The 'A' class

45 9 1
                                    

[Nico]

Ah.

Kenapa setiap murid harus dibagi perkelas sesuai dengan kepintarannya?

Dapet kelas F lagi kan gue. Ketauan begonya, deh.

But wait, bukan itu yang bikin gue menyesal dapat kelas F. Ya gue sih jujur tenang tenang aja dapat kelas F, atau kalau kebegoan gue tersebar luas. Toh memang kelas F terkenal karena semuanya nggak ada yang pintar, kan? Tapi, yang bikin gue menyesal dapat kelas F lagi adalah...

Gue nggak bisa sekelas dengannya.

Anak kelas A, yang sejauh gue tau, namanya adalah 'Calum Hood', yang gue pikir pertamanya se-ras dengan gue, ternyata nggak. Bentuk wajahnya begitu lantaran ibunya orang new zealand. Yep, im a stalker tho. Tapi nggak hebat hebat banget, buktinya sampai sekarang gue nggak tau kehidupan 'percintaan'-nya bagaimana, atau sejauh apa. Ralat, bukan cuma gue yang nggak tau, kayaknya hampir satu sekolah ini nggak tau. Serius, hampir satu sekolah ini nggak tau, karena Calum adalah seorang yang... Pendiam, mungkin? Tidak banyak tingkah? Cool? Ya, begitulah. Dan yang suka dia, ternyata bukan cuma gue. Wajar sih sebenarnya. Sampai sekarang juga orang orang nggak tau siapa yang disukainya. Ah, suatu kebegoan juga sih gue suka dia...

"Yazawa!"

By the way, sejak gue kelas 10, gue selalu mendambakan kelas A, kelas yang disanjung semua guru, yang isinya anak pintar semua. Dan kenapa gue bilang 'mendambakan'? Karena nyatanya, gue nggak pernah bisa jadi bagian dari kelas itu. Lah dari dulu gue dapatnya kelas F lagi kelas F lagi. Ya sampai sekarang muka mukanya itu itu saja, lah. Paling juga ada muka baru, itu juga pindahan dari kelas E. Sama kacaunya.

"Yazawa nico esperanza!"

Kalau saja gue bisa sekelas dengan calum, pasti-

"YAZAWA NICO ESPERANZA, KAMU MAU SAYA LEMPAR PAKAI BUKU YANG MANA?!" Seru Mr. Ethan, bersiap menerjang gue dengan buku kalkulusnya, yang jujur dengan melihatnya saja mata gue langsung berkunang kunang.

"What? No!" Geleng gue, berusaha menghindari kemarahannya.

"Ask for his forgiveness you idiot!" Bisik bella pada gue, dengan sedikit melotot.

"No dude im not doing anything!" Geleng gue, balas berbisik juga. Minta maaf apanya? Daritadi gue nggak berbuat apa apa, kok!

"Yazawa, kemari" panggil Mr. Ethan, yang membuat barisan sebelah melihat gue dengan mata yang melotot, mengisyaratkan gue untuk segera maju ke depan, atau gue harus memungut mata mereka satu persatu yang keburu jatuh lantaran gue nggak mengerjakan apa yang mereka isyaratkan.

"O... Kay..." Angguk gue ragu, kemudian berjalan kedekatnya.

"Tau kesalahanmu apa?" Tanyanya, yang langsung gue gelengi.

Kesalahan darimana, sih?! Daritadi gue diam saja!

"Sudah puas melamunnya?" Tanyanya lagi, membuat gue makin bingung.

"What?" Sahut gue, yang kali ini benar benar bingung, diikuti dengan anak sekelas yang menepuk dahinya seraya menatap gue, frustasi.

"Keluar sekarang, lari 15 putaran nggak pakai berhenti. Sekarang" perintahnya, yang membuat gue menggumamkan 'hah?!' Sekeras kerasnya.

"No!" Geleng gue, berusaha mencari perlindungan dari semua orang dikelas, yang hasilnya percuma. Semua bungkam, takut ikut dihukum juga.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 08, 2015 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Baka to test //c.hTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang