Prolog Jiwa

40 0 0
                                        

Ada apa dengan segala kemahuan, ketika yang terlalu aku butuhkan adalah segala keperluan. Keperluan yang meyakinkan aku untuk terus bernafas di bumi Tuhan. Setiap hari, jiwa ini meronta memerlukan ruang, untuk terus tetap teguh berdiri. Adakalanya jatuh dan tersungkur. Semangat yang tinggi berkobar ketika terbitnya fajar, adakalanya lesap di persimpangan penghujung ufuk mentari. Aku selalu sangsi akan segala kemampuan diri, tetapi, ternyata, aku masih lagi bernafas di bumi Tuhan. Tanpa sangsi, Tuhan menawarkan keizinanNya kepadaku untuk selalu bangkit setelah tersungkur, dan aku bersyukur. Aku bersyukur, ketika aku tidak punya siapa-siapa di sisi untuk meneruskan langkah yang telah longlai, aku masih ada Dia.

Seketika Terbitnya Fajar

Sendiriannya aku tatkala heningnya suasana malam,
Jauh dari segala nada keluhan dunia,
Sungguh,
Aku lelah,
Aku lelah untuk sentiasa terlihat perkasa di bumi Tuhan.

Di siangnya mentari,
aku melayani segala sandiwara dunia
Tetapi,
Ketika heningnya malam tiba,
Aku mengadu kepada Sang Tuhan,
Jiwaku menangis, merintih.
Sungguh,
Aku terlalu lelah dengan segala sifatnya manusia di dunia.

Seketika beredar larutnya malam,
Ada suatu saat yang tetap aku nantikan,
Saat itulah,
Yang tetap menjadikan aku untuk terus bangkit,
Menjadikan aku untuk terus mengorak langkah dan tidak rapuh,
Saat itulah,
Yang memberikan aku ruang,
Untuk terus membuka helaian hidup yang baharu,
Tanpa adanya sandiwara manusia.

Saat itu adalah,
Seketika terbitnya fajar.

Seketika terbitnya fajar, aku menghela nafas yang baharu untuk aku terus bernyawa di bumi Tuhan.

Seketika terbitnya fajar juga, aku berjanji kepada diriku,
Bahwa aku,
Tidak akan pernah menyerah.

         Nur

Seketika Terbitnya FajarWhere stories live. Discover now