2

71.6K 75 1
                                    

Pakde hari ini tidak ke sawah, sebab dia sedang kurang enak badan. Aku yang khawatir dengan kondisi Pakde ku memilih untuk menjaga Pakde hari ini di rumah.

Aku merawat serta menjaga Pakde ku dengan setulus hati, aku benar-benar menyayangi Pakde ku. Sebab, hanya tersisa Pakde saja yang aku punya.

"Pakde, makan dulu sedikit."
"Iya rin, taruh saja di meja nanti Pakde keluar makan."

Aku berdiri di depan pintu, memanggil Pakde untuk makan. Dari pagi Pakde tidak memiliki nafsu makan, membuatku menjadi khawatir.

Aku dengan susah payah membujuk Pakde agar dia mau untuk makan siang, meski aku harus membujuk setengah jam di depan pintu.

"Yasudah, kalau pakde butuh sesuatu panggil aku."

Ucapku sebelum kembali ke kamar, aku pun memilih untuk kembali ke kamar mengambil handuk. Aku harus membersihkan diriku, sebab dari pagi setelah mengurus rumah. Aku belum juga mandi, aku meraih handuk.

Aku pun lanjut ke kamar mandi, di kamar mandi aku keramas membersihkan tubuhku yang penuh dengan keringat.

Selesai mandi, aku segera keluar. Saat melewati ruang makan yang berdekatan dengan kamar mandi, aku tersentak. Melihat Pakde yang terkejut sambil memandangiku yang terlilit handuk dengan rambut panjang basah yang terurai.

"Pakde."

Aku canggung sambil memanggilnya, Pakde tak bicara dia segera melihat kembali piring makanannya. Aku dengan cepat, melangkah masuk ke kamarku.

"Hah, bodoh. ngapain aku tadi lupa bawa penutup punggungku." ujarku sambil berdebar memegangi dadaku.

Aku mandi biasanya memakai handuk dan penutup untuk punggungku, entah mengapa tadi aku bisa lupa. Aku pun berusaha untuk tidak perduli, sebisa mungkin aku mengeringkan kembali badanku. Lalu bergegas memakai semua pakaianku.

Aku memilih istirahat di kamar, sebelum nanti sore membersihkan rumahku lagi.

______________________________________________

#Sore Hari

Aku terbangun dari tidurku, ku raih jam kecil di meja kecilku yang ada di kamar. Waktu menunjukkan pukul 04.00, aku segera bangun lalu keluar dari kamar.

Aku melihat suasana rumah begitu sepi, aku pandangi kamar Pakde yang berhadapan dengan pintu kamarku. Sepertinya Pakde sedang beristirahat, aku pun lanjut untuk beres-beres rumah.

Semua ku rapikan, sapu, cuci piring, masak nasi, mengepel lantai. Semua aku kerjakan, tanpa mengeluh. Hanya itu saja yang aku bisa kerjakan, untuk membalas kebaikan Pakde yang mau menampung serta membiayai hidupku tanpa mengeluh.

Satu jam aku gunakan untuk bersih-bersih, aku kembali lagi untuk mandi. Keringat akibat bekerja membuatku kurang nyaman, aku membersihkan diriku dengan cepat.

Saat berjalan ingin masuk ke kamar, Pakde baru saja keluar dari kamarnya.

"Pakde, pakde butuh sesuatu?"
"Mau ambil air, air pakde sudah habis."

Aku meraih gelas kosong yang dipegangi Pakde, Pakde hanya diam melihat tingkah ku.

"Biar aku saja Pakde."

Setelah berbicara, aku yang masih memakai handuk segera pergi ke dapur mengambil segelas air untuk Pakde.

Aku kembali, dan ku lihat pintu kamar Pakde terbuka. Aku berjalan pelan lalu masuk ke kamar Pakde dengan handuk yang melilit dan juga punggungku yang tertutupi.

"Ini pakde."

Aku meletakkan gelas itu di meja rias Bukde ku semasa hidup.

"Makasih rin.,"
"Sama-sama Pakde, kalau butuh sesuatu lagi panggil aku."

Aku pun melangkah pergi dengan Pakde yang kembali melanjutkan tidurnya.

PAKDEWhere stories live. Discover now