"Andiiit ... ." Itu teriakan dari dua gadis yang menyongsong Anindita ke pintu gerbang sekolah. Mereka adalah Kiki dan Amel, sahabat baiknya Andit.
"Kita tungguin lo dari tadi." Kiki memeluk Andit sambil melonjak-lonjak kegirangan.
"Lebay banget deh, kalian. Kaya gue abis dari mana aja." Andit membalas pelukan teman-temannya. Mereka kemudian menuju kelas. Baru saja Andit menduduki kursi, Amel menarik tas Andit dan merogoh ke dalam demi menemukan sesuatu yang dicarinya.
"Pe er lo udah kelar belum? Gue nyontek dong yang nomor lima. Susah bener, kaya ujian hidup," ujar Amel saat menemukan buku PR Fisika Andit.
"Gue juga. Gue nyontek semua ya, Ndit. Ketiduran gue semalem." Kiki mengeluarkan cengiran khasnya.
"Dih, jadi demi itu lo berdua nungguin gue di gerbang. Demi apa lo ngaku sahabat gue?" Andit mengomel sepagi ini, tapi kedua sahabatnya itu tidak pernah tersinggung. Sebab mereka tahu, apa pun yang Andit katakan, itu tidak benar-benar dari hatinya.
Amel dan Kiki sudah menjadi sahabatnya sejak Andit masuk ke sekolah Aksara 04. Mereka berkenalan waktu Masa Orientasi Sekolah. Awalnya karena mereka sama-sama berada di barisan paling belakang, mereka jadi sedikit "bebas" karena kurang terperhatikan oleh panitia. Hal yang membuat mereka dekat apalagi kalau bukan karena ngerumpi.
Obrolan mereka selalu menyenangkan. Topik apa pun akan menjadi seru saat Andit bersama dengan kedua temannya. Awalnya Andit bercerita tentang buku yang sedang ia baca, ternyata Kiki dan Amel juga menyukai buku itu. Selera yang sama, hobi yang sama, dan berada di kelas yang sama, membuat hubungan ketiganya bertambah dekat.
Andit adalah yang paling rajin dan paling cerdas di antara ketiganya. Tak jarang seperti sekarang, Amel dan Kiki akan mengandalkan Andit saat mereka "lupa" mengerjakan pekerjaan rumah. Andit tidak pernah mempermasalahkan itu.
Bel masuk pun berbunyi. Kiki dan Amel sudah selesai menyalin PR mereka. Pelajaran pertama hari ini Fisika, pelajaran paling sulit bagi sebagian siswa. Bu Dewi masuk ke kelas tepat waktu. Beliau salah satu guru favorit Andit. Pembawaannya yang sederhana tapi cerdas dan penuh kharisma. Tidak ada siswa yang berani melewatkan satu kata pun saat beliau menerangkan pelajaran. Semua seperti tersihir, seakan Bu Dewi membuat suatu pertunjukan di depan kelas. Bagi Andit, dua jam tidak terasa jika belajar bersama Bu Dewi.
"Ingat ya, hukum Bernoulli berlaku pada fluida dinamis. Fluida bukan hanya air. Tapi seluruh benda yang dapat mengalir. Jadi, gas pun termasuk ke dalamnya." Begitu Bu Dewi menutup sesi tanya jawab untuk pelajaran hari ini. Dan tentu saja, ada PR yang akan dikumpulkan esok hari.
"Huft ... Bu Dewi nggak pernah nggak nyiksa kita sama PR. Aku kan capeee ...." Kiki menunjukkan raut tersiksa di wajahnya.
"Cieee ... kaya yang rajin bikin pe er aja nih, bocah. Paling lo besok nyalin dari Andit lagi," ledek Amel pada Kiki.
"Ya gimana? Gue nggak bisa biarin otak gue terlalu lelah bekerja. Nanti gue jadi cepat tua."
"Makanya, pake muka tuh jangan boros-boros." Amel mencubit gemas pipi Kiki.
Kali ini Kiki membalas Amel dengan mengacak rambutnya."Biarin. Andit, lo fine-fine aja kan, kalo gue nyontek lagi besok?"
"Duh, rusak nih, dandanan gue." Amel mengelus-elus rambut panjangnya. Kiki sebenarnya siswa yang cerdas. Tapi kebiasaan buruknya itu hanya menyukai beberapa pelajaran saja. Andit senyum-senyum sendiri saat kedua temannya itu mulai berdebat kembali.
"Coba kalo di jurusan IPA nggak ada matematika sama fisika, hidup gue bakal lebih sempurna."
"Terus kenapa lo masuk IPA, Esmeralda!?" Amel selalu gemas setiap kali Kiki mulai berargumen.
