Oneshoot - "Dia"

14 0 0
                                    

[Part 02-02]

{If I can then I can say 'I erase you'
I know,
I won't be able to erase
Because those memories are too perfect to me} -Can you hear my heart-

Angel Eyes.

Bisakah kau kembali pada kami untuk memperbaiki ini semua?
---
Langit yang cerah menghiasi senyuman kami, seperti tanpa beban, menjalani hidup yang tak bisa dibilang baik-baik saja. Berusaha untuk melupakan, namun ada rasa tak rela, ketika melihatnya hilang begitu saja ditengah kebahagiaan yang baru saja kami raih. Apa kami terlalu berlebihan untuk sekedar merelakanmu pergi? Apakah kami terlalu dramatis dalam semua hal yang selama 10 tahun ini kami lakukan? Bukan karena kau, tapi karena ego kami sendiri. Kami selalu menyalahkanmu karena tak membiarkan kami hidup dengan tenang, tapi apa kau pernah sekali pun datang dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja? Karena semua yang tak pernah jelas, tanpa klarifikasi, semuanya terlihat semu dan kami yang membiarkanmu tersiksa di alam ketenangan.

Farah
"Ayo bertemu, lupakan semuanya seperti kita tak pernah mengalaminya"

"Kau gila? Kau merelakan dia begitu saja?"

"Tidak, aku yakin bukan dia penyebabnya, bukan audy yang bikin dia mati. Tolong, kita udah dewasa, kita sendiri tau kalau bukan audy yang bikin dia mati, tapi ego kalian semua yang terus menuntut bahwa audy penyebabnya"

Aku terdiam. Dia benar. Irsyad benar. Kurasa kami semua juga tau, bahwa bukan audy penyebabnya, maka itu kami tak pernah menyalahkannya dalam hati, namun ego kami yang selalu menyalahkannya
dan menjadikannya seorang pengkhianat tanpa pernah ia katakan dengan sejujurnya. Mungkin ini saatnya. Untuk membuka kembali hati kami. Walaupun itu berarti merelakannya sepenuhnya.

Vivian
"Aku belum sanggup ketemu kalian"

"Emang napa? Kan kita sahabat.."

"Karena...aku belum merelakannya"

"Jadi menurutmu kami udah relakan dia? Mungkin kau salah, kami juga belum relain dia, tapi kami pengen buat dia tenang di alam sana, lagian selain dia, kita semua ga pernah tenang selama 10 tahun ini, jadi jangan salahkan siapa-siapa lagi"

Setelah 10 tahun, aku menyadari, bahwa kami semua menjadi dewasa, termasuk alief. Ya, dia yang bicara tadi. Sebenarnya kami tak benar-benar menjauh, kami masih memiliki kontak masing-masing, kami masih berkomunikasi ketika tanggal menunjukkan tanggal kematiannya, kami selalu bertemu tiap setahun sekali, namun kami selalu menghindari satu nama, Audy. Terlalu kekanakan sebenarnya. Terlalu klise untuk didengar dan terlalu unik untuk diceritakan.

Evan
Mungkin ini sedikit aneh, tapi serius, aku pengen kita balik kaya dulu, ya mungkin dulu kita yang terlalu kekanakan dan agak nggak masuk akal sampai mengira anak umur 15 tahun yang notabene merupakan SAHABAT kami sendiri membunuh "DIA". Iya, Dia, dia yang meninggal di depan mata sahabatnya sendiri.

2014.
Sebercak darah mulai mengenai tangan pucatnya, menjalar ke seluruh mukanya, hingga seluruh tubuhnya. DIA yang kami temukan di dekat jurang dengan darah yang terus menetes. Tanpa ginjal maupun hati--pembunuhan dengan motif penjualan organ tubuh.

Sepele. Semua yang dianggap sepele, menjadi sebuah bencana.

"Karena aku percaya sama lu"
"Maksudnya?"
"Maafkan aku, aku tak kuat hidup dengan semua ini, semua yang kulalui sia-sia. Untuk apa aku hidup?"
"Untuk kami"
"Kalian tak akan mengerti"
"Kami mengerti, aku mengerti dan kami semua akan mengerti, tapi tolong jelaskan apa yang terjadi"

DIA mati, sebelum mencoba untuk bunuh diri. Ck, kematian yang cukup tragis. Dia mati di hadapanku. Tanpa aba-aba. Dan dibuang kesungai, di depan mataku sendiri. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Hanya melihatnya. Sahabat macam apa aku ini.
Dia meninggal tanpa memberi tahu apa yang ia bicarakan. Meninggalkan kami semua dengan kediaman tanpa akhir. Mungkin karena aku, Audy. Aku penyebab dia mati. Aku membunuhnya sebelum dia dibunuh oleh pembunuh tingkat atas itu. Membunuhnya dengan memberikan obat-obatan itu.

