KrisanSaleh
Saga Pradipta cuma mau menagih utang.
Sederhana, kan? Datang, pasang muka galak, keluarkan nota tagihan, lalu pulang membawa uang. Masalahnya, orang yang mau ditagih Saga keburu jadi mayat.
Lebih sial lagi, mayat itu ditemukan di Rumah Duka Naristo, bisnis kematian premium milik keluarga konglomerat paling berpengaruh di kota. Dan di tempat kejadian, Saga tidak sendirian. Ada Kaivan "Kai" Naristo, anak konglomerat dingin, rapi, mahal, dan menyebalkan, yang kebetulan sedang kabur dari keluarganya sambil membawa rahasia besar.
CCTV merekam Saga masuk membawa linggis. Sidik jari Kai ada di ruang pendingin jenazah. Korban meninggalkan pesan terakhir yang menyebut nama Kai. Dalam satu malam, penagih utang amatiran dan anak konglomerat Naristo resmi menjadi dua tersangka pembunuhan paling tidak meyakinkan sekaligus paling berisik.
Terpaksa kabur bersama, Saga dan Kai harus membuktikan bahwa mereka bukan pembunuh. Masalahnya, setiap kali mereka berusaha membersihkan nama, bukti baru justru membuat mereka terlihat makin bersalah. Dari mayat yang salah tempat, klaim asuransi palsu, orang mati yang ternyata masih hidup, sampai rahasia keluarga Naristo yang seharusnya ikut dikubur, keduanya terseret ke permainan gelap yang jauh lebih mahal daripada utang mana pun.
Saga tahu cara kabur lewat gang sempit, menipu tukang parkir, dan menggertak orang meski lututnya gemetar. Kai tahu cara membaca kebohongan orang kaya, membobol sistem keamanan, dan menatap mayat tanpa berkedip. Mereka saling menghina, saling menyusahkan, dan berkali-kali ingin saling meninggalkan.
Tapi ketika polisi, keluarga Naristo, dan pembunuh asli mulai memburu mereka, Saga dan Kai hanya punya satu pilihan: tetap bersama, tetap hidup, dan membongkar siapa yang menjadikan kematian sebagai mesin uang.
Karena ternyata, utang bisa ditagih.
Mayat bisa bicara.
Dan anak konglomerat tidak selalu tahu rahasia paling busuk keluarganya sendiri.