Dua orang gadis tengah menikmati jus, di cuaca yang terik ini Arin mengajak Tzuyu untuk membeli minuman yang katanya bisa membuat rasa gerah itu menghilang. Ternyata itu cuma alasan, karna yang sesungguhnya Arin mau melihat lelaki yang disukainya.
Tzuyu masih menunggu gerbang dihadapannya terbuka karna dengan begitu ia bisa langsung pulang ke Rumahnya. "Masih lima menit lagi, Tzu."
Arin padahak tak fokus dengan Tzuyu tapi ia tahu kalau sedari teman yang dipaksanya untuk ikut ini, ingin segera pulang.
"Kalau lima menit lagi gerbang itu tak terbuka, maka aku akan pulang."
Arin tertawa, Tzuyu sudah mengatakan hal yang sama dari setengah jam yang lalu dan buktinya gadis itu masih saja menemaninya.
"Iya, eh... itu di buka."
Wajah Arin langsung tersenyum bahagia sementara Tzuyu menatap ke arah depan dengan malas. "Yang itu Tzu!"
Arin menepuk pundak Tzuyu dan menunjuk ke arah kerumunan laki-laki. Tzuyu menatap Arin dengan bingung. "Yang mana?"
"Itu yang lagi tertawa dengan temannya."
Tzuyu mengangguk, selera Arin lumayan juga.
"Ganteng kan?" Arin langsung menghadap Tzuyu menunggu pendapatnya, "Iya ganteng, jadi aku udah boleh pulang kan?"
"Ih, Tzuyu!"
Tzuyu tertawa mendengar rengekan Arin, keduanya tak menyadari kalau sejak tadi sudah menjadi pusat perhatian hampir seluruh siswa yang mau pulang.
"Loh, bukannya itu Arin yang lagi dekat denganmu?" Lelaki itu mengangguk. "Kalau disebelahnya?"
------------------------------------------------------------------
"Rumahmu dekat sini?"
Tzuyu langsung memutar tubuhnya karna kaget, "Astaga! Siapa sih, ngagetin tau ga-"
Tenggorokan Tzuyu tercekat, dihadapannya berdiri laki-laki yang kemarin ditunjuk Arin sebagai orang yang disukainya. "Ka-kau!"
Lelaki itu tersenyum, "Iya, namaku Renjun. Namamu?"
Tzuyu mendengus, kemudian keluar dari minimarket. Niatnya untuk membeli cemilan menghilang ketika lelaki itu datang. Tzuyu cuma tak mau kalau Arin akan salah paham. Lagian kenapa juga sih mesti ketemu dia?
Dia membalikan tubuhnya bermaksud untuk mengintip tapi yang dilihatnya justru Renjun yang melambai padanya sambil tersenyum.
Tzuyu melotot kemudian berbalik membuat Renjun terbahak-bahak. Tingkah gadis itu benar-benar lucu.
Mulai sekarang Tzuyu akan mencoret minimarket iti sebagai tempat favorit-nya. Dia tak masalah kehilangan tempat membeli jajanan dengan harga yang murah daripada kehilangan teman sebaik Arin. Pokoknya Tzuyu tak mau lagi bertemu lelaki tadi.
------------------------------------------------------------------
"Hai, ketemu lagi."
Tzuyu yang tengah mencari tempat berteduh jadi kesal, kenapa sih mesti ketemu dia lagi?
Mau pindah tapi hujan malah semakin deras, mau tak mau dia terpaksa bertahan disana.
Byurr!
Suara air yang baru saja menciprat rok Tzuyu mengundang tatapan orang-orang yang ada disana. Tzuyu masih shock, kemudian wajahnya memerah karna kesal namun tiba-tiba menjadi terlihat ingin menangis.
Renjun tak bisa menahan tawanya dan itu diketahui Tzuyu dengan wajah yang kini menahan tangis. "Apa yang kau tertawakan?"
Bibirnya mengerucut dengan mata yang terlihat mulai berkaca-kaca. Renjun menggeleng panik, "Ja-jangan menangis."
YOU ARE READING
Notes (Complete)
Short StoryKumpulan cerita pendek Tzuyu dengan beberapa 'pemain pendukung'
