Cuaca siang itu benar-benar terik, membuat seorang wanita yang baru saja menginjakan kaki di kota kelahirannya, terpaksa memakai kacamata-nya.
"Ini lebih panas dari yang ku ingat," ia menarik koper berukuran sedang yang di bawanya. Dia memang tak ingin berlama-lama di kota ini, masih banyak hal yang mesti dia selesaikan.
Ia sudah lama tak melakukan perjalanan melebihi 1 jam karna itu ia merasa begitu lelah. Di kepalanya sudah terancang rencana sempurna, untuk tidur di rumahnya. Ngomong-ngomong soal rumah, dia jadi kangen dan ingin cepat sampai.
"Taxi!"
Ia menyetop salah satu taksi yang tersedia di bandara. Dengan cepat ia masuk setelah membuka pintunya, badannya benar-benar lelah dan ia ingin beristirahat sejenak di taksi.
"Ini taksiku!"
Belum-belum ia sudah di hadapkan pada satu lelaki yang ikut masuk ke taksi yang tadi di panggilnya.
Ia mendengus, "Tak bisa, aku dulu yang memanggilnya. Jadi, ini taksiku!"
Lelaki itu memandang datar kemudian mengangkat tasnya yang tak terlalu besar, dan melemparnya ke arah gadis tadi.
"Aduh!"
Ringisnya ketika tas itu menimpanya, lelaki sialan.
"Minggir, ini taksiku. Lebih, baik kau cari yang lain."
Ayolah, dia cukup lelah dan sekarang ia harus berkelahi untuk taksi yang sudah di panggilnya?
"Pak, tolong usir lelaki ini. Saya yang naik taksi Bapak duluan."
Daripada menanggapi lelaki setengah gila di sampingnya, lebih baik ia berbicara dengan supir taksi ini.
Sang supir memandang bingung ke dua orang berbeda gender itu, bagaimana bisa mereka berkelahi padahal sudah sama-sama dewasa?
"Mas, Mba. Tolong jangan ribut, saya jadi pusing."
"Udah Pak, gak usah pusing-pusing. Tinggal usir saja wanita ini dari sini."
Ucapan lelaki itu membuat sosok wanita itu melotot. "Kau yang harusnya pergi, jelas-jelas aku duluan yang berada disini."
"Aku!"
"Aku!"
Sahut keduanya bersamaan, mereka sama-sama saling melotot. Pandangan mereka mengisyaratkan rasa kesal yang jelas terlihat.
"Sudah-sudah Mas, Mba. Lebih baik Mas sama Mba sebutkan arah mana yang dituju. Tempat terjauhlah yang nanti akan saya pilih. Bagaimana?"
Wanita itu mendengus, "Tentu saja saya, Pak. Antar ke Jalan Pelita No.52 Pak."
Supir taksi itu mengangguk, "Wah! Jauh juga lokasi Mba, gimana sama Mas?"
"Ngapain dia juga ditanya sih Pak, dia pasti gak sejauh saya. Mending antar saya aja."
"Gak bisa begitu Mba, saya harus adil."
Jawaban itu membuat wanita itu mendengus dan mengalihkan tatapannya ke arah jendela.
"Jalan Pelita No.52 Pak."
Supir taksi dan wanita itu sama-sama memandang kaget ke lelaki yang baru bersuara tadi.
Loh?
"Alamatnya kok sama?"
"Iya Pak, itu rumah mertua saya-" lelaki itu melirik ke wanita yang kini mendengus, "Dan Mba-mba galak ini istri saya."
Supir taksi itu menggeleng, "Lah, kalau memang suami istri kenapa pake rebutan segala sih Mba, Mas? Aneh-aneh aja."
Setelah itu taksi pun melaju dalam keheningan, dua orang penumpang yang memilih bungkam satu sama lain. Akhirnya membuat sang supir taksi ikutan menjadi diam juga.
YOU ARE READING
Notes (Complete)
Short StoryKumpulan cerita pendek Tzuyu dengan beberapa 'pemain pendukung'
