Chapter 8

14.6K 2K 115
                                    

Aku memberi tiga bersaudara kembar Jowel itu kamar tamu di bangunan berbeda dari mansion kediaman keluarga Lamonica. Pagi ini aku sudah memberikan rincian serta data penelitian kepada Tiga bersaudara kembar Jowel itu.

Mereka bertiga terkejut, karena akulah yang mengepalai penelitian ini. Sebenarnya ini bukan apa-apa. Dikehidupanku yang sebelumnya pun aku banyak melakukan riset berbagai macam material untuk keperluan produksi perusahaan.

Henry, Exel, dan Peter sudah aku beri tugas-tugas yang berbeda. Henry yang ahli obat meneliti akar juga daun bunga Rendose. Exel meneliti kelopak dan batang bunga. Sedangkan Peter meneliti bagian akhir yang akan dia serahkan laporannya kepadaku.

Hari ini aku ingin berkunjung ke tempat di mana bunga Rendose tumbuh pertama kali. Aku pergi dengan Reyland, sedangkan Apple aku memintanya untuk membantu penelitian.

Perbaikan pada menara lonceng tidak begitu besar sehingga dananya dapat dialokasikan untuk dana darurat. Pertama, setelah aku sampai di sana, aku akan mengunjungi Kelvin di restoran tempat dia bekerja.

"Nona Diana." Sambutnya kemudian dia membungkuk.

"Menara lonceng sudah diperbaiki." Lapornya.

Aku mengangguk, "Aku akan pergi ke sana. Reyland, aku akan pergi sendiri."

"Tapi, Nona." Reyland tidak ingin membiarkanku pergi sendiri.

Dia bertindak seperti ini karena sudah lebih dari 2 kali aku berada dalam bahaya saat dia menjadi pengawalku. Meski aku tidak melaporkan kejadian itu kepada ayah.

"Kau tidak perlu khawatir. Ini adalah wilayahku, tidak akan ada yang berani mengusikku." Aku memperbaiki posisi topi bundarku.

"Diamlah di sini bersama Kelvin. Lagi pula aku ingin hubungan kalian berdua jauh lebih dekat." Ucapnya sambil pergi meninggalkan mereka dengan tatapan bingung kepadaku.

***


Aku menaiki tiap anak tangga menuju puncak menara dengan hati gembira. Untungnya aku datang disaat yang tepat. Pemandangan langit senja akan terasa sangat indah jika dilihat dari puncak menara.

Gaun ungu yang aku gunakan berkilauan karena sinar surya yang tenggelam menyinarinya. Aku menyisipkan helai rambutku di belakang telinga. Aku tersenyum simpul.

"Satu tugas ini beres dan aku harap tugas yang lainnya pun akan sukses juga."

"Tentu." Aku terkejut dan seketika berbalik ke arah sumber suara.

Ada seorang pria yang mengenakan jubah dengan masker dan mata kuning keemasan itu...dia adalah pria yang selalu menolongku! Pertama saat aku hampir disandera juga kemarin saat di kota Honn.

Namun, meski orang ini pernah menolongku, aku harus tetap waspada. Siapa tahu dia akan meminta imbalan yang tidak main-main karena telah menolongku.

"Tidak perlu waspada. Aku tidak akan melakukan apa-apa." Ucap pria itu sambil menghampiriku. Sekarang kami berdiri bersampingan sambil melihat langit sore yang cantik.

"Umm...terima kasih karena sudah menolongku dua kali."

"Tugasku memang menuntaskan mereka dan kebetulan kau selalu kena sial bertemu mereka."

Benar. Bahkan terlahir kembali menjadi Diana Lamonica adalah sebuah kesialan bagiku! Meski itu sudah tidak berarti lagi sekarang.

"Tapi bukankah itu terdengar seperti takdir?" Tanyanya.

Hah? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Kemudian aku terkejut dengan tingkah pria itu kemudian. Pria itu meraih helaian rambut perak milikku kemudian menciumnya.

Why Do I've To Be The Villainess In This Novel?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang