Part 7

40.1K 3K 115
                                    

Langit pagi beranjak siang ini seolah memayungi. Tidak begitu terik seperti biasanya, Teduh dengan angin bergerak lembut menggoyangkan padi - padi yang mulai menguning

Ihsan lelaki itu terlihat tidak baik. Pakaiannya penuh dengan lumpur, Sepertinya dia jatuh dari sekatan sawah ke sawah yang memang berlumpur karena selalu diairi agar padinya tumbuh subur

"Hey, aku heran kenapa kau bisa jatuh" Ujar Keira di sela tawanya

Ihsan lelaki itu tidak menggubris, Dia memilih meninggalkan Keira tanpa sepatah katapun menuju sungai yang ada di bawah tempat mereka berdiri

Keira mengikuti Ihsan, dia belum puas mengolok - ngolok lelaki ini yang selalu terlihat berwibawa di hadapannya. Apa yang menimpa Ustadz muda itu hari ini sangat lucu

"Ahh,andai aku punya handpone. Sudah aku photo keadaanmu dan aku share di media sosial" Celoteh Keira

Keira mengikuti langkah Ihsan, Sampailah mereka di sungai, Ihsan terlihat turun, Dia membuka kopiahnya dan Keira terperangah Ihsan tanpa ada kopiah di kepalanya pun tetap mempesona

Parjo terlihat duduk di atas batu besar tidak jauh dari mereka. Dia tidak membantu karena Ihsan tidak terlihat membutuhkan bantuan

Pandangan Keira tidak bisa ia lepaskan dari Ihsan. Lelaki ini mempesona dari segala sisi

"Tundukan pandanganmu" Tegur Ihsan

Keira terbelalak dia memalingkan wajahnya ke arah lain

"Bukankah sudah aku katakan, Realisasikan perasaanmu dengan benar"

Ihsan selesai membersihkan pakaiannya. Dia naik kembali ke atas sawah untuk kembali pulang tanpa menghiraukan Keira sama sekali

"Apa maksudnya? Dia pikir mudah mengungkapkan perasaan itu"

Keira berdiri dan beranjak dari sawah untuk kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya sebelum Dzuhur

Sesampainya di dapur terdengar obrolan yang ramai, Fatimah perempuan itu membuat suasana menjadi tidak membosankan perihal apapun yang dia bicarakan

Keira masuk dan tak lupa mengucapkan salam. Semua orang menjawab salamnya

Fatimah memberikan senyum manisnya tapi bagi Keira senyuman itu tetap saja terlihat mengesalkan

"Kamu Keira?" Tanya nya

Dia mempersilahkan Keira duduk di sampingnya, Pengurus dapur sedang mengupas bahan - bahan untuk memasak

"Iya saya" Jawab Keira singkat

"Bu Diah sudah menceritakannya, semoga betah disini yah" Ujar Fatimah begitu bersahabat

Keira hanya mengangguk saja, hatinya masih dongkol bahwa dia mempunyai saingan seberat dirinya

**

Setelah Dzuhur Keira langsung menuju ruangan dimana tempatnya belajar soal agama selama ini. Dari kejauhan dia melihat Humaira berbincang akrab dengan Fatimah

Kecemburuan mengerubungi Keira, kenapa perempuan itu selalu ada dimana - mana pekiknya dalam hati

Dia mempercepat langkahnya dengan wajah kesal dan menggerutu dalam hati sampai Brak Pintu yang akan dia buka terbuka dari dalam dan tepat mengenai kepala Keira

"Astagfirullah" Pekik Keira sambil mengusap keningnya yang lumayan sakit

Siapa seseorang yang membuka pintu ruangan tempatnya belajar

"Astagfirullah, peningkatan yang bagus, Jika kau mengatakan kata selain itu saya akan memberikanmu hukuman" Ujar seorang Ustadz muda pimpinan pesantren menatap Keira dengan tidak merasa bersalah

IhsanWhere stories live. Discover now