"Gue suka biologi sama kimia." Kiki membela diri.
"Kantin, yuk! Kangen gue sama gorengan Mbak Erna." Andit menengahi keduanya, kalau tidak, acara toyor-toyoran mereka tidak akan ada habisnya.
Kantin Mbak Erna selalu ramai. Padahal itu bukan kantin satu-satunya di SMA Aksara 04 ini. Ada kantin Yu Jum dan Mang Alip juga. Namun kantin Mbak Erna sepertinya adalah kantin favorit seluruh siswa. Andit dan teman-temannya juga paling suka belanja di sini. Bagi Andit, gorengan Mbak Erna itu juara. Pertama karena rasanya, kedua kebersihannya, ketiga karena dia bisa bebas menambahkan saos sambal sebanyak apa pun sesukanya. Tentu saja itu "syurga" bagi Andit yang penyuka makanan pedas. Mbak Erna juga ramah, tidak seperti Yu Jum yang judes dan pelit menambahkan saos sambal.
Andit memesan sepiring tahu isi sayuran dan membawa botol saos bersamanya ke bawah pohon rindang --tempat biasa mereka duduk-- saat jam istirahat.
Pohon ini adalah pohon favorit Andit dan teman-temannya, karena terletak di sudut lapangan. Dari sini mereka bisa memperhatikan sekeliling dan membicarakan rahasia para siswa atau gosip yang sedang beredar di sekolah, tanpa takut terdengar siapa pun.
Amel selalu memulai percakapan dengan gosip yang sedang hot di sekolah. Seperti sekarang, gadis itu mencondongkan badannya, lalu merangkul kedua sahabatnya agar bisa bicara lebih dekat. "Eh, lo berdua tahu nggak, Mang Alip sebenarnya naksir sama Bu Parti."
"Bu Parti? Maksud lo, pustakawan kita?" Kiki menimpali.
"Hu'um. Kemarin gue pergokin Mang Alip, waktu Bu Parti beli soto di kantinnya. Dia sampe salah masukin bumbu. Dia masukin bumbu mie instan punya Raka ke kuah soto Bu Parti. Gue ngeliat banget, si Raka kaya ngerasa aneh gitu sama mie instannya. Anyep pasti, haha ...."
"Terus rasa kuah soto Bu Parti jadi gimana?" Kiki bertanya dengan polosnya.
"Ya mana gue tau. Emang gue nyicipin."
Mereka asik bercerita, tak sadar sesosok jangkung sudah berdiri di depan mereka. "Uhm, sorry, gue ganggu kalian. Ndit, acara pensi bulan depan lo bisa bantu, nggak?"
"Eh, Kak Satria. Enggak kok Kak. Nggak ganggu, sumpah. Santai aja." Amel mencolek pinggang Kiki.
"Ih, apaan sih Mel, geli tauk!" Kiki memang sulit diberi kode-kode seperti itu. Gadis itu malah asik meneguk es cappucino yang barusan dipesannya.
"Ki, kita balik ke kelas, yuk. Pe er lo kan, belum kelar." Kali ini Amel bicara sambil merapatkan giginya. Gadis itu juga menaik turunkan alisnya pada Kiki.
"Pe er? Yang mana ya?" Kiki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seingatnya, memang tidak ada PR lagi untuk hari ini selain fisika tadi pagi. Amel terlihat tidak sabaran. Diraihnya tangan Kiki sambil berdiri tegak.
"Ndit, kita duluan yak, Kiki nih, belum ngerjain pe er. Duluan ya, Kak," pamit Amel pada Andit dan Satria. Satria mengangguk, sekilas senyum ia lemparkan pada dua gadis itu.
"Jadi gimana Ndit? Kamu bisa bantu, kan?"
Matahari semakin terik. Namun berada di bawah pohon bersama dengan Satria membuat Andit lupa pada panasnya cuaca hari ini. Sepertinya ia tidak keberatan berlama-lama di sana. Meski tak banyak kata keluar dari mulutnya, ia sadar, jauh di lubuk hatinya ada sesuatu yang entah kapan menyelinap masuk dan sedang menggila. Sesuatu yang membuatnya malu sekaligus bahagia. Pipinya merona, canggung untuk bicara.
***
ESTÁS LEYENDO
MISSING DAD 🍒COMPLETED🍒
Novela JuvenilBagaimana mungkin memelihara kebencian dan rasa rindu pada orang yang sama? Anindita kehilangan kasih sayang seorang ayah sejak ia berusia dua tahun. Segala kesulitan hidup ia jalani hanya bersama ibunya. Sementara sang Ayah, hidup bahagia dengan ke...
