페이지 2

2.7K 323 24
                                        

Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.

.

.

.

Pria kecil keturunan China dengan rambut gelap berponi menggemaskan itu terus merengek pada sang ibu agar membelikan mainan perahu besar yang dipajang di toko besar yang mereka datangi. Berkali-kali ibunya menggeleng, namun tangisannya tidak kunjung berhenti. Ayahnya yang sedari tadi memandangi anak satu-satunya pun menghela napas berat.

"Lele-ya, mainan itu tidak dijual. Kamu tidak bisa memilikinya."

Kalimat yang diucapkan sang suami berhasil membuat ibu pria kecil itu tersenyum. Setelah berkali-kali suaminya menuruti keinginan si anak, akhirnya mendukung dirinya. Jangan salahkan pria kecil yang bertambah kencang menangisnya.

"Kamu dengar kata Appa, sayang? Nanti Eomma belikan mainan yang bisa dibeli." Bujuk si Ibu.

"Tidak mau! Lele maunya yang itu!"

Si ibu hanya mendesah pasrah kemudian menggendong tubuh pria kecil yang bernama Zhong Chenle. Si ayah ikut pergi meninggalkan tempat itu setelah membayar belanjaannya di kasir. Mereka sudah selesai belanja bulanan, jadi lebih baik pergi dari sana sebelum anak satu-satunya menangis lebih kencang sehingga mengganggu pembeli yang lain.

"Tidakkkk!! Eommaaa... Appaaaaa.... Lele mau mainan..." Chenle terus merengek.

Keluarga Zhong itu tiba di mobil yang terparkir tidak jauh dari toko. Setelah masuk ke dalam mobil, sang ayah mulai mengendarai mobilnya membelah jalanan kota Seoul yang saat ini tak terlalu dipadati kendaraan roda empat. Karena itulah sang ayah tak segan untuk menaikkan kecepatan mobilnya.

Jaemin melepas topi hitam yang dipakainya dan memakaikannya ke kepala Renjun untuk melindungi kepala kekasihnya dari sengatan matahari

Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.

Jaemin melepas topi hitam yang dipakainya dan memakaikannya ke kepala Renjun untuk melindungi kepala kekasihnya dari sengatan matahari. Saat ini mereka tengah menuruni bukit untuk kembali ke rumah.

"Lelah tidak?" Tanya Jaemin.

Renjun menggeleng cepat. "Begitu sampai di kota, kita beli ice cream ya."

"Tentu." Sahut Jaemin. Tangan kanannya menghampiri tangan kiri Renjun. Menautkan jarinya di sela-sela jari sang kekasih.

Sekitar dua puluh menit mereka tiba di kota dengan tangan yang tengah memegang ice cream. Renjun menghentikan langkahnya dan menghadap Jaemin. "Sampai sini saja. Nana kan harus kembali ke rumah." Ucap Renjun. Pria manis itu ingat saat di bukit, ibu Jaemin menghubungi Jaemin agar pulang secepatnya untuk merayakan ulang tahun ayah Jaemin.

Jaemin menghela napasnya yang terasa berat. "Sayang sekali, ya. Seharusnya Nana menghabiskan waktu seharian penuh dengan Injun." Ucap Jaemin dengan nada kecewa.

"Tidak apa-apa. Lagi pula yang tadi sudah lebih dari cukup." Hibur Renjun. "Lain kali kita main ke taman hiburan ya. Injun mau naik bianglala dengan Nana."

Jaemin tersenyum. "Siap, Injun-ie. Kita akan ke sana. Nana janji."

Melihat Jaemin yang tersenyum membuat Renjun ikut tersenyum. Seakan senyum sang kekasih menular padanya.

"Kalau begitu, Nana pulang. Hati-hati dijalan, Injun-ie." Ucap Jaemin.

Renjun mengangguk dan melambaikan tangannya saat Jaemin mulai melangkah pergi. Senyumnya memudar bersamaan dengan punggung Jaemin yang mulai menjauh.

Sebenarnya Renjun tidak mau berpisah dengan Jaemin secepat ini dihari spesial mereka. Begitu juga dengan Jaemin. Lelaki itu bahkan menawarinya untuk ikut acara makan-makan keluarga besarnya. Tentu Renjun menolak mengingat Jaemin dari keluarga berada membuatnya minder.

"Duh, besok juga ketemu." Kesal Renjun sembari menepuk kepalanya. "Eh?" Ia menyentuh topi yang sedang dipakainya kemudian melepasnya. Topi kesayangannya Jaemin. Apa harus ia kembalikan sekarang? Sepertinya Jaemin juga belum jauh.

Ia mulai menggerakkan kaki menelusuri jalan yang tadi dilalui Jaemin. Pikirannya mulai kemana-mana. Mencoba bernostalgia saat-saat dirinya sebelum memiliki hubungan dengan Jaemin. Setiap kali mengingat itu, perutnya terasa geli seakan hidup ribuan kupu-kupu di dalam sana. Sepertinya ia tidak akan bisa hidup tanpa Jaemin. Konyol sekali bukan?

Saat melihat lampu penyeberangan sudah berwarna hijau, Renjun mulai menyeberang dan melanjutkan lamunannya.

CIITTTTTT

"YAK, AWAS!"

Renjun tersadar dari lamunannya. Langkahnya terhenti dan menoleh ke asal suara yang barusan meneriakinya. Tiba-tiba waktu mulai melambat. Pejalan kaki yang meneriakinya itu menunjuk-nunjuk ke arah kiri Renjun. Renjun mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk pejalan kaki tersebut. Ia melihat sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Bodoh, terlambat untuk menghindar.

BRAKKK

Silau. Cahaya matahari di atas sana sangat menusuk matanya. Namun cahaya itu mulai meredup seiring dengan bertambahnya orang-orang yang berkumpul di sekitarnya. Ada apa?

"Ada apa? Kenapa kalian semua menatapku?" Renjun bertanya pada orang-orang yang berkerumun itu. Namun tidak satu pun dari mereka yang menjawab. Padahal dirinya sudah berdiri dan menyentuh orang-orang itu berkali-kali.

Kedua matanya membola setelah menyadari tubuhnya yang tembus pandang saat berusaha menyentuh mereka. Tatapan mereka tidak tertuju pada sosok Renjun yang sedang berdiri, melainkan sosok Renjun yang tergeletak di belakangnya dengan kondisi kepala yang mengalami pendarahan. Ia menutup mulutnya tidak percaya. Kenapa ada dirinya di sana?

"Cepat panggil ambulan!"

"Hey, di dalam mobil itu ada dua orang dewasa dan satu pria kecil."

"Ambulannya sudah datang! Cepat bawa mereka."

Wajah Renjun mulai pucat seperti tubuhnya yang tergeletak di jalan. Seketika ia panik. Apa ia sudah mati? Renjun mencoba memasuki tubuhnya. Namun tidak berhasil. Matanya menangkap sebuah ambulan yang datang bersamaan dengan beberapa perawat yang membawa tubuh seorang pria kecil dari dalam mobil yang menabraknya.

Ia menghampiri tubuh pria kecil itu kemudian mencoba memasuki tubuh pria kecil itu.

.

.

.

~♡~

Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.

~♡~

Back To First Love || 잼런 • 지천 [✓]Hikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin