Hidup di kota besar seperti hidup di hutan liar. Hanya yang kuat yang bertahan. Tinggal di New York selama 20 tahun hidupku bukanlah sesuatu yang perlu aku banggakan, karena di setiap detiknya aku tidak pernah merasa kuat maupun berkuasa akan sesuatu. Hanya dengan kedua tanganku aku mencari semua yang ku butuhkan. Kesibukan dan kegilaan yang selalu ku jalani terkadang membuatku bertanya, apakah ada waktu dimana aku keluar dari semua itu dan bernapas lega, tanpa beban layaknya para biksu pencinta damai.
Keluar dari taksi yang ku tumpangi, perlahan aku berjalan memasuki hotel tempatku mencari uang untuk bertahan hidup. Bukannya membosankan menjadi seorang marketing hotel, namun terkadang aku ingin mencoba sesuatu yang baru. Jauh dari kursi, meja, komputer, dan meeting membosankan. Aku ingin sesekali bekerja dengan senjata, perkelahian, dan sesuatu yang berkaitan dengan dua hal itu. Aku duduk di meja kerjaku sembari menekan tombol power CPU komputerku, dan tak beberapa lama kemudian muncul welcome page di layar komputer. Dengan segera aku membuka akun email milikku, dan saat itu juga aku mendapati inbox laporan yang harus ku kerjakan hari ini. Membosankan? Jawabannya adalah sangat. Dan tidak perlu ditanyakan dua kali, aku akan selalu mengutarakan jawaban yang sama untuk pertanyaan itu.
Aku terlarut dalam pekerjaanku hingga tak terhitung berapa jam aku terduduk di kursi sofa berlapis kulit ini. Mataku terasa pedih, dan kepalaku sedikit pusing dan terkadang aku kehilangan orientasi untuk sesaat. Saat aku mencapai hasil akhir laporanku, aku berhenti untuk sejenak dan bangkit dari tempat duduk sembari meregangkan otot tubuhku. Berjalan keluar dari ruanganku aku melirik ke kanan-kiri dan menemukan temanku yang selalu aku ganggu tiap saat, termasuk sekarang. Aku berjalan cepat ke arahnya dan menyerobot segelas kopi yang ada di genggamannya dan meminumnya dengan segera. Sensasi kafein yang memasuki tenggorokanku membuat tubuhku merasa lebih baik dari sebelumnya. Untuk sejenak aku memejamkan mataku menikmati rasa hangat yang mengalir di tubuhku sebelum aku membuka mata dan melirik ke arah pemilik segelas kopi ini.
"Raine!" katanya sembari berdecak kesal dan menyilangkan lengannya.
"baiklah maafkan aku, bagaimana kalau aku membelikanmu pizza untuk mengganti kopi ini. Ayo ikut aku," ujarku berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan temanku yang tersenyum kegirangan.
"itu baru Raine yang ku kenal." ucapnya menyamakan langkah denganku.
"jadi maksudmu selama ini kau tidak mengenalku? Begitu harry?" tanyaku menaikkan nada bicaraku.
"hanya bercanda," seketika itu dia merangkul bahuku dengan lengan besarnya.
Memasuki kedai makanan cepat saji, aku memesan makanan yang aku janjikan pada Harry sekaligus minuman soda yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Duduk di samping jendela kaca berukuran 5x7 meter ini membuatku bisa melihat padatnya kehidupan kota.
"bagaimana dengan rumahmu? Masih utuh?" tanya Harry menatapku jenaka.
"tentu saja masih utuh!" kataku sedikit kesal dengan ucapannya.
"ku kira kau sudah menghancurkannya." Lanjutnya sembari berkedip sebelah mata pada pelayan yang baru saja datang mengantarkan pesananku.
"mata keranjang." ucapku sembari memutar mataku, dan menikmati sepotong pizza.
"aku tahu itu," ucapnya mengangkat bahunya ringan dan ikut larut dalam nikmatnya roti berbalut topping beraneka rasa ini.
****
Sore menjelang aku akhirnya sampai di rumah minimalisku. Aku tinggal di Perumahan yang tempatnya mungkin sedikit jauh dari hotel tempatku bekerja, namun entah kenapa aku menyukainya. Tepat saat aku memutar kunci pintu, aku melihatnya. Tetangga baru yang sudah tinggal di samping rumahku itu selalu membuatku tersedak air liurku sendiri saat melihatnya. Dia begitu tampan dengan matanya yang dalam dan tajam, garis rahang yang keras, dan bibir menggoda itu membuat tubuhku meremang. Tidak hanya itu, walaupun aku hanya melihat dari kejauhan namun aku tidak mungkin salah jika dia memiliki tubuh atletis yang menggairahkan yang tersembunyi di balik jaket kulit hitam dan kaus abu-abu yang ia kenakan.
YOU ARE READING
Beneath the Shades (AVAILABLE NOW ON PLAYBOOK)
Short StoryPerlahan mataku terbuka, kemudian menyadari jika aku berbaring di atas ranjang tempat tidurku sendiri. Dengan perlahan aku mengangkat tubuhku dengan kedua tanganku, namun sengatan perih di lengan kanan membuatku terhempas kembali di atas ranjang, de...
