Bunyi 'bip' 'bip' satu-satunya suara yang tertangkap indera pendengaranku saat ini, sedangkan indera pengelihatanku menatap sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Kulit putihnya terlihat semakin putih saja. Bisakah aku meminjam matahari sebentar untuk menghangatkannya? Untuk melihatnya kembali 'hidup' walau sebenarnya dia masih bernapas dan jantungnya masih berdetak.
Masih belum menyerah.
Masih ada harapan.
Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tangannya, merasakan tulang jari-jarinya, dan juga kulit tangannya yang terasa sedikit kasar akibat terpapar hembusan udara dari AC terus menerus. Tidak bosan-bosannya aku melihatnya seperti ini. Dia balas menatap dengan pantulan cahaya mata yang redup.
Rasa-rasanya aku ingin menangis sambil menghantam kepalan tangan ke tulang pipi seseorang.
"Jangan menatap seperti itu ... seolah-olah kamu ingin membakar dunia."
Tarikan napas panjang meredakan emosiku yang memuncak sambil memberinya senyuman. Aku mengeratkan genggaman, membalas tatapan lembutnya dengan perilaku sama. Tidak seharusnya aku membuatnya khawatir.
Tidak seharusnya beban pikiran ibu bertambah.
"Pulang dan beristirahatlah, nona. Saya akan menjaga nyonya," asisten pribadi ibu tidak enak hati memotong momen kami berdua. Namun, dia benar. Dia sudah seperti bibiku sendiri. Aku menuruti perkataannya.
Sebelum berpamitan pulang aku mencium kening ibuku, dibalas belaian lemah pada rambutku. Aku juga memeluk bibi Yangmi. Dia tahu gestur itu adalah permintaanku untuk menjaga ibu selama aku pergi.
Sekarang saatnya melanjutkan aksiku.
Berjalan menyusuri koridor rumah sakit aku tidak menyangka akan berpapasan dengan dokter yang sehari-hari mengecek kondisi ibu, dokter Ryujin. Jarak kami masih beberapa meter tapi aku dapat melihat raut stres di parasnya yang masih terlihat belia itu (walaupun umurnya hampir kepala tiga). Setelah jarak kami sudah dekat dia tidak menahan diri untuk menghela napas panjang. Aku sudah tahu apa yang akan keluar dari mulutnya.
"Jadi kapan keputusannya bakal diambil? Waktu terus berjalan. Kamu nggak kasihan sama ibumu, Ji?"
Diamku membuatnya mendecakkan lidah, "apa harus dipanggil nona muda Hwang dulu baru mau ngomong?"
"Diamlah, Ryu," aku mendengus kesal, "Waktu terus berjalan tapi AKU masih butuh waktu."
"Yeji, aku sudah bilang ibumu tidak akan kehilangan kemampuannya untuk menyayangi anaknya. Dia cuma akan kehilangan kemampuan untuk mencinta. Kamu nggak perlu takut."
Semakin lama berbicara dengan Ryujin semakin emosiku kembali minta dikeluarkan. Aku tertawa hambar dan langsung pergi meninggalkannya. Dengan cepat aku membelokkan badan segera setelah mencapai ujung koridor. Beruntunglah Ryujin tahu diri. Aku tidak mendengarnya memanggil-manggil namaku. Dia tahu kapan harus berhenti menekanku.
Sepanjang jalan menuju parkiran aku melihat seorang pasien di taman rumah sakit, sedang duduk di kursi taman tepat di bawah pohon rindang. Dia tampak sehat dan terlihat masih muda. Mungkin kisaran umurnya di antara dua puluh satu tahun hingga dua puluh empat tahun. Bagaimana bisa aku tahu dia seorang pasien? Pakainnya jelas menunjukkan itu. Aku mungkin akan terus berpikir dia seorang pasien yang sedang dalam masa penyembuhan/pemulihan atau sebentar lagi keluar dari rumah sakit. Namun, pikiran itu otomatis hilang sesaat aku melihatnya terbatuk, menutup area mulutnya dengan kedua tangan.
Aku melihat banyak kelopak bunga bercampur darah dimuntahkannya di tangannya.
-x-
YOU ARE READING
Breathless
FanfictionCinta adalah sebuah anugerah dan malapetaka. Tatkala demikian cinta membuat seseorang berani mengambil risiko apapun demi orang yang dicintainya. Cinta membuat jantung berdetak cepat. Yeji hanya ingin jantung Jisu berdetak untuknya. Sehingga Yeji me...