Ya--mungkin tak ada yang menyangka, bahwa aku mengetahui segala jenis obat yang diminumnya, 7 jenis obat penghilang rasa sakit; sejenis neuralgin,fentanyl atau obat jenis lainnya yang tak kumengerti untuk apa. Dan tak ada yang menyangka, bahwa aku menukarkan obatnya yang dikonsumsinya pada malam hari menjadi obat tidur,agar ia bisa tidur di malam hari dan tak ada yang mengetahui sakit yang ia rasakan. Separah itukah aku? Hingga membuatnya ingin bunuh diri di depan mataku sendiri.

"Ditemukan mayat gadis berumur 15 tahun di tepi sungai,Bali. Jenazah korban telah di evakuasi dan masih belum jelas penyebabnya, tak ada saksi mata yang melihat kejadian ini. Tim kepolisian menduga gadis berumur 15 tahun ini meninggal akibat motif pembunuhan, dan kami masih mencari siapa pembunuhnya"

Berita bodoh. "Menduga" adalah hal yang pas untuk perempuan yang sudah tidak memiliki ginjal dan hati lagi. Tak ada saksi mata, jelas. Kami menelantarkannya sendiri di tepi sungai, tanpa mau peduli dan hanya menganggap segalanya sepele. Tipuan belaka, hal yang dianggap seperti itu. Namun pada kenyataannya, ketika semua orang terbangun dari mimpinya, mereka sadar. Apa yang mereka perbuat adalah kenyataan yang terjadi. Dan tak ada yang bisa kami perbuat selain melarikan diri dan pulang ke rumah kami masing-masing. Menyakitkan memang, tapi itulah kenyataannya.

Bagaimanakah keadaan keluarganya? Entahlah. Kami sudah cukup menderita tanpa harus mendengar semua keluhan keluarganya. Egois bukan? Kami. Alief, Audy, Evan, Farah, Irsyad, Vivian. Tanpa seorang "DIA" dihidup kami lagi. 7 orang yang secara perlahan berubah menjadi 6 orang, dan pada akhirnya kami semua tak bersama-sama lagi. Cukup mudah, hal yang mungkin dianggap sepele. Yang bisa diselesaikan dengan jari kelingking, hanya segampang itu.

Itu yang ada dipikiran kami, dan sebenarnya semua orang pun tahu, anak sekecil kami tak bisa menyelesaikan masalah pembunuhan keji itu. Bagaimana bisa aku mencoba untuk lari sewaktu aku melihatnya disiksa oleh orang lain? Melihat organnya yang diambil dengan darah yang terus mengalir dan pembunuhnya dengan gampangnya hanya mengeluarkan pisau murahan, sarung tangan agar sidik jarinya tak terdeteksi. Cukup pintar.

Tapi satu hal yang aku tahu, kami takkan pernah kembali bersama. Karena kami tak bisa melihat mata malaikat itu lagi. Semuanya hancur, dan yang kembali kuingat adalah janji kami. Untuk selalu bersama. Sekarang karena DIA telah tiada, kami akan selalu berada di dalam hatinya, mendoakannya, merelakannya, walaupun kami takkan bersama lagi. Seperti janji kami. Ketika satu orang meninggalkan kami, tak ada persahabatan yang bisa kami tempuh kembali. Aku yakin, suatu saat ketika kami benar-benar merelakanmu, disaat itulah kami akan menjadi sosok yang biasanya. Disaat itulah kami akan menemukan orang yang akan menjadi masa depan kami. Seseorang yang mungkin bisa menyebuhkan kesedihan ini.

Tapi, ada satu pesan untukmu.
Bahwa kau akan selalu ada di hati kami, walaupun kami takkan bisa menjadi sahabat lagi. Dan tak ada yang bisa menghentikannya. Sesuai dengan janji kami. Dan ingatlah, untuk jalan terus kedepan, dan kau akan menemukan alasan, kenapa semua hal didunia ini bisa terjadi.

END
THANKYOU FOR ALL SUPPORT,
slpastelz❤️

-------------------------
Note; neuralgin,fentanyl itu adalah semacam obat untuk penghilang rasa nyeri. Sebenarnya random aja ngambilnya. Dan cr;google^^ Sorry ya kalau endingnya ga memuaskan:')

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 03, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Angel EyesWhere stories live. Discover now