SINGTO'S POV
Kulihat Krist menjauh dan membanting pintu kamar kami sebelum menghilang di balik sana.
Argh! Kuacak rambutku kasar. Bukan pertanyaan yang seharusnya aku dapatkan. Kenapa dia balik memarahiku? Bukankah seharusnya ia menjelaskan? Apa dia tak sadar betapa khawatirnya aku? Apa hanya dia yang lelah? Apa cuma aku yang mengharapkan rumah tangga kami kembali hangat?
Masa bodoh dengan semuanya!
Tak ada gunanya aku masuk ke kamar kami. Kubawa kakiku menuju ruang kerjaku. Napasku masih memburu. Kepalaku masih terasa panas. Detak jantungku masih tak beraturan dan sedikit menyengat. Keringat dingin kini membasahi keningku. Kakiku seolah mati rasa. Belum juga kucapai meja kerjaku, kepalaku berputar, rasa sesak dan nyeri di dadaku tak tertahankan. Aku kesulitan bernapas.
"A-aah... K-krist..."
Saat tanganku hendak meraih meja untuk berpegangan, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
BRUKK
---------
AUTHORS' POV
Krist langsung berlari menghampiri Singto yang terbaring tak sadarkan diri.
"Phi... Apa yang terjadi padamu? Bangunlah! Phi! Phi!" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Singto.
Raut wajah Krist benar-benar terlihat khawatir melihat pasangannya tak juga membuka mata, belum lagi wajah pucat pasi singto yang membuatnya makin ketakutan.
"Ya Tuhan! Phi Sing! Phi... bangun, Phi!"
Krist mencoba membangunkan Singto dengan cara mengguncang-guncangkan tubuhnya. Masih sama, Singto tetap tak sadarkan diri. Dicobanya mengecek nadi Singto. Tak terasa sama sekali.
Rasa takut yang tadi bersarang di benaknya kini berubah menjadi kepanikan. Segera saja ia mencoba melakukan RJP.
Diberikannya napas buatan. Sekali.
"Bangunlah, Phi!" ucapnya dengan suara bergetar sambil menekan-nekan dada Singto. Masih belum ada reaksi. Kembali ia mencoba melakukan RJP.
Kali kedua.
Setelah beberapa waktu, tarikan napas mulai keluar dari mulut Singto. Detak jantungnya masih lemah dan pria itu masih belum sadarkan diri. Kelegaan sedikit mengisi hati Krist. Tanpa pikir panjang ia segera menggendong Singto dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Dilajukannya mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Beruntung saat ini sudah jauh lewat tengah malam dan jalanan sepi, ia bisa mengemudikan kendaraan dengan kecepatan maksimal. Tak dihiraukannya penampilannya kini yang hanya menggunakan kaus pendek, celana training juga sandal, bahkan ponsel dan dompet pun tak ia bawa. Yang ada dalam pikirannya hanyalah ia harus segera sampai ke rumah sakit.
Tidak... Takkan terulang...
Phi Sing akan baik-baik saja....
Kata-kata itu terus ia rapalkan dalam benaknya.
---------
Jemarinya mencengkeram setir dengan erat, ketakutan yang ingin merasukinya ia coba abaikan. Phi Singtonya akan baik-baik saja.
Kencangnya degup di jantungnya seakan mencoba membelah dada. Telinganya bahkan menolak mendengar suara deruan mesin ataupun lainnya. Fokusnya hanya pada Singto yang tak sadarkan diri di kursi penumpang.
YOU ARE READING
M E R C U S U A R [END]
Fanfiction"A rich man buying you something doesn't mean anything, but a busy man giving you his time means you're everything" Main cast: Singto Prachaya Ruangroj Krist Perawat Sangpotirat
![M E R C U S U A R [END]](https://img.wattpad.com/cover/208422603-64-k745283.jpg)