Day 379

418 56 4
                                    

Langkah panjangnya terhenti di seberang gedung mewah di hadapan. Minghao menatap bangunan besar yang satu tahun lalu hampir setiap hari ia datangi. Rumah sakit yang menjadi tempat satu satunya bagi ia dan Bunda bertemu, di waktu pertama dan untuk terakhir kalinya.

Senyum yang perlahan turun di wajah Minghao bersamaan dengan kakinya yang secara bertahap maju, meninggalkan gedung megah itu. Tangannya sesekali—untuk ke sekian kali terangkat bersama ponsel layar sentuhnya. Namun lagi lagi, apa yang ia tunggu tak datang hari ini.

Wonwoo sudah hilang selama beberapa waktu. Hanya mengabari seperlunya. Minghao tahu bahwa mahasiswa Kedokteran itu pasti sibuk luar biasa, namun hanya saja terasa sayang jika komunikasi malah hilang.

Si manis yang sejak pagi berkeliling kota untuk memeriksa dan Survey kamar inde kosnya sekarang tiba di rumah. Setelah sepekan mencari dan memilah, ia akhirnya dapat tempat yang pas untuk di jadikan tempat tinggal. Kamar yang cukup untuk dirinya, tak jauh dari kampus tempat belajarnya, juga harga yang nyaman untuk kantongnya.

Taksi yang mengantar Minghao ke rumah berlalu setelah lelaki yang hampir kepala 2 itu turun dan duduk di halaman rumah. Bersama tas gendong kecil yang sejak berangkat ia simpan di pundak, Minghao duduk menatap ponselnya di halaman depan rumah Mingyu.

Di hubunginya sang pemilik kamar, memberi kabar bahwa Minghao akan pindah besok lusa setelah bebenah dan membereskan barang barang. Ia dan ibu kos itu pun menyepakati harga yang akan segera Minghao bayar. Beruntung, Minghao dapat potongan!

Saat sedang asik dengan ponselnya, secara mengejutkan panggilan masuk yang tak Minghao duga datang. Nama sang pacar terpampang, dengan senyum sumringahnya Minghao menggeser tombol untuk mengangkat dan mendengar suara Wonwoo di balik telefonnya.

"Nonuuu!" Jerit Minghao senang.

Ia buru buru berdiri. Tak lupa tas gendong coklatnya ia ajak pergi. Berjalan ke pintu utama sambil berbincang dan bertukar kabar. Suara yang Minghao rindukan itu, akhirnya kembali! Wonwoo menyapanya tak kalah semangat.

"Nu, Aku ada kabar baik!"

"Hm? Oh ya? Good for you."

"Iyaa! Jadi ak—"

"Aku jarang ngabarin kamu ya sayang? sorry ya, I'm kinda bussy these days."

"No, It's okay. Aku ngerti."

"Thankyou."

"Anyway aku belum bilang kan kalo aku mau—"

"Hao, hao. Sayangku. Aku lagi di luar, Katingku wisuda. And we have some party for it, so i should go. Can we talk another time?"

"Hng? Kating mu yang mana?"

"Nanti aku cerita ya."

"Okayy, Call me tonight ya?"

"Maybe not tonight, but i call you later sayang. Byee."

Namun ternyata langkah terburu buru Minghao dari pintu depan ke kamarnya di lantai dua sia sia. Panggilan mereka berakhir bahkan sebelum Minghao menggapai gagang pintu kamar untuk membukanya. Wonwoo bilang ia sedang hadir di wisuda salah satu kakak tingkatnya, ia juga mengabari Minghao bahwa Wonwoo tak bisa melanjutkan obrolan nanti malam. Katanya, Kemungkinan Wonwoo masih di luar.

Ya, kalian jelas baca.

Kecewa namun tak Minghao ambil pusing. Ia harusnya bersyukur Wonwoo baik baik saja. Bahkan tadi, Panggilan sayang terus terdengar dari mulutnya. Setidaknya Minghao tahu, Bahwa ia dan Wonwoo masih akan terus bersama.

.
.
.

Lari kecil penuh semangat datang dari si manis yang mulai turun melewati tangga. Berjalan senang ke arah ruang makan dimana orang yang ia tunggu sedari sore akhirnya datang.

Five Years Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang