53. Kecewa

1.5K 70 0
                                    


              Comeback nih:)
Jgn lupa vote and coment!

Happy reading.

Semua informasi tentang Naura dan si cewek itu lagi dekat sama cowok lain, sudah Marco dapatkan infonya secepatnya mungkin. Meski, Marco yang sudah membuat bibir Bara menjadi lebam, itu sebagai bentuk kepeduliannya terhadap sahabat lamanya. Aneh bukan kepedulian Marco kepada Bara?

Cowok itu tersenyum puas melihat semua informasi yang didapat, tak sia-sia emang hasilnya. Sangat memuaskan! Dia sangat yakin, kalau sahabatnya itu bakalan meledakkan emosinya. Marco anggap Bara itu bego, karena masih mempertahankan hubungan yang sudah lama terjalin dan berujung sia-sia.

"Maaf, lama menunggu," sesal Bara, setelah itu ia menarik kursi dan duduk di depan sang sahabat.

Marco tersenyum tipis, ia tahu kalau sahabatnya ini sangat sibuk. Jadi ia cukup memaklumi saja. "No problem."

"Sebelum gue jelasin semuanya. Mending lo pesan apa aja di cafe gue ini," titah Marco sembari menyedot minumannya.

"Gratis kok," tambahnya seraya terkekeh kecil.

"Lo pikir gue gak bisa bayar?" Bara tersenyum remeh kepada Marco.

"Sorry. Kita kan sudah bersahabat juga jadi bebas lo mau pesan apa aja yang lo mau. Asal jangan cari cewek baru aja," canda Marco di selingi dengan tawa renyahnya, sedangkan Bara menatap datar sang sahabat yang mulutnya seperti cewek.

"Sialan lo!" maki Bara sambil membuka buku menu makanan lalu memesannya, setelah pelayan cafe datang menghampiri kedua cowok itu. Pelayan itupun mengangguk patuh, melenggang pergi untuk mengambil pesanan Bara.

"Jadi, mana semua buktinya?" tanya Bara tak tahan lagi untuk segera mengetahui semua bukti yang didapat dari sang sahabat.

"Gue nggak yakin, kalau lo akan bersikap tenang. Setelah mengetahui semua bukti yang gue dapat," sahut Marco tersenyum miris, miris kenapa bisa sahabatnya ini sangat bodoh dan akhlakless?

Bara menghela napasnya sejenak. "Nggak usah banyak drama!" lanjutnya yang mulai tersulut emosi.

"Cepetan!"

Marco berdecak sebal, sahabatnya ini bukan hanya cuek tetapi juga pemaksa. "Iya, nih." Marco menyodorkan handphonenya, karena semua bukti ada di sana. Seketika Bara menaikkan satu alisnya, bingung. Tak urung ia mengambil handphone Marco melihat semua bukti tentang Naura.

Prak!

Handphone Marco dibanting keras oleh Bara tepat dilantai cafe. Marco tak bisa berkata apa-apa lagi, setelah melihat handphonenya yang menjadi korban kemarahan dari sahabatnya itu. Sungguh, malang bagi Marco.

"Oh my God! Hp gue!" pekik Marco berteriak heboh, kemudian ia melangkahkan kakinya untuk mengambil handphone malangnya.

"Arrgghhh ...." Bara mengerang, mengacak rambutnya frustasi. Perasaan marah, kesal, sedih, kecewa semuanya bercampur jadi satu. Bara terduduk lemas dan menunduk sedih,  mengetahui semua bukti yang ada.

"Yeeayy ... hp gue masih hidup," seru Marco setelah mendapatkan handphonenya masih hidup. "Walau retak," sambungnya menekuk wajahnya, ia kembali mendekati Bara yang terlihat begitu sedih dan emosi secara bersamaan.

Menepuk pundak Bara dengan pelan, berusaha menenangkan emosi yang menggebu-gebu dari sang sahabat. "But, i don't know. What's you do it to the next, Bro."

Mendongak, Bara menatap sendu wajah sang sahabat. Tatapannya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Melihat wajah sendu Bara, membuat Marco iba sekaligus menghela napasnya.

Married With CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang