Part 1 (Jakarta, I'm coming)

16 0 0
                                        


Halaman pertama akan dimulai dengan perjalanan pertamaku ke kota besar, Jakarta. Aku dan Egi memilih menaiki bus BEJEU karena kebetulan saudaranya bekerja di agen tersebut. Saat itu aku membawa koper berukuran besar dan satu tas punggung di belakang. Awalnya tidak ada masalah, namun karena ada suatu hal, kami diharuskan pindah ketika bus sampai di Jepara. Tidak ada yang membantuku menyeret koper sebesar itu. Aku benar-benar kewalahan ditambah dengan kondisi jalan yang berlubang. Aku terseok-seok dengan keringat bercucuran.

Singkat cerita, perjalanan pertama pun di mulai. Semuanya baik-baik saja. Sampai akhirnya tibalah kami di Jakarta dengan kondisi langit gelap karena pada saat itu jarum jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Kami turun di tempat yang sama sekali tidak kami ketahui. Jalanan sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. kenapa tidak menggunakan ojek online? Karena kami belum pernah menggunakan aplikasi itu sebelumnya. Aku melihat taksi berwarna biru dari kejauhan. Aku dan Egi menyeret koper kami, memberanikan diri sambil terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan kami. Alhamdulillah ternyata bapak itu amanah dan kami berhasil sampai dengan selamat.

Kami tiba di rumah dengan gerbang merah yang sangat besar. Di tempat itulah kami bertemu dengan nanas dan Seli. Rupanya mereka juga baru sampai. Berbeda dengan kami, nanas dan Seli lebih memilih menaiki kereta dibandingkan bus. Aku, Egi, dan Nanas memasuki rumah tersebut. Ibu kos menyambut dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya sembari menggendong anaknya di samping. Kalian tahu apa yang beliau katakan? "Maaf ya dek, berhubung ini masih ada kating yang menempati kamar, jadi nanti dua orang satu kamar dulu ya. Ada yang kamar atas, kamarnya Velli sama kamar bawah. Yang mau di atas siapa?" Saat itu aku bingung antara Egi atau Nanas karena mereka berdua sama-sama temanku. Egi teman kos aku selama tiga tahun dan Nanas teman aku dari kelas 10-12, akhirnya aku memilih Egi. Kami berdua di atas sedangkan Nanas satu kamar dengan orang jogja, namanya Ika. Ika anak yang baik dan kami berempat bisa cepat akrab.

Sekitar 2 minggu kemudian, Nanas dan Ika ke kamarku. Mereka bilang jika kamar yang selama ini mereka tempati ternyata punya kating. Parahnya, kating tersebut Kembali setelah melaksanakan PKL. Alhasil mereka berdua diharuskan meninggalkan kamar tersebut ☹. Padahal saat itu posisi kami sedang menjalankan dinamika (orientasi PKN STAN) dengan tugas yang sangat banyak yang mengharuskan kami hanya tidur 3-4 jam perhari. Terlihat sekali kesedihan dan kekesalan di wajah mereka. Mereka dipindahkan di kamar depan dengan 3 orang lainnya. jadi di bagian depan terdapat dua ruangan, yang satu berukuran cukup besar dan yang satunya berukuran kecil. Ika dan Nanas harus berbagi kamar dengan Rizka. Mereka bertiga menempati satu ruangan dengan dua kasur lama dan lemari yang seadanya.

Kenapa kami nge kos di tempat yang kamarnya tidak tersedia? Karena beliau mengatakan jika kamarnya masih tersedia dan memang ada di lantai tiga namun belum selesai proses pembangunannya. Jadi kita harus menunggu selama beberapa minggu agar bisa menempati kamar yang kita pesan. (meskipun kenyataannya beberapa bulan).

Lain cerita, saat itu aku dan Egi tengah mengerjakan tugas dinamika. Barang-barang berserakan, handuk dan pakaian juga tergantung di mana-mana kemudian tanpa adanya peringatan, pintu terbuka menampilkan sesosok wanita cantik berkulit putih, rambut terurai sempurna, mata terbelalak melihat kami berdua, dialah pemilik kamar sebenarnya (kating). Aku dan Egi panik, kami langsung merapikan barang-barang kami dengan segera. Keadaan benar-benar kacau. Aku ingat sekali kejadian itu berlangsung saat malam hari sekitar pukul 8 malam. Lalu ibu kos menghubungiku. Ia menyuruh aku dan Egi untuk pindah sementara di kos depan. Duarrrr!!! Aku kaget. Bagaimana mungkin kami pindah saat ini? Tugas masih banyak yang belum kami kerjakan bahkan perut saja belum kami isi. Ditambah dengan barang-barang dinamika yang begitu banyak. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami tidak berani protes atau apapun itu. Kemudian aku teringat dengan Seli dan Ela. Aku memutuskan untuk menginap di kamar Ela, untung saja pemilik kosnya sama. Akhirnya kami memutuskan untuk menumpang sementara di kos mereka. Aku bersama Ela di lantai 2 (lagi-lagi lantai 2 dengan jarak tangga yang cukup tinggi) dan Egi bersama Seli di lantai 1. Aku ingin menangis dan memaki beliau. Saat itu, aku benar-benar lelah setelah seharian di kampus menjalani masa orientasi, mengerjakan tugas bejibun, ditambah dengan beres-beres untuk pindah kamar dengan membawa koper sebesar itu, menuruni tangga dan menaiki tangga untuk sampai di tempat tujuan. Aku menelfon ibu dan menceritakan semuanya dengan suara tercekat, pasti dia tahu kalau aku sedang menahan tangis. Ia marah dan menyuruhku untuk pindah kos saja. Namun aku menolak karena aku telah melunasi biaya kosnya, lagian mau pindah kemana juga malam-malam begini, dan aku juga tidak ada waktu untuk mencari kos-kos an karena jadwal yang begitu padat. Sekitar pukul 11 malam proses beres-beres telah selesai. Aku lanjut mengerjakan tugas sampai pukul 2 dini hari dan harus bangun pukul 4 karena kita sudah harus sampai di kampus pukul 5 pagi. Terima kasih kakak Ela karena saat itu telah membantuku mengerjakan tugas dan terima kasih karena bersedia menampungku dan semua barang-barangku. 

Aku dan JakartaWhere stories live. Discover now