edableyou
Kami berempat duduk berhimpitan satu kursi. Mas duduk paling ujung, matanya merah nyalang sigap, duduk kaku dengan kaki tegak sempurna seolah siap lari kapanpun pintu itu dibuka.
Di sampingku, mbak menangis, maskara yang ia banggakan itu luntur, kepalang malu sebab harga tak mampu membendung duka yang terkungkung. Sedang adik masih erat menggenggam toga di tangan kanan dan jemariku ditangan kiri, ini kali pertama aku menyaksikannya menangis. Sedang dihadapan kami, calon suamiku tanggal sebelas nanti, sedang berdiri dengan mata cemas.
Ia takut, aku -calon istrinya tanggal sebelas nanti terlampau sibuk mengurai duka hingga lupa ia juga punya lara sendiri. Tapi, maaf, hari ini biar adikku saja yang menggenggam tanganku. Kamu cukup berdiri di sana. Dan jika nanti pintu sudah terbuka, sebisa mungkin dahului langkah mas. Karena sungguh, ia tak sekuat itu.
Hari ini, kita harus lebih tegar, ya?