yang bertugas dalam kerapihan dan kebersihan mansion milik Duke Lamonica, aku memilih mereka karena kegigihan mereka dalam bekerja. Mereka ditugaskan untuk memisahkan bagian-bagian pada bunga.

Zecky yang merupakan salah satu tukang kebun diberi tugas untuk merawat beberapa bibit bunga yang sudah ditanam juga memberikan diagram pertumbuhan bunga itu setiap minggunya. Kelvin yang akan mengurus distribusi bunga-bunga itu dari asalnya. Sedangkan Reyland dan Apple yang memiliki cukup pengetahuan di bidang obat-obatan dapat membantunya dalam proses eksperimen dan penelitian.

"Nona Diana, bukankah seharusnya bunga ini diberi nama agar lebih mudah disebut," Ucap Apple.

"Benar Nona! Tolong berikan nama yang cantik," Sahut Amber semangat.

Aku berpikir sejenak. "Bagaimana kalau bunga Rendose?"

"Nama yang cantik!" Jawab Sagita.

"Dari mana nama itu berasal?" Tanya Edric yang baru tiba.

Aku mengedikkan bahu, "Entahlah, aku hanya asal menyebut."

"Tapi itu tetaplah nama yang indah Nona," Bela Apple sambil tersenyum.

Apple memang selalu ada di pihakku!

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Edric. Dia tidak banyak tahu mengenai alat-alat dan bahan-bahan yang ada di meja penelitian.

"Kami memulai meneliti akarnya. Akarnya sedang kami haluskan lalu langkah berikutnya kami akan menguji khasiat dari akar ini."

Aku jadi bernostalgia saat bekerja di lab dulu.

"Wow! Kakak seperti orang jenius!"

"Aku memang jenius."

"Lalu, bagaimana dengan bagian yang lain?"

"Bunga dan daunnya sedang dikeringkan, bijinya sudah ditanam dan menjadi bibit, lalu batangnya sedang direbus untuk mengeluarkan minyak di dalamnya."

"Bukankah biasanya bunga mengeluarkan getah?"

"Bunga ini cukup unik, ketika aku memotong batangnya yang keluar adalah minyak bukan getah. Bagaimana bisa penduduk di sana tidak tertarik dengan bunga-bunga ini?"

"Sepertinya karena mereka tumbuh liar di jalanan, Nona," Jawab Reyland.

"Itu cukup masul akal," Timpal Edric.

"Baiklah. Aku hanya ingin mampir sebentar. Sebenarnya aku sedang ditugaskan Ayah untuk mewakilinya menghadiri rapat rutin di istana." Edric menghela nafas.

Edric kemudian pergi dari ruangan itu. Kami pun melanjutkan penelitian.

Penelitian itu berjalan sampai sore hari. Aku memerintahkan yang lainnya untuk istirahat, sedangkan Reyland masih membantuku. Aku memeriksa hasil penilitian hari ini.

"Jadi ini kandungan yang didapat dari akarnya?"

Aku mengapit dagu sambil berpikir.

"Besok aku akan membuat sample-nya. Jika ini berhasil akarnya bisa digunakan sebagai obat oles."

Aku melihat kesekeliling ruangan. "Penelitian ini akan memakan waktu yang cukup lama."

"Nona Diana tidak perlu khawatir. Kami akan membantu agar penelitian ini berjalan dengan baik," Ucap Reyland menenangkanku.

Aku tersenyum menanggapinya. Pintu diketuk, kemudian Apple masuk ke dalam.

"Nona Diana, makan malam akan segera siap."

"Baiklah aku akan mandi dulu."

***


"Edric belum pulang?"

Aku bertanya soal Edric karena dia belum duduk di meja makan, dia selalu duduk di sebelahku.

"Belum, ibu rasa dia masih berada di perjalanan."

Para pelayan mulai menghidangkan makan malam hari ini. Di mulai makanan pembuka, makanan inti, dan makanan penutup.

Makan malam sudah selesai. Aku memutuskan untuk mengerjakan beberapa hal di ruang penelitian. Aku melakukannya karena tidak dapat tidur. Sepertinya kebiasaanku saat menjadi kepala lab masih terbawa hingga sekarang.

"Aku harus membuat target akhir penelitian ini. Mari kita buat menjadi 6 bulan."

Aku menghela nafas. "Karena ini bukan dunia modern, penelitian ini akan berjalan lambat. Ada hikmahnya juga aku dulunya menjadi kepala lab."

Aku kembali melihat catatan-catatan yang dibuat Reyland dan Apple tentang akar bunga Rendose.

"Apa di dunia modern bunga ini ada ya? Atau sempat ada?"  Aku menyandarkan punggungku pada punggung kursi.

Jika dipikir-pikir aku bereankarnasi menjadi Diana Lamonica pasti ada sebabnya. Apa hanya untuk mengubah nasib Diana agar tidak mati di tangan Brian? Atau ada hal lain?

Lalu, apa yang terjadi pada tubuhku? Aku hanya ingat aku terhempas karena sebuah ledakan. Apa tubuhku terpental dan hancur? Atau tubuhku hangus terbakar?! Kenapa nasibku di kehidupan dulu justru berakhir tragis juga?!

Aku menyatukan kedua tanganku. "Astaga tubuh indahku, aku harap tubuhku tidak hangus terbakar. Aku mohon Tuhan!"

"Siapa yang hangus terbakar?" Aku membatu saat Edric muncul di muka pintu.

"Ah--tadi aku sempat membaca sebuah novel. Karakter utamanya terjebak di gedung yang terbakar."

"Cerita aneh apa itu?" Edric kemudian duduk di sofa.

"Kau baru pulang?"

"Aku baru selesai makan malam."

Aku menghampiri Edric dan duduk di sampingku. "Bagaimana dengan rapat di istana?"

"Biasa saja. Bukan hal yang penting."

"Jika itu di istana, bukan kah itu adalah hal yang penting?"

Edric menghela nafas. "Kami membahas tentang perkembangan setiap wilayah yang ditangani oleh masing-masing Duke. Saat aku menjelaskan tentang penelitianmu, sebagian dari mereka mulai tertawa dan merendahkanmu."

Aku terkekeh kemudian menyunggingkan senyuman miring. "Kau tak perlu kesal. Karena aku yang akan membuat mereka menjilat ludah mereka sendiri."

Edric mendengus. "Kakak keren sekali, tapi itu juga jahat."

"Untuk apa berbaik hati pada mereka yang merendahkanmu? Aku hanya perlu membuat mereka rendah di hadapanku. Kau pikir aku siapa? Aku ini Diana Lamonica."

Aku mendengus. Tentu saja aku ini tipe orang yang tidak mau direndahkan oleh manusia rendahan.

Tapi aku pikir wajar saja mereka merendahkanku karena yang mereka pikir adalah Diana Lamonica di "My Beloved Lady". Mulai sekarang aku akan membuat citra yang baik bagi Diana dan akan menghapus segala kenangan buruk.

Aku harus segera menyelesaikan penelitianku dan menampar wajah sombong mereka dengan kesuksesanku!

"Baiklah aku akan kembali ke kamar. Sebaiknya kakak jangan begadang." Edric bangkit kemudian mengecup pipi kiriku.

"Selamat malam, kak."

"Selamat malam juga, Ed."

Baiklah. Aku akan menyelesaikan beberapa tugas yang belum sempat diselesaikan. Setelahnya aku akan pergi ke kamar untuk beristirahat.


.
.

Bersambung.

Lupa banget mau update kemarin, astaga :(

See u

Why Do I've To Be The Villainess In This Novel?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang