[1] Invitation

4 2 3
                                    

Sambungan telfon masih tersambung sejak malam tadi, Raven tertidur setelah menangis kencang karena tokoh utama di novel yang dia baca berakhir di dalam tanah. Dan Kaira menemaninya semalam, mendengarkan isakan dan ocehan Raven yang entah membahas apa. Dia mengantuk, matanya bengkak, memunculkan lingkaran hitam di sekitar matanya.

“Gue matiin ya telfonnya, mau mandi.”

“Iyaa, gue juga pengen tidur lagi, ngantuk gue dengerin lu nangis semaleman cuma gara-gara karakter fiksi lu mati.”

Raven mendecih sebagai jawaban, dia memutuskan sambungan telfon secara sepihak. Lalu, beranjak dari kasur nya untuk melanjutkan kegiatan paginya. Mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi karena ulah Kaira.

🧚🏻‍♀️

Ini adalah kali pertama Raven mengabiskan akhir pekannya dengan tenang, tanpa ada pesan masuk yang memaksanya meninggalkan kasur hanya untuk menyelesaikan tugas kelompok yang menumpuk, sangat damai.

“Ven, mama mau ke arisan, ikut yuk. Kamu beres-beres yaa. Cepetan, mama sama papa tungguin di mobil.” Atau mungkin… tidak ada hari libur yang damai.

Raven yang mendengar itu langsung menggerutu, lalu menendang-nendang angin karena kesal. “Ckk, baru mau tidur.” Raven beranjak dari kasur untuk merapihkan baju nya.

🧚🏻‍♀️

“Hai, jeng. Kok lama banget sih datengnya.” Mama menjabat tangan temannya lalu mereka… saling mencium pipi? Apalah itu Raven tidak tau. “Ih biasa atuh ini nungguin princess rapih-rapih, lama.” Tangan Raven ditarik untuk berhadapan dengan sang tuan rumah. Raven menyaliminya, sebagai tanda hormat.

“MasyaAllah, cantik banget anaknya, jeng. Siapa namanya?” Mama merangkul bahunya, merapatkan jarak di antara ibu dan anak tersebut. “Namanya Raven, bisa kali kenalin sama anakmu.” Kedua pelaku sosialita tertawa lepas, bercanda. “Duh kamu tuh bisa aja deh. Monggo duduk dulu.” Akhirnya, Raven duduk juga.

Tidak peduli dengan keadaan sekitar, Raven mengeluarkan buku novel barunya, lalu membaca lembaran pertama buku tersebut dangan tenang. Suara hiruk pikuk keramaian terjadi tatkala anak tuan rumah keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapih, menyapa semua tamu undangan. Raven tidak peduli, dia melanjutkan acara membacanya di ujung sofa.

Tangannya di guncang oleh sang papa yang berada di sampingnya, merubah atensi Raven untuk melihat ke arah ayahnya, memunculkan tanda tanya di muka Raven. “Tuh, mama daritadi manggil kamu.” Tangan papanya terulur untuk menunjuk keberadaan mamanya, melihat tangan mama yang terkibas-kibas menyuruh Raven untuk menghampirinya.

Pembahasan yang sebenernya Raven hindari dari hidupnya. Perjodohan ibu-ibu. “Ih kamu namanya Rion ya? Mau ga sama anak tante aja? Cantik loh.” Lalu, “Ih, gabisa gitu dong, jeng. Aku udh janji duluan sama Jeng Win, Rion maunya sama Clarissa atau Lily, sayang?” Dan terus berlanjut. Mama hanya diam memperhatikan, sampai..

“Jeng Flora, si Raven jangan di jodohin ya sama Rion, soalnya anak saya udah duluan.” Mama langsung tertawa, seperti mengejek. “Lagian anak saya belum tentu mau di jodohin sama Rion.” Raven harus berterima kasih dengan ucapan bundanya, ‘Makasih, ma. Love you tritauzen.’

Raven terkekeh, untuknya sangat lucu melihat muka teman-teman mama yang terlihat jengkel. Dia juga baru menyadari, cowo dihadapannya terus melihat ke arah dia. Ada yang aneh di tubuh gue ya?

🧚🏻‍♀️

“Raven, tadi cowonya ganteng ya?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut mamanya. Dia menggeleng, tanda tidak setuju dengan bundanya, “Engga, biasa aja.”

Mama mendecih, kesal dengan jawaban anaknya, dia mengulurkan tangannya. Memberikan semacam undangan makan malam. “Kamu diajak Rion makan malam sama anak-anak yang tadi, kamu sibuk baca novel, jadi dia titipin ke mama.” Raven mengambilnya tanpa mengalihkan fokusnya dari buku novel ditangan kirinya.

🧚🏻‍♀️

Dia membuka surat undangan tersebut, menyadari nama panjangnya terpampang di surat tersebut. Sejak kapan Rion tau nama panjangnya? Raven mengernyitkan dahinya, terlalu bingung dengan hal yang baru saja ada di benaknya. Berpikir, mungkin saja mamanya yang memberi tau.

🧚🏻‍♀️

Dengan surat ini, saya Rion Agha Sadipta mengundang Ravennya Raespati untuk makan malam bersama di Table8.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 19, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HOME;RUN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang