Cinta yang tak pernah terungkap, bukankah itu ironis?
[][][]
Aku adalah orang yang payah.
Lahir dan besar di Mondstadt tanpa pernah punya nyali untuk sekedar pergi berkunjung ke negara lain.
Bukannya apa-apa, tapi kau tidak akan pernah bisa menebak apa yang akan terjadi dalam perjalanan.
Entah itu sebuah badai yang tiba-tiba muncul di hari yang cerah atau hilichurl mengamuk berlari ke arahmu sambil mengayunkan obor dengan api yang menyala, tidak akan pernah ada yang tahu hal tersebut akan menimpamu dalam sebuah perjalanan.
Skenario terburuk yang bisa aku bayangkan sih adalah dirampok.
Jauh dari rumah tanpa memiliki barang untuk bertahan hidup karena hartamu dirampas oleh orang-orang brengsek.
Lebih parah lagi jika semua hal yang aku sebutkan tadi terjadi secara bersamaan.
Jalankan Liyue, negara yang terbilang paling dekat dengan Mondstadt. Aku bahkan tidak pernah berani untuk menapakkan kaki pada hamparan salju di gunung sisi selatan Kota Mondstadt.
Maksudku... cuaca ekstrim dengan suhu dibawah 0 derajat serta langit yang selalu berawan menciptakan butiran-butiran salju pucat yang membuat suasana disana selalu dingin dan suram.
Butuh kemampuan bertualang yang baik untuk bertahan hidup di tempat seperti itu atau kau akan mati.
Aku dengar ada banyak misteri dan harta karun sehingga tak jarang kau menemukan sekelompok Fatui atau Treasure Hoader berkeliaran disana.
Bukankah itu memperburuk keadaan?
Pertama, kau harus bertahan hidup melawan cuaca super dingin dimana kau juga tidak akan bisa mendapatkan makanan layak kalau tidak membawa bekal. Kedua, jalan yang menanjak serta suasana menyedihkan membuat perjalanan tidak terasa menyenangkan sama sekali. Dan yang ketiga, probabilitas kau berhadapan dengan orang-orang merepotkan semakin tinggi dengan adanya rumor harta karun di tempat tersebut.
Yang paling aku benci, gunung itu terasa menyimpan energi aneh.
Semacam aura yang membuatku tak nyaman hanya dengan melihatnya dari kejauhan.
Aahh, pokoknya aku pernah sekali mendekati gunung itu dan tidak akan pernah mengunjungi atau bahkan menginjakan kakiku disana. Tidak akan pernah!
Sebenci itu aku dengan Dragonspine, gunung salju abadi di Mondstadt.
Tapi agaknya itu lebih seperti rasa takut daripada rasa benci.
Payah sekali.
Apa boleh buat.
Aku adalah keturunan asli Mondstadt yang tidak pernah tertarik mendengar kisah petualangan orang-orang menjelajahi dunia dan mengunjungi negeri lain.
Cerita-cerita itu terdengar merepotkan bagiku. Kenapa orang-orang ingin bersusah payah menemui banyak hambatan dan tantangan disaat kau bisa hidup damai dan tentram di satu tempat?
Baiklah, kesampingkan soal bertualang, aku bahkan tidak tertarik untuk bergabung dengan Knights of Favonious yang selalu dielu-elukan oleh warga Mondstadt.
Itu semua terlihat melelahkan.
Tidak heran jika aku tidak mendapatkan vision.
Itu bukan masalah, toh aku juga tidak mendambakannya.
Aku sudah puas dengan kehidupanku bekerja kepada Tuan Goth. Memasak sarapan dan makan malam bukanlah hal yang sulit dan itu memberikanku waktu luang di siang hari. Terkadang ada pula saat-saat sibuk ketika ada acara besar di kota, karena selain membuka sebuah hotel, Tuan Goth juga membuka jasa katering dan seorang pemilik tanah. Dia orang kaya di Mondstadt, jadi bayaran dari pekerjaanku cukup pantas.
YOU ARE READING
Desire || Genshin Impact Fanfic
Fanfiction[Genshin Impact Oneshot Fanfiction] Kisah bagaimana seorang warga Mondstadt yang biasa-biasa saja mendapatkan cryo vision-nya berkat Albedo. "Tuan Albedo, aku dengar kau meminta tolong pengembara untuk menghentikanmu yang lepas kendali. Pengembara i...